SARINAH BERSAMAMU
Oleh
: Rosi Ochiemuh.
/Ibu.
Di
langit-langit kamar selalu saya pandangi dengan dalam, ketika kesedihan
melanda. Napas seakan sesak dirasa. Kenapa hidup saya seperti ini yang selalu
tertoreh air mata, berpoles warna kelabu? Betapa sesaknya dada saat anak saya
melukai hati dengan sikapnya. Begitu tidak pedulikah dia pada perempuan tua
ini. Anak lelaki saya seperti sedang menghukum ibunya. Saya merasa dihukum oleh
dia atas kelalaian selama ini menjadi orang tua.
Bangun tidur yang dipanggilnya bukan
ibu, melainkan nama perempuan lain. “Bibi Sarinah! Kemana dirimu?” gumam anak
lelaki saya. Dia memanggil nama orang lain di hadapan saya. Betapa kesalnya
hati. Siapa yang selama ini telah melahirkanmu, Nak? Merawatmu dan
menafkahkanmu? Kalau bukan saya siapa, Nak? Keluh dalam hati yang semakin
menjadikan ocehan ini begitu panas di dada.
Padahal saya sudah menyiapkan
keperluannya. Mulai dari pakaian kerjanya, sarapannya, tas kerjanya. Kenapa dia
masih memanggil perempuan itu? Apa salah saya, Tuhan? Bagi saya dia sedikit
kejam memperlakukan ibunya ini. Disadari diri ini memang sekarang tergantung padanya.
Dulu saya yang mengasuh, membesarkan dan mencari nafkah. Saya bekerja banting
tulang untuk dia—buah hati--yang sangat dicintai. Kelelahan selepas bekerja
selalu menjadi alasan saya untuk lengah dari memerhatikan dia. Kenapa bisa
begitu? Suami saya hanya bekerja serabutan, dan masih memiliki hutang piutang
kebutuhan sekunder dan premier. Kalau saya diam dan tidak turun
tangan, bagaimana untuk membayar dan membiayai kebutuhan dia, saya dan anak
kami.
Perempuan itu memang saya pekerjakan
untuk membantu mengurus anak saya. Sarinah namanya. Dia memang tetangga saya,
dan sejak suami saya meninggal dunia, beban saya semakin bertambah. Mau tidak
mau harus mencari nafkah, menyambung hidup demi anak lelaki saya. Sarinah
selalu tepat menyiapkan segala keperluan anak lelaki saya. Hingga sampai anak
saya lulus sekolah, dia masih tergantung kepada Sarinah. Mungkin itulah
kesalahan saya.
Anak lelaki saya tiba-tiba datang
dari pulang bekerja malam harinya. Kemudian dia menciumi pundak lengan saya.
Tidak pernah saya merasa dia sekidmat itu ketika menemui saya. Saya beri
senyuman, berharap bisa meringankan lelahnya setelah seharian bekerja di luar.
“Bu, Bi Sarinah kemana?”
“Ada di rumahnya. Sekarang dia
sedang mengurus suaminya yang sakit.”
“Bu, bolehkah Said menjenguknya?”
“Boleh, Nak. Silakan saja.”
Dia memandangi saya lama. Kami saling
beradu pandang. Ada rasa rindu yang dalam mungkin di hati anak lelaki saya pada
ibunya ini. Saya hanya bisa tersenyum dan mencari apa yang sedang
dipikirkannya.
“Bu. Maafkan Said,” ucapnya lirih
yang membuat saya terkesan dan bingung.
“Ibu akan selalu memaafkan anaknya,
karena seorang ibu selalu merasa bahwa anaknya adalah bagian dari dirinya sendiri.”
“Said merasa selama ini cuek sama
perhatian ibu akhir-akhir ini. Said minta maaf, Bu.” Saya mengangguk hangat
merespon permintaan anak lelaki saya itu. Sikapnya kemarin-kemarin mungkin
ujian kecil dari Tuhan.
//AnakLelaki.
//AnakLelaki.
Mungkin
ibu merasa bahwa aku adalah anak yang sikapnya menyebalkan. Sejak kecil aku
selalu merasa bahwa ibu hanyalah seperti identitas pelengkap dalam hidupku. Ini
membuat aku semakin meliarkan perasaan pemberontakan di hati, saat dulu yang masih
kupenjara. Tidak ada anak yang mau tak diacuhkan. Tetapi aku, sejak kecil selalu
merasa kurang kasih sayang ibu.
