Langsung ke konten utama

DARI DUNIA LAIN [Cerpen Rosi Ochiemuh]

Cerpen dimuat pertama kali di Koran Radar Mojokerto Grup Jawa Pos. Edisi Minggu, 20 Oktober 2019.


Bulan ragu-ragu muncul di pekatnya malam, aku terpaksa menjajakan bakso gantikan bapak yang sakit. Malam ini, selepas hujan turun sejak sore hingga isya, hampir setiap tempat yang dilewati sunyi. Dari kampung ke kampung. Dari jalan raya hingga menembus gang pada jalan lain.
Tiba di sebuah jalan kecil remang cahaya pada deretan kontrakan petak empat pintu tertutup, satu pintu setengah terbuka. Terlihat gelap di dalamnya. Aku berpikir salah satunya mati listrik atau tokennya habis. Tidak ada yang aneh di pikiran ini.

Tangisan anak kecil tiba-tiba terdengar di telinga. Dia duduk di samping pintu yang terbuka. Aku penasaran. Kenapa dilarut begini ada anak kecil belum tidur? Mungkin karena rumahnya gelap atau dalam ruangannya gerah, jadi pintunya dibuka separuh dan anak kecil itu belum bisa tidur, pikirku begitu.

Aku berhenti tepat di depan kontrakan kecil itu. Jalanan di tempat aku berpijak sompal-sompal, sampai mendorong gerobak pun butuh tenaga ekstra. Tangisan anak kecil kembali terdengar pilu. Gerobak lalu kuparkir di pinggir tidak jauh dari kontrakan itu, karena aku ingin ke tempat di mana suara berasal.

Perlahan melangkah ke kontrakan petak itu berjarak lima langkah dari tempat memarkir. Ruangannya gelap. Anak kecil itu memeluk lutut bersandar pada samping pintu.

“Dik, kenapa menangis?” tanyaku padanya.

Tangisnya berhenti. Aku terkesiap waktu dia membenahi posisi. Wajahnya sembab. Bocah laki-laki rupanya, rambut cepak, mata bulat, hidung mancung, memakai seragam olahraga sekolah. Lalu terpaku memandangiku, aku jadi salah tingkah.

“Kenapa belum tidur?” tanyaku lagi.

Dia masih geming. Sepasang mata beningnya menelusuriku dari ujung rambut sampai kaki.

“Orangtuamu di mana?” Dia malah sesenggukkan.

“Aduh! Kamu kok, menangis lagi. Abang jadi bingung. Kamu mau makan bakso gratis?”

Tiba-tiba tangisnya terhenti. Dia melihatku sekali lagi dengan sepasang mata yang bening itu. Kedua matanya berbinar. Lantas mengangguk cepat.

“Ya, sudah. Abang buatkan, ya?” Dia mengangguk lagi. Aku gegas menuju gerobak bakso yang terparkir. Anak itu berdiri di depan kontrakannya mematung. Dari kejauhan dia seolah menunggu.

Ternyata anak itu lapar, belum makan. Lampu kontrakan di rumahnya mati, jadi gelap. Astaga! Aku masih belum tahu di mana orangtua anak itu.

 Aroma kuah bakso menari-nari. Sejak keluar berjualan, belum ada satu pun pembeli. Merasa kasihan, aku berikan semangkuk bakso pada anak itu, sebagai penglaris. Semoga saja dia kenyang, tidak lagimenangis dan kedinginan.

Kuhidangkan makanan itu padanya. Matanya terpaku pada semangkuk bakso yang aromanya menari-nari di penciuman. Anak itu gegas mencari tempat duduk yang pas untuk menikmati semangkuk bakso buatanku. Dia duduk di teras kecil berlantai keramik agak becek di sebelah kontrakan satunya yang diterangi satu lampu. Pelan-pelan makan tanpa suara.

Aku amati dia makan. Nyaris tidak ada yang tercecer dari mangkuk. Aku perkirakan dia berusia enam tahun. Mungkin anak itu terbiasa makan sendiri, tanpa disuapi. Baru beberapa menit kuperhatikan, dia berdiri memberi mangkuk yang telah bersih.

“Cepat sekali kamu makan! Lapar, ya?”

