Aku lebih baik mengikuti nasehat ibu yang salat lima waktunya taat, yang dekat sama Allah SWT. Ketimbang mengikuti nasehat teman dan orang-orang yang belum tentu mengerti diri kita sepenuhnya atau baru mengenal beberapa tahun saja.
Bukan karena takut di cap sebagai anak durhaka, tetapi takut akan azab-Nya. Ibu yang dekat dengan Allah SWT, ucapannya makbul, keluhannya didengarkan dan sakit hatinya menjadi laknat Allah SWT. Apalagi jika anaknya sering menyakiti hatinya dan belum sempat meminta maaf hingga ke liang lahat. Maka kehidupan sang anak akan mengalami kesengsaraan di dunia. Sumpah serapahnya jadi azab yang pedih. Rasulullah.Saw pun mengingatkan berkali-kali tentang ini dalam hadistnya, ibumu, ibumu, ibumu.
Sudah banyak bukti di dunia ini. Anak-anak yang lupa pada ibunya, menyakiti perasaan ibunya, menelantarkan ibunya, hidup mereka hancur berantakan dan tidak berkah. Itu baru di dunia azab dari-Nya, bagaimana dengan di akherat nanti balasannya?
Pasti sangat perih siksa dari-Nya.
Banyak juga bukti di dunia ini. Anak-anak yang memuliakan ibunya, melayani ibunya dengan baik dan membuat ibu mereka bahagia. Kehidupan mereka menjadi sukses di dunia, bahkan berkah dan rahmat Allah SWT selalu mnyertai kehidupan nya secara terus menerus. Itu baru di dunia, bagaimana jika di akherat nanti? Pasti keberuntungan berada pada mereka.
Ibu selalu dimuliakan oleh ajaran agama Allah SWT ini, mau dia seorang yang ahli ibadah ataupun awam. Malaikat selalu mendoakan mereka setiap hari, setiap malam. Bagaimana tidak mulia seorang ibu. Ridho ibu adalah ridho Allah SWT. Jangan membuat hatinya terluka, bersedih dan membebaninya. Bebannya sudah sangat berat.
Semoga kita sadar dari hal-hal yang membutakan mata kita, hingga terjauh dari ibu. Hingga lebih mementingkankan berhala dan nafsu diri. Seperti harta, wanita, teman, jabatan, obsesi dan ambisi yang memperdaya diri hingga kita menjadi budak mereka. Melupakan keberadaan ibu sendiri. Terlebih menyusahkannya.
Mendengarkan nasehatnya walau hanya secuil, haruslah kita dengarkan. Meski tidak sesuai dengan hati dan prinsip. Baiknya dengarkan dulu, renungkan dan pikirkan. Jangan dengarkan kata hati yang belum tentu suci. Tapi kata kebenaran Tuhan, dari ucapan siapapun. Termasuk ibu yang melahirkan, membesarkan dan merawat hingga menjadi dewasa. Tulisan sore menjelang senja, untuk renungan diri. (Cibitung, 12-Maret - 2015)
Bukan karena takut di cap sebagai anak durhaka, tetapi takut akan azab-Nya. Ibu yang dekat dengan Allah SWT, ucapannya makbul, keluhannya didengarkan dan sakit hatinya menjadi laknat Allah SWT. Apalagi jika anaknya sering menyakiti hatinya dan belum sempat meminta maaf hingga ke liang lahat. Maka kehidupan sang anak akan mengalami kesengsaraan di dunia. Sumpah serapahnya jadi azab yang pedih. Rasulullah.Saw pun mengingatkan berkali-kali tentang ini dalam hadistnya, ibumu, ibumu, ibumu.
Sudah banyak bukti di dunia ini. Anak-anak yang lupa pada ibunya, menyakiti perasaan ibunya, menelantarkan ibunya, hidup mereka hancur berantakan dan tidak berkah. Itu baru di dunia azab dari-Nya, bagaimana dengan di akherat nanti balasannya?
Pasti sangat perih siksa dari-Nya.
Banyak juga bukti di dunia ini. Anak-anak yang memuliakan ibunya, melayani ibunya dengan baik dan membuat ibu mereka bahagia. Kehidupan mereka menjadi sukses di dunia, bahkan berkah dan rahmat Allah SWT selalu mnyertai kehidupan nya secara terus menerus. Itu baru di dunia, bagaimana jika di akherat nanti? Pasti keberuntungan berada pada mereka.
Ibu selalu dimuliakan oleh ajaran agama Allah SWT ini, mau dia seorang yang ahli ibadah ataupun awam. Malaikat selalu mendoakan mereka setiap hari, setiap malam. Bagaimana tidak mulia seorang ibu. Ridho ibu adalah ridho Allah SWT. Jangan membuat hatinya terluka, bersedih dan membebaninya. Bebannya sudah sangat berat.
Semoga kita sadar dari hal-hal yang membutakan mata kita, hingga terjauh dari ibu. Hingga lebih mementingkankan berhala dan nafsu diri. Seperti harta, wanita, teman, jabatan, obsesi dan ambisi yang memperdaya diri hingga kita menjadi budak mereka. Melupakan keberadaan ibu sendiri. Terlebih menyusahkannya.
Mendengarkan nasehatnya walau hanya secuil, haruslah kita dengarkan. Meski tidak sesuai dengan hati dan prinsip. Baiknya dengarkan dulu, renungkan dan pikirkan. Jangan dengarkan kata hati yang belum tentu suci. Tapi kata kebenaran Tuhan, dari ucapan siapapun. Termasuk ibu yang melahirkan, membesarkan dan merawat hingga menjadi dewasa. Tulisan sore menjelang senja, untuk renungan diri. (Cibitung, 12-Maret - 2015)
Komentar
Posting Komentar