Ibu pergi pagi-pagi sekali di saat
aku masih terlelap tidur dan pulang ke rumah ketika aku pun sudah lelah
bermain. Sedih, kesal, kenapa ibuku harus bekerja di luar rumah? Bibi
Sarinahlah yang selalu mengasuh dan merawat sejak kecil. Sehingga aku sudah
terbiasa untuk mengingat dia. Meminta mengerjakan semua kebutuhanku. Tempatku
bertanya, berbincang, mengadu dikala ibu tidak mau diganggu saat badannya
sudah letih. Bapak, dia pun sama. Malah bapak jarang sekali berbincang padaku
dan ibu. Dia datang ke rumah di saat aku dan ibu sudah tidur.
Bibi Sarinah hanya menjagaku dari
pagi hingga setelah Isya. Lalu dia pamit pulang untuk mengurus keluarga juga.
Aku terkadang mengagumi Bibi Sarinah, perempuan yang sangat kuat dan hebat.
Bagaimana tidak hebat, dia bangun di pagi buta untuk menyiapkan keperluan suami
dan anak-anaknya lalu ke rumahku untuk
mengasuhku demi biaya hidup. Bahkan aku sampai akrab dengan anak-anak dan
suaminya, karena jika ibu pulang kerjanya masih lama, aku terpaksa dibawa ke
rumahnya.
Bapak sempat berpesan sebelum dia
meninggal ketika umurku delapan tahun, “Jaga ibumu. Jangan pernah menyakiti
hatinya. Cukuplah bapak yang tidak pernah membahagiakan dia.” Kata-kata itu
terngiang selalu diingatan ini. Seperti sebuah beban yang bapak lepaskan dari
punggungnya dan dia letakkan ke punggungku yang baru berusia delapan tahun.
Kulihat ibu menangis tiada henti dengan terlihat air mata yang selalu mengalir
di pipi. Tidak kulihat ibu meraung, mengeluh, atau pingsan di atas pusara
bapak. Dia terpaku tegak berdiri meski air matanya terus mengalir deras. Setelah
pemakaman bapak selesai dan kami pulang, ibu langsung memelukku erat dan lama. Terasa
pundakku basah karena air matanya.
Setelah tamat sekolah, aku nekad
bekeja demi bisa membantu perekonomian keluarga. Bibi Sarinah yang sudah
diberhentikan ibu untuk mengasuhku karena aku sudah sekolah SMU waktu itu. Tapi
Bibi Sarinah masih sering menyambangi dan memerhatikan aku layaknya anak
sendiri. Ibu sempat merasa resah, karena di rumah dia selalu dibantu oleh Bibi Sarinah. Aku tidak bisa menolak kehadiran Bibi Sarinah. Biarlah dia lakukan
niat baiknya.
Aku bekerja sebagai buruh pabrik plastik.
Gajiku lumayan untuk mencukupi kebutuhan kami berdua. Ibu sudah tidak kusuruh
bekerja lagi sejak aku mendapatkan pekerjaan. Kini giliran aku yang bekerja
banting tulang demi bisa membahagiakan ibu, membuat ibu tidak kesulitan. Aku
sekarang kepala keluarganya. Ibu terkadang mengurus keperluanku. Tetapi selalu
saja Bibi Sarinah yang lebih cepat menyiapkan semua. Aku terima saja apapun
yang dilakukan Bibi Sarinah yang kuanggap seperti ibu sendiri. Hingga
sepertinya Ibu cemburu dengan Bibi Sarinah.
“Bibi, maaf. Bibi sekarang sudah
tidak menjadi pengasuh Said lagi. Jadi saya mohon, biarkanlah semua pekerjaan
di rumah ini saya kerjakan. Termasuk mengurus keperluan Said,” ucap ibuku pada Bibi
Sarinah terdengar dari luar.
“Bukannya begitu, Bu. Saya hanya
rindu pada Said. Sejak Said umur empat bulan, saya merawat dan mengasuhnya.
Bukan karena saya butuh uang juga, tetapi saya sudah terlanjur menyayangi anak
ibu layaknya anak sendiri. Saya tidak bermaksud apa-apa, Bu,” ujar Bibi
Sarinah. Kalimat dan intonasinya masih sama seperti dulu, begitu tenang.
Ibuku terdiam sebentar. Lalu
terdengar lagi ucapan ibuku yang membuatku tidak percaya. “Saya mohon, Bi. Anda
jangan datang lagi ke rumah ini tanpa saya panggil atau undang. Saya ingin
memperbaiki lagi hubungan saya dengan Said.” Suara ibu terdengar parau dan
serak. Ada sedih tersendat di ujung kerongkongannya.
