Memulai berumah tangga adalah sesuatu hal yang menakjubkan untuk di lakukan. Sesuatu yang sangat spesial dalam hidupku. Berumah tangga dan mulai hidup bersama. Aku mulai mengenal suami dan keluarganya serta cara kehidupan mereka. Dimulai dari ibu mertua. Sebelum menikah, aku telah lebih dulu mengenal beliau. Mengenal beliau saat sering ikut shalat tarawih di mushala.
Seringnya bertemu membuat kami menjadi kenal satu sama lainnya. Setelah menikah dengan anaknya pun, aku semakin dekat dengannya. Keegoan dari sikap dan sifat masing-masing mulai terlihat. Beliau memang seorang ibu yang luarbiasa. Meski kadang sedikit egois, tapi kasih sayangnya tak pandang bulu. Aku yang hanya seorang menantu, selalu bak ratu yang diperhatikan dengan baik. Saat ingin berhenti kerja karena hamil, dia selalu berusaha untuk membujukku agar tetap bekerja. Alasannya karena pekerjaan suamiku yang tidak tetap. Tetapi meski terdengar egois, beliau selalu memberikan perhatiannya padaku layaknya anak sendiri. Sampai aku melahirkan seorang anak perempuan, dia selalu memperhatikan aku juga putriku.
Banyak yang bilang, jika ibu mertua itu jahat, egois dan super cerewet. Pasti banyak cekcok dan pertengkaran karena perbedaan yang mencolok antara menantu dan mertua perempuan. Tadinya iya, rasanya perbedaan pendapat, komunikasi yang sulit karena faktor usia, belum lagi adat dan budaya kami berbeda, selalu membuatku salah paham dengan beliau. Tapi semakin dipahami sikap dan sifatnya, justru akulah yang harus malu. Kesabaran dan pergaulannya sungguh terpuji. Beliau memang tidak pernah tamat sekolah dasar dan tidak pernah melanjutkan sekolah lagi karena sejak umur lima tahun telah yatim--piatu. Tetapi terkadang pola pikirnya sama dengan orang-orang yang bersekolah menengah atas.
Kepandaiannya memasak, mengolah makanan tidak bermutu atau tidak menggiurkan menjadi masakan enak. Ada lagi sesuatu yang selalu aku kagumi dari dirinya, salat lima waktu dan mengikuti pengajian di majelis taklim, dia tidak pernah absen. Memakai hijab dan pakaian sangatlah sopan dan indah, baik di dalam rumah atau di luar rumah, hijab dan pakaian gamisnya tidak pernah ditanggalkan. Hanya dalam kamar pribadinya dan mencuci saja, beliau memakai baju berlengan pendek dan celana panjang.
Dari segi berpakaian, ibu mertuaku sudah sangat syar'i. Dari segi rukun islam, ibu mertuaku sudah menjalankannya dengan baik dan benar. Sayangnya rukun islam kelima, beliau masih belum mampu dikarenakan biaya. Aku sebenarnya ingin sekali membantu mengantarkannya ke tanah suci. Tetapi, masih terkendala dengan biaya hidup sehari-hari, suamiku hanya bekerja serabutan. Bukannya suami tidak bisa mencari yang lebih baik. Suamiku seorang yang bertanggung jawab, termasuk pada kehidupan kedua orang tuanya. Dia selalu berusaha membuat orang-orang yang dicintainy bahagia, termasuk aku dan putriku.
Sampai saat ini pun, dimana ibu mertuaku menjadi pengasuh sementara anakku saat kukerja. Aku selalu merasakan beban padanya, meski beliau bilang baik-baik saja. Tetaplah rasa tak enak hati selalu ada. Dalam benak ini, selalu bertanya, kapan bisa membalas ibu dan bapak mertua? Mereka selalu memberikan perhatian padaku dan putriku. Semoga saja aku dan suami mendapatkan rezeki berlimpah berkah, agar bisa membantu ibu dan bapak mertuaku ke tanah suci, beribadah. Aamiin.
Ibu, memang kasih sayangmu sepanjang masa. Dulu engkau mengasuh anak-anak lelakimu dengan baik. Sekarang, cucu-cucumu pun tak lepas dari kasih sayang dan perhatian. Banyak kebaikan dan kemanfaatan hidup yang kuambil dari beliau, sebagai seorang wanita, istri, ibu dan nenek. Beliau telah melaksanakan hidupnya pada keempat fase itu dengan baik. Sedangkan aku, belum tentu bisa mengalami seperti beliau karena umur rahasia Alloh. Jika pun tertulis berumur panjang, semoga aku bisa sampai menjadi seorang istri, ibu dan nenek yang baik bagi keluarganya. Tak lekang waktu cintamu ibu, mungkin jika waktumu meninggalkan dunia ini, nama dan kenangan hidupmu tetap harum dan abadi hingga ke penerus selanjutnya. (Rosi.JS.Cibitung,05-Maret-2015).
