Antara kejenuhan dan imajenasi. Buku adalah sarana untuk berlayar ke segala penjuru dunia. Menggali ilmu dengan membaca pengetahuan yang termaktub dalam kertas berjilid-jilid bernama buku. Aku bisa mengeja huruf dan membaca sejak kelas tiga SD. Itu adalah anugerah terbesar dalam hidup. Kedua orang tuaku amat sangat bersyukur. Sampai mencium kening dan pipi karena sudah bisa membaca. Mereka merasa lega, meski masih menjadi buah pikiran lagi. Yakni aku harus bisa menghitung dan menulis.
Setelah bisa membaca saat duduk di sekolah dasar itu. Aku mulai lebay untuk membaca setiap apapun. Terlebih kata-kata juga kalimat yang terpajang di jalanan. Seperti di sekolahan, papan reklame & banner, lalu plat alamat rumah orang-orang yang ada di depan pintu mereka. Serasa senang dan nikmatnya bisa membaca.
Ada yang membuatku terkenang ketika sedang senang-senangnya membaca itu terjadi waktu smp. Bungkusan koran dan majalah bekas untuk bungkusan alas makanan gado-gado--dagangannya--abahku. Selalu tidak lepas dari mata ini. Membaca tulisan yang ada di sana. Walau sekedar berita nasional, berita intertaimant, dll. Serasa ada kepuasan. Hingga demi bisa membaca koran bekas, aku selalu membantu abah untuk menyusun bungkusan gado-gado. Atau menunggu bapak pulang kerja, untuk sekadar menunggu koran bekas bacaannya dari kantor.
Memasuki sekolah menengah pertama itu, aku juga mulai menyukai bacaan buku. Buku pelajaran tentunya. Yakni buku IPA dan IPS, itu buku pelajaran favorit. Karena di dalamnya banyak pengetahuan sains dan geografis dunia. Hingga dua pelajaran itu nilainya lebih besar dari yang lain. Memilikinya pun masih dengan pengorbanan, memangkas uang jajan selama dua minggu. Atau mencari uang tambahan dengan membantu abah berdagang di pasar.
Hasrat membaca buku mulai naik kelas, saat duduk di bangku smu. Aku lebih suka membaca buku pelajaran Sejarah ketimbang buku Biologi, Ekonomi atau Fisika. Karena di buku Sejarah seperti menjelajah masa lalu. Saat ingin menikmati buku yang lain untuk anak sekolah sepertiku ini, memilih jalan alternatif. Yakni mendekati perpustakaan sekolah. Penjaga perpusnya kebetulan pamanku. Lebih leluasa berlama-lama menjelajah perpus.
Meski perpustakaan sekolah gratis meminjamkan buku, dengan syarat dua hari buku harus dikembalikan dalam keadaan sama ketika dipinjam (baik fisiknya), tetap saja kurang memenuhi hasrat membaca. Karena buku-buku di perpus tidak lengkap. Buku fiksinya pun hanya sedikit (Karena memang anak sekolahan seperti kami sukanya baca buku cerita, komik dan novel). Yang kuingat saat itu buku-buku fiksinya kebanyakan buku cerita fabel dan cerita legenda dari Indonesia. Novelnya hanya satu penulis. Novel-novel karangan Mira.W. Komik pun sedikit. Perpus hanya menyediakan buku-buku pelajaran dan pengetahuan.
Hasrat membaca buku itu tidak pernah habis. Jika ingin memuaskan mata dan pikiran ini. Karena buku di toko Gramedia lebih menggiurkan ketimbang di perpus. Aku dan teman-teman terkadang iseng menjelajah ke sana. Meski cuma melihat-lihat atau dibaca di sana (jika bukunya tidak berbungkus plastik). Harga buku di toko Gramedia belum terjangkau oleh kami--anak sekolah. Untuk memuaskan hasrat itu, kami terkadang patungan. Satu buku beli bersama dan dibaca bergiliran. Sampai fisik buku tidak lagi seperti baru.
Pengalaman dengan buku saat masih di sekolah, belum sepenuhnya terpuaskan. Karena keuangan dan ekonomi keluarga. Membeli buku termasuk sesuatu barang yang mahal bagi kami. Kecuali buku pelajaran yang diharuskan pihak sekolah. Jika pun ada teman yang orang tuanya mampu, kami meminjam buku padanya. Kebanyakan mereka hanya membeli saja untuk dikoleksi dan enggan membaca. Aku terkadang iri pada mereka--anak--yang orang tuanya berpunya, mereka bisa membeli buku dengan uang. Tapi mereka malas membaca. Membeli buku hanya sekedar ingin dibilang intelektual.