Anak itu mengangguk saja. Apa mungkin dia bisu atau tunarungu. Herannya ketika menangis suaranya terdengar jelas. Ah, seharusnya aku tidak usah berpikir yang aneh tentang anak itu.

Saatnya aku pamit untuk keliling lagi ke tempat yang lain. “Abang pergi dulu, ya! Kalau sudah makan, lekas tidur ya!”

Dia lambaikan tangan padaku. Baru sekejap mataku memerhatikan roda gerobak dan melempar pandang lagi ke kontrakan kecil empat pintu itu, dia sudah hilang. Pintunya tertutup rapat dan gelap. Aneh benar, cepat sekali dia masuk ke dalam. Padahal kontrakannya masih gelap. Aku berjalan lagi menjajakan bakso pukul sepuluh malam di udara yang dingin menggigil.

*****

Suara tangis terekam pada pori-pori dinding, kusen, lantai, atap, pelapon, lemari, dan barang-barang lain dalam kontrakan itu. Termasuk dalam kepala bocah laki-laki yang bersekolah di Taman Kanak-kanak. Dia masih berada di tempat tidak aman. Sesekali mendengar bunyi benda-benda keras di telinga, jerit ibunya, teriakan bapaknya, dan tangisan pilu adik kecilnya.

Dia akan lari keluar rumah, menghindari apa yang terjadi. Hari-hari yang lalu dia berhasil ke luar, tapi malam itu dia benar-benar terjerat pada kesedihan orang dewasa dan ketidakadilan mereka padanya.

“Kamu! Diam di situ!” teriak bapaknya selepas memukuli ibunya dengan gagang sapu.

Gigil menusuk semua persendian. Anak kecil itu duduk memeluk lutut dengan tubuh bersandar di sudut ruang. Listrik tiba-tiba padam, dia berteriak kencang. Terdengar dengus kemarahan bapaknya dan suara ibu memelas sesak untuk tidak menyakiti dia.

Dalam keadaan gelap, terdengar suara hentakan benda keras, teriakan bapak dan ibunya bersahutan. Dia tidak tahu apa yang terjadi, gelap telah membutakan tempat tinggalnya. Tidak bisa melihat adik kecilnya, ibu dan bapaknya, juga dirinya sendiri.

Hening kemudian.

Listrik menyala. Cahaya lampu bohlam kuning mengejutkan dia dan pelan beringsut untuk melihat keadaan. Tidak ada suara-suara. Tidak ada keributan lagi.

Hening.

Bapak dan ibunya tidak ada di ruang tamu sempit yang sudah kacau-balau itu. Dicarinya di kamar mereka dengan langkah berinjit, pelan, takut kalau bapaknya yang muncul akan menghajar dia seperti juga ibunya.

Matanya terbelalak, menangkap sosok ibunya duduk kaku dengan air mata dan lumuran cairan merah pekat di tangan, di lantai, dan tubuh kaku bapaknya yang sekarat. Wajah, perut, dada, tertusuk-tusuk pisau dan gunting milik ibunya. Cairan pekat merah mengalir ke mana-mana dari tubuh bapaknya yang berlubang.

Dia membekap mulut agar tidak menjerit. Dadanya sesak, air mata mengalir. Dia sedang melihat monster dalam tubuh ibunya yang basah itu. Monster itu mengangkat wajah menatap kaku.

Ibunya mendekap dia yang menggigil. Ibunya jadi monster seperti bapaknya. Lebih seram, sampai dia bisa melihat darah dengan mata telanjang. Dia ingin melepaskan pelukan itu tapi tidak bisa. Pelukannya kuat sekali. Hingga baju seragam olahraga sekolah yang dipakai terasa panas. Yang sejak siang tadi belum diganti, dan belum mandi karena memilih bersembunyi dari kegilaan bapaknya.

“Ibu, sakit!”

“Ini tidak sakit, Sayang. Ibu akan mengantarkan kamu juga ke surga. Setelah ini kita bisa berkumpul bersama.”

“Jangan, Ibu! Sakit!” teriaknya memukul-mukul tubuh ibunya semakin erat memeluk. Napasnya sesak. Dia rasakan ibunya menancapkan sesuatu yang tajam. Tangan ibunya penuh darah itu mulai mengotori pakaian. 
Hingga sakit luar biasa dirasakan lehernya. Tiga kali benda tajam itu ditancapkan.

