Langsung ke konten utama

Bumi Mengeja Rentanya. [ My Puisi]

Penulis : Rosi jumnasari, Nama pena : Rosi Ochiemuh. Buku perdana; Kumpulan cerpen Sesuatu di Kota Kemustahilan (Penerbit LovRinz Publishing Februari 2018). FB : Rosi Ochiemuh, IG: @ochiemuh, Twitter : RJumnasari.

Matari dan Bulan terburu-buru tuk menyerbu
Bumi kita yang mulai rapuh peradabannya
Bumi kita kian meredup kesuciannya
dan Ia berkeluh pada bintang gemintang di jagad sana, tersedu-sedu

‘segerakan aku ditiupkan sangkala, biar hancur lebur’ ujarnya merana
Ia dulu begitu ranum dan rekah, kini berkeriput muram diusia renta
entah di peradaban manusia mana Ia berakhir, hancur, meleleh bersama Matari.
Ia tak tahu, hanya berputar pada porosnya. Ikuti alur Sang Pencipta

Mengeja rentanya, pelan-pelan bersamai waktu sembari merintih pilu
meratapi makhluk-makhluk berkaki dua, berlaku semau mereka
Bumi kita, tak bisa menari pun tertawa. Sedih di atas penderitaan keluh alam

Di Bumi Cikarang, 15-Oktober-2019

*Catatan. Puisi ini juga diikut lombakan ke Lomba Penerbitan Anlitera di Instagram tahun 2019. Juga terpilih sebagai kontributor. Sayangnya, mereka memaksa harus membeli sebelum ditentukan juara lombanya. Dengan harga yang menurut saya fantastis untuk ukuran buku kumpulan puisi. Informasi data masuk naskah lomba dengan informasi berapa yang lolos lomba pun tidak jelas di wibesitenya. Maka dari itu saya tidak membeli bukunya. Baik buku puisinya juga. Lalu tentang e sertifikat pun harus didapat dengan membeli buku tersebut, dan buku tidak akan dicetak lagi jika habis. Merasa janggal dan selama saya ikut event menulis selalu bertemu dengan Penerbitan Indie maupun Mayor yang nyaman dan jelas info lomba serta jelas tujuan lomba. Harga buku kontributor pun tidak semahal yang diadakan. Serta e-Sertifikat kontributor pun gratis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...