Langsung ke konten utama

Tak Lekang Waktu.

Memulai berumah tangga adalah sesuatu hal yang menakjubkan untuk di lakukan.  Sesuatu yang sangat spesial dalam hidupku.  Berumah tangga dan mulai hidup bersama. Aku mulai mengenal suami dan keluarganya serta cara kehidupan mereka. Dimulai dari ibu mertua.  Sebelum menikah,  aku telah lebih dulu mengenal beliau.  Mengenal beliau saat sering ikut shalat tarawih di mushala.

Seringnya bertemu membuat kami menjadi kenal satu sama lainnya. Setelah menikah dengan anaknya pun, aku semakin dekat dengannya. Keegoan dari sikap dan sifat masing-masing mulai terlihat. Beliau memang seorang ibu yang luarbiasa.  Meski kadang sedikit egois, tapi kasih sayangnya tak pandang bulu. Aku yang hanya seorang menantu, selalu bak ratu yang diperhatikan dengan baik. Saat ingin berhenti kerja karena hamil, dia selalu berusaha untuk membujukku agar tetap bekerja. Alasannya karena pekerjaan suamiku yang tidak tetap.  Tetapi meski terdengar egois, beliau selalu memberikan perhatiannya padaku layaknya anak sendiri.  Sampai aku melahirkan seorang anak perempuan, dia selalu memperhatikan aku juga putriku.

Banyak yang bilang,  jika ibu mertua itu jahat, egois dan super cerewet. Pasti banyak cekcok dan pertengkaran karena perbedaan yang mencolok antara menantu dan mertua perempuan. Tadinya iya, rasanya perbedaan pendapat, komunikasi yang sulit karena faktor usia, belum lagi adat dan budaya kami berbeda, selalu membuatku salah paham dengan beliau. Tapi semakin dipahami sikap dan sifatnya,  justru akulah yang harus malu. Kesabaran dan pergaulannya sungguh terpuji. Beliau memang tidak pernah tamat sekolah dasar dan tidak pernah melanjutkan sekolah lagi karena sejak umur lima tahun telah yatim--piatu. Tetapi terkadang pola pikirnya sama dengan orang-orang yang bersekolah menengah atas.

 Kepandaiannya memasak, mengolah makanan tidak bermutu atau tidak menggiurkan menjadi masakan enak. Ada lagi sesuatu yang selalu aku kagumi dari dirinya, salat lima waktu dan mengikuti pengajian di majelis taklim, dia tidak pernah absen. Memakai hijab dan pakaian sangatlah sopan dan indah, baik di dalam rumah atau di luar rumah, hijab dan pakaian gamisnya tidak pernah ditanggalkan. Hanya dalam kamar pribadinya dan mencuci saja, beliau memakai baju berlengan pendek dan celana panjang.

Dari segi berpakaian, ibu mertuaku sudah sangat syar'i. Dari segi rukun islam, ibu mertuaku sudah menjalankannya dengan baik dan benar. Sayangnya rukun islam kelima, beliau masih belum mampu dikarenakan biaya. Aku sebenarnya ingin sekali membantu mengantarkannya ke tanah suci. Tetapi, masih terkendala dengan biaya hidup sehari-hari, suamiku hanya bekerja serabutan. Bukannya suami tidak bisa mencari yang lebih baik. Suamiku seorang yang bertanggung jawab, termasuk pada kehidupan kedua orang tuanya. Dia selalu berusaha membuat orang-orang yang dicintainy bahagia, termasuk aku dan putriku.

Sampai saat ini pun, dimana ibu mertuaku menjadi pengasuh sementara anakku saat kukerja. Aku selalu merasakan beban padanya, meski beliau bilang baik-baik saja. Tetaplah rasa tak enak hati selalu ada. Dalam benak ini, selalu bertanya, kapan bisa membalas ibu dan bapak mertua? Mereka selalu memberikan perhatian padaku dan putriku. Semoga saja aku dan suami mendapatkan rezeki berlimpah berkah, agar bisa membantu ibu dan bapak mertuaku ke tanah suci, beribadah. Aamiin.

Ibu, memang kasih sayangmu sepanjang masa. Dulu engkau mengasuh anak-anak lelakimu dengan baik. Sekarang, cucu-cucumu pun tak lepas dari kasih sayang dan perhatian. Banyak kebaikan dan kemanfaatan hidup yang kuambil dari beliau, sebagai seorang wanita, istri, ibu dan nenek. Beliau telah melaksanakan hidupnya pada keempat fase itu dengan baik. Sedangkan aku, belum tentu bisa mengalami seperti beliau karena umur rahasia Alloh. Jika pun tertulis berumur panjang, semoga aku bisa sampai menjadi seorang istri, ibu dan nenek yang baik bagi keluarganya. Tak lekang waktu cintamu ibu,  mungkin jika waktumu meninggalkan dunia ini, nama dan kenangan hidupmu tetap harum dan abadi hingga ke penerus selanjutnya. (Rosi.JS.Cibitung,05-Maret-2015).





































































Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...