Dan yang tak kalah membuatku panik,
saat ke rumahnya untuk menanyakan hal itu, Bibi Sarinah matanya berkaca-kaca.
Sepertinya ucapan ibu sedikit melukai perasaannya yang lembut itu. Meski ibu
mengucapkannya secara halus, toh kalimatnya masih tidak mengenakkan hati.
Aku kesal jadinya. Kenapa ibu tidak
bijak dalam menanggapi hal ini. Kecemburuan ibu seharusnya bisa dikendalikan.
Jujur saja jika aku ingin mengungkit masa lalu, aku lebih cemburu ketika ibu
sibuk menelpon rekan kerjanya dan cuek kepada anaknya ini. Lalu saat aku
menginginkan perhatiannya, dia terlihat dingin dan memilih untuk tidur lebih
awal. Saat itu aku sangat membutuhkan perhatiannya ketimbang uang jajan atau
mainan.
///Ibu.
Sepertinya Saya sudah merasa lega.
Anak lelaki saya tidak mengacuhkan saya lagi. Ya Tuhan, rasanya tidak
dipedulikan darah daging sendiri itu sangat menyakitkan. Apalagi jika
diperlakukan tidak adil dan kasar oleh anak sendiri. Said mulai menerima apa yang
saya lakukan untuk dia. Mengurus keperluannya. Lalu di suatu pagi, dia duduk di
samping saya dan sepertinya ingin menyampaikan sesuatu, seperti diskusi antara
ibu dan anak.
“Bu, Said ingin menikah,” ungkapnya
yang membuat saya merasa senang. Tiba-tiba saya sedikit bingung dengan siapa
dia akan menikah. Apakah nanti akan mendapatkan perempuan yang baik?
“Siapa perempuan pilihanmu, Nak?”
tanya saya risau.
“Said ingin menikah dengan anak
perempuan Bibi Sarinah. Jilan namanya Bu. Apakah ibu merestuinya?” Saya
terkejut mendengar ucapan anak lelaki saya. Kenapa dunia itu begitu kecil? Dia menikah
dengan anak pengasuhnya sendiri. Dan pastinya Sarinah akan menjadi besan saya.
Gamang menyelimuti. Lalu saya berpikir untuk memberikan syarat.
“Ibu akan merestui pernikahanmu,
dengan satu syarat; kamu dan istrimu harus tinggal di rumah ini bersama ibu.
Siapa yang bersama ibu lagi jika kamu tidak tinggal di rumah ini?” Saya menatap
anak lelaki saya dengan lekat. Rasanya bulir-bulir air mata saya akan segera
jatuh. Dia sepertinya merasakan apa yang saya rasakan.
“Baiklah, Bu. Said dan istri akan
tinggal bersama ibu di rumah ini.” Saya senang mendengarnya. Dan saya tidak
akan kesepian, mengingat usia saya sudah tua dan siapa yang akan mengurus saya
juga rumah peninggalan suami saya ini.
Saya tahu tentang ketidakadilan dan
ketimpangan kasih sayang pada anak saya itu ketika dia kecil. Saya pun merasa
tersiksa disaat mencari nafkah di luar rumah dan menjadi ibu yang kurang baik
baginya. Semua dilakukan untuk bisa bertahan hidup.
Pernikahan anak lelaki saya
berlangsung hikmat, lancar dan mengesankan. Sarinah menerima saya dengan tangan
terbuka, dan kami sama-sama berstatus janda saat ini. Suaminya sebulan yang
lalu meninggal dunia karena sakit. Akhirnya Said membawa istrinya ke rumah
diikuti oleh Sarinah.
“Bi Sarinah, menginap semalam di
sini?”
“Saya bukan menginap semalam di
sini, Bu. Tapi, Said mengajak saya untuk tinggal bersama ibu juga. Lumayan
untuk membantu kalian,” ucapnya yang membuat saya bengong. Sarinah pengasuh
anak saya itu, ternyata saya dan Said tidak bisa lepas darinya. Sarinah selalu
bersamamu, Nak. Mungkin ini adalah ujian kecil dari Tuhan untuk saya di
penghujung senja.
(judul ini akhirnya
mendapatkan isi ceritanya, setelah beberapa minggu lalu, berbincang tentang tragedi
Sarinah. Yang tadinya hanyalah sebuah obrolan komenan di facebook dan sekarang bisa dibuat juga ceritanya. Ide cerita tiba-tiba muncul).
Lippo
Cikarang, Jumat; 29-Januari-2016. Oleh : Rosi Ochiemuh.
Rumus Perhitungan Prediksi Shio Togel Online Paling Akurat
BalasHapus