Dia berteriak setelah ibunya melepaskan pelukan. Ibunya tersenyum, lalu masuk ke kamar menggendong adik bayinya yang tidak lagi bersuara. 

“Kita semua akan pergi ke surga!” Benda tajam itu berakhir ditancap ke dada ibunya berkali-kali.

Saat sekarat, bocah  itu melihat ibunya menusuk dadanya sendiri, wajah adiknya yang sudah biru, tercium anyir darah. Terakhir kepalanya berkunang, suara-suara dari luar memanggil, lalu semua gelap.

Keesokan harinya, warga gempar dengan sesuatu yang mereka dapati dalam kontrakan itu. Satu keluarga mati terbunuh. 

Dua hari kemudian, kontrakan empat pintu itu ditutup sementara waktu. Saat peristiwa terjadi, semua penghuni kontrakan masih pulang kampung hari raya Idulfitri. Pemilik kontrakan dan warga sekitar satu per satu ditanyai aparat kepolisian untuk kasus yang tragis dan gempar itu. Masuk berita surat kabar halaman depan. Seminggu kemudian, semua penghuni kontrakan pindah dan pemilik kontrakan pergi ke luar kota.

****

“Bang, baru mangkal di sini?” tanya salah seorang pembeli. Selepas dari jalan itu, aku menemukan tempat paling strategis untuk mangkal. Pos Ronda depan jalan raya yang ditunggui lima orang laki-laki paruh baya, berjaga malam.

“Iya, Pak. Biasanya yang dagang bapak saya. Saya sedang gantikan bapak karena sakit.”

“Oh, begitu. Baksonya tambah dua mangkok, Bang.”

“Siap, Pak,” sahutku. Senang ada pembeli menambah lagi. Mungkin karena tadi aku kasih bakso gratis pada anak kecil itu. 

“Saya melewati jalan kecil di sana dan bertemu anak kecil menangis sendirian di kontrakan empat pintu itu. Kasihan, orangtuanya sepertinya sudah tidur,” ucapku tiba-tiba pada bapak yang memerhatikan aku menyajikan bakso. 

“Jalan kecil yang mana, Bang?” tanyanya memotong.

“Yang ada kontrakan empat pintu itu. Tembus ke jalanan sini, Pak.”

Mereka dan aku seketika dijeda keheningan. Saling berpandangan. Aku yang heran pada ekspresi mereka yang beku menekuri mukaku. Ada juga yang terpaku selepas aku bercerita.

“Aduh, Bang. Kok Abang berani lewat situ ya. Bukannya...,” suara seseorang memecah dan kalimatnya terputus sambil memandang ke teman-temannya. Mereka semua menelan ludah, menghela napas panjang seolah ada sesuatu yang dikhawatirkan.

“Maksud teman saya, apakah Abang bertemu anak laki-laki pakai baju seragam olahraga sekolah TK?”

“Iya. Kok, Bapak tahu? Namanya siapa?” tanyaku sembari memberikan dua mangkok bakso pada dua orang yang sedari tadi menunggu dan ikutan bengong.

“Tiga minggu lalu ada kejadian gempar di kampung kami. Ditemukan satu keluarga semuanya mati mengenaskan. Polisi menduga terjadi perampokan dan pembunuhan.” Aku serius menyimak. “Rupanya, setelah diselidiki, mereka dibunuh anggota keluarga sendiri yang juga ikut mati bunuh diri. Ditemukan sidik jari pada benda tajam. Suami, Istri, dan dua anaknya yang masih kecil, semuanya mati. Kejadiannya di salah satu kontrakan kecil itu. Salah satu anak laki-laki yang lehernya berlubang kena benda tajam. Pertama kali ditemukan warga sekarat, bernama Adit.”

“Jadi, bocah laki-laki yang saya temui itu?”

“Ya, itu ... Adit, sudah beberapa warga melihat penampakan mereka, ” salah satunya menimpali. Mereka lalu kembali pada kesibukan di Pos Ronda. Aku terhenyak menelan ludah. Aku pikir tidak ada yang aneh pada apa yang aku temui. Rupanya tadi aku bertemu bocah dari dunia lain dan tiba-tiba badan ini panas-dingin.(*)

Rawamaju-Cikbar, Maret 2019.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.