Langsung ke konten utama

LELAKI SETENGAH__CERPEN_Karya: Rosi Ochiemuh.



LELAKI SETENGAH.

Oleh : Rosi Ochiemuh.

          Mata telanjang mereka sebenarnya mampu membuat wanita bertekuk lutut. Mereka lelaki berkelamin. Bagiku menjijikkan. Makhluk paling menjijikkan seperti bubur basi dan sejenisnya yang lembek. Semua orang tiada mengira mereka adalah kumpulan lelaki perkasa yang amnesia pada jiwa kelelakiannya. Aku muak! Karena mereka merendahkan derajat lelaki sejati.

         “Do …, pijitanmu menggairahkan,” desis pelangganku bagai ular berbisa. Bersyukurnya kali ini aku hanya disuruh memijat tubuh mereka seperti kemarin-kemarin. Para lelaki paruh baya itu bergantian minta dipijit oleh tangan kekarku. Mereka bilang aku berwajah cantik maskulin dan mengemaskan meski hanya memijat.

          Hati mereka sudah terjajah nafsu, juga buta dan tuli. Desa ini bagaikan surganya para mesum. Mungkin akan lebih dulu jadi penghuni neraka jahanam dari manusia lain. Kapan aku bisa terbebas dari mereka? Prilaku menyesatkan. Kepala desanya mesum, RT-nya mesum, warganya tak kalah mesum. Perjudian legal tengah malam di rumah siapa saja, minum-minuman keras, wanita jalang dan kumpulan waria tercecer tengah malam hingga pagi di alun-alun. Desa gila!

           Aku muak dengan keadaan di tempat kelahiranku ini sekarang. Dimana setiap kali teringat cinta kasih dari mendiang ibu dan bapak yang terkotori. Aku yatim-piatu. Umur sembilan tahun Pak Deko—pamanku mengambil alih hak asuh. Dia punya warung yang lumayan besar omsetnya permalam. Buka jam sembilan malam sampai jam empat pagi. Warungnya terkenal dari desa ke desa. Karena punya