Seringnya bertemu membuat kami menjadi kenal satu sama lainnya. Setelah menikah dengan anaknya pun, aku semakin dekat dengannya. Keegoan dari sikap dan sifat masing-masing mulai terlihat. Beliau memang seorang ibu yang luarbiasa. Meski kadang sedikit egois, tapi kasih sayangnya tak pandang bulu. Aku yang hanya seorang menantu, selalu bak ratu yang diperhatikan dengan baik. Saat ingin berhenti kerja karena hamil, dia selalu berusaha untuk membujukku agar tetap bekerja. Alasannya karena pekerjaan suamiku yang tidak tetap. Tetapi meski terdengar egois, beliau selalu memberikan perhatiannya padaku layaknya anak sendiri. Sampai aku melahirkan seorang anak perempuan, dia selalu memperhatikan aku juga putriku.
Banyak yang bilang, jika ibu mertua itu jahat, egois dan super cerewet. Pasti banyak cekcok dan pertengkaran karena perbedaan yang mencolok antara menantu dan mertua perempuan. Tadinya iya, rasanya perbedaan pendapat, komunikasi yang sulit karena faktor usia, belum lagi adat dan budaya kami berbeda, selalu membuatku salah paham dengan beliau. Tapi semakin dipahami sikap dan sifatnya, justru akulah yang harus malu. Kesabaran dan pergaulannya sungguh terpuji. Beliau memang tidak pernah tamat sekolah dasar dan tidak pernah melanjutkan sekolah lagi karena sejak umur lima tahun telah yatim--piatu. Tetapi terkadang pola pikirnya sama dengan orang-orang yang bersekolah menengah atas.
Kepandaiannya memasak, mengolah makanan tidak bermutu atau tidak menggiurkan menjadi masakan enak. Ada lagi sesuatu yang selalu aku kagumi dari dirinya, salat lima waktu dan mengikuti pengajian di majelis taklim, dia tidak pernah absen. Memakai hijab dan pakaian sangatlah sopan dan indah, baik di dalam rumah atau di luar rumah, hijab dan pakaian gamisnya tidak pernah ditanggalkan. Hanya dalam kamar pribadinya dan mencuci saja, beliau memakai baju berlengan pendek dan celana panjang.
Dari segi berpakaian, ibu mertuaku sudah sangat syar'i. Dari segi rukun islam, ibu mertuaku sudah menjalankannya dengan baik dan benar. Sayangnya rukun islam kelima, beliau masih belum mampu dikarenakan biaya. Aku sebenarnya ingin sekali membantu mengantarkannya ke tanah suci. Tetapi, masih terkendala dengan biaya hidup sehari-hari, suamiku hanya bekerja serabutan. Bukannya suami tidak bisa mencari yang lebih baik. Suamiku seorang yang bertanggung jawab, termasuk pada kehidupan kedua orang tuanya. Dia selalu berusaha membuat orang-orang yang dicintainy bahagia, termasuk aku dan putriku.
Sampai saat ini pun, dimana ibu mertuaku menjadi pengasuh sementara anakku saat kukerja. Aku selalu merasakan beban padanya, meski beliau bilang baik-baik saja. Tetaplah rasa tak enak hati selalu ada. Dalam benak ini, selalu bertanya, kapan bisa membalas ibu dan bapak mertua? Mereka selalu memberikan perhatian padaku dan putriku. Semoga saja aku dan suami mendapatkan rezeki berlimpah berkah, agar bisa membantu ibu dan bapak mertuaku ke tanah suci, beribadah. Aamiin.
Ibu, memang kasih sayangmu sepanjang masa. Dulu engkau mengasuh anak-anak lelakimu dengan baik. Sekarang, cucu-cucumu pun tak lepas dari kasih sayang dan perhatian. Banyak kebaikan dan kemanfaatan hidup yang kuambil dari beliau, sebagai seorang wanita, istri, ibu dan nenek. Beliau telah melaksanakan hidupnya pada keempat fase itu dengan baik. Sedangkan aku, belum tentu bisa mengalami seperti beliau karena umur rahasia Alloh. Jika pun tertulis berumur panjang, semoga aku bisa sampai menjadi seorang istri, ibu dan nenek yang baik bagi keluarganya. Tak lekang waktu cintamu ibu, mungkin jika waktumu meninggalkan dunia ini, nama dan kenangan hidupmu tetap harum dan abadi hingga ke penerus selanjutnya. (Rosi.JS.Cibitung,05-Maret-2015).
Komentar
Posting Komentar