Saudara dan temanku terkadang ada yang bertanya seperti ini; Apa yang kamu dapatkan dari buku-buku yang kamu baca? Lalu sudah adakah manfaat yang kamu rasakan? Kujawab saja; Aku dapat memuaskan hasrat rasa ingin tahu itu dari tulisan aksara si penulis. Entah itu ilmu pengetahuan, hiburan atau informasi. Meskipun belum semua isi buku pengetahuan itu dipraktikkan di kehidupan nyata, paling tidak kita jadi tahu. Karena buku adalah kunci jendela dunia dan ilmu. Membaca bisa mengurangi kepikunan. Dan aku tidak mau jika tua nanti jadi orang tua yang pikun.
Saudara dan temanku terkadang ada yang bertanya seperti ini; Apa yang kamu dapatkan dari buku-buku yang kamu baca? Lalu sudah adakah manfaat yang kamu rasakan? Kujawab saja; Aku dapat memuaskan hasrat rasa ingin tahu itu dari tulisan aksara si penulis. Entah itu ilmu pengetahuan, hiburan atau informasi. Meskipun belum semua isi buku pengetahuan itu dipraktikkan di kehidupan nyata, paling tidak kita jadi tahu. Karena buku adalah kunci jendela dunia dan ilmu. Membaca bisa mengurangi kepikunan. Dan aku tidak mau jika tua nanti jadi orang tua yang pikun.
Masa yang paling bebas untuk membaca buku-buku kesenangan adalah saat aku sudah bekerja. Hasrat kesenangan yang sudah lama tidak bisa terpenuhi saat masih bersekolah dulu. Senang, karena bisa membeli buku-buku yang diidamkan dengan uang sendiri. Tanpa merepotkan orang tua. Aku membeli majalah wanita, majalah religi, buku-buku religi, novel, kumcer, buku-buku pengetahuan, juga komik. Serasa ada oase baru yang hadir di relung jiwa. Namun, aku juga tidak luput mengontrol keuangan. Tetap nomor satu dalam mengontrol pengeluaran setiap bulannya.
Yang lebih senang lagi, saat sudah memiliki akun facebook. Penjelajahan tentang buku dan dunia tulis-menulis semakin luas. Setelah membaca, terkadang aku ingin menuliskan sesuatu. Entah itu puisi, opini, cerita, dsb. Bahkan setelah menyenangi fiksi, aku senang belajar menulis fiksi dari facebook. Dan berteman dengan banyak penulis juga penerbit buku. Lebih mudah membeli buku fiksi dan pengetahuan lainnya dengan via online dari penerbit buku. Aku bisa leluasa membeli novel, kumcer, buku pengetahuan, dll, dengan mudah, murah dan cepat berada di tangan.
Kini, memiliki buku untuk dinikmati isi tulisannya semakin mudah dilakukan. Membeli dari via online buku langsung dari penerbit dan penulisnya. Koleksi buku dan pengetahuan bertambah. Merasakan kejenuhan rutinitas itu tidak terlalu terasa setelah membaca buku dan menulis. Seperti hiburan tersendiri dalam memenuhi hasrat jiwa yang keruh. Namun perlu juga dipahami, bahwa untuk memiliki sebuah hasrat dan impian itu harus diperjuangkan. Misalnya, jika kita ingin membeli sesuatu yang diidamkan walau sudah memiliki penghasilan sendiri, berusahalah menabung. Jika tidak, maka akan menimbulkan masalah baru. Krisis keuangan. Bagaimana dengan kamu, sudahkah hari ini memenuhi hasratmu membaca buku? Buku apa yang kamu miliki? (*)
.
Lippo Cikarang, 15-Maret-2016.
.
Lippo Cikarang, 15-Maret-2016.

Hari ini sudah baca Kumcer Eka Kurniawan, tapi masih butuh banyak buku lagi Mbak Rosi hehh :D
BalasHapusWah, aku belum punya buku Eka Kurniawan. Kenal nama penulis itu baru tahu di grup :) makasih udah mampir ya.. Kamu keren mbak Ratna, masa muda yang tidak pernah disia-siakan dengan cara memuaskan hasrat membaca.
BalasHapus