Langsung ke konten utama

Lupa Berpuisi.

Semakin kemari, kenapa aku tidak bisa membuat puisi lagi? Padahal dahulu sejak pertama menulis, aku lebih suka menulis puisi daripada fiksi. Puisi kutulis bersama curhatanku dalam buku diary sejak sekolah menengah pertama. Ada sesuatu yang membuat hati ini lega saat menuliskannya


Tentang menulis fiksi, aku mulai suka sejak tamat sekolah menengah umum. Itu terjadi karena sering membaca cerpen di koran dan majalah. Rasanya senang banget yah, jika aku bisa menuliskan cerita pendek karanganku sendiri dan dibaca orang banyak. Lalu saat melakukan tugas dari guru bahasa indonesia, yakni meresensi buku novel rekomondasi dari beliau. Buku novel karya Mira.W dengan tiga judul. Masing-masing harus memilih satu judul untuk di resensi. Aku terpaksa meminjam di perpustakaan sekolah, membacanya dan menuliskan resensi itu dengan mengetik di komputer. Sejak itu juga aku suka dengan cerita-cerita novel.

 Ketika menuliskan apa yang ada dibenak kita, rasanya ada oase tersendiri. Ini lebih menantang dan menarik dari melukis dan menggambar. Aku suka menggambar dan memadukan warna, juga suka kaligrafi. Entahlah, cuma aku yang punya kesenangan menggambar, menyanyi dan menulis puisi. Kedua adikku tidak suka dengan kedua hoby itu.

Kalau menyanyi, mereka masih suka. Jiwa seniku ini mengalir dari darah bapakku. Beliau pandai melukis, menggambar dan membuat karya seni. Tapi tidak menulis puisi atau menulis fiksi lainnya. Sekarang ketika melihat kreatifitas anakku. Dia tidak sepertiku, yang suka menyanyi dan gambar sejak kecil.

Anakku lebih suka berimajenasi dengan merombak mainannya. Mempreteli, kemudian dibuat lebih aneh. Lebih suka berbicara sendiri saat bermain di kamar, lebih suka bermain pura-pura seperti pantomim. Senang mendengarkan lagu dan musik, tapi tidak mau menyanyikannya. Padahal waktu berumur dua tahun, aku sudah bisa mengikuti nyanyian pada lagu yang diputar.

Sejak mulai belajar menulis di grup menulis di facebook, aku lebih cenderung ke fiksi. Belajar daru nol tentang cara menulis fiksi beserta aturannya dan ilmunya. Sampai lupa menuliskan puisi atau memulai menulis puisi. Dulu saat masih bersekokah, aku lebih senang mengikuti lomba baca puisi dengan membaca naskah untuk di hafal berulang - ulang. Namun sekarang, semangat menulis puisi menurun. Memulainya pun bingung darimana.

Apa mungkin jodohku di fiksi dan essay.. Tapi banyak juga penulis fiksi bisa dan piawai menuliskan puisi juga. Lalu kenapa aku malah melempem. Sepertinya ada yang salah dari caraku. Aku berusaha untuk fokus belajar di dua grup itu dengan berharap, bisa menulis lebih baik lagi dan lebih ahli di fiksi dan puisi. Mungkin aku kurang memerhatikan ilmu dan jarang praktek. Kali ini harus berusaha lagi untuk bisa. Semoga bisa lancar, baik dan lihai menulis fiksi dan puisi. Cibitung, 15-Maret-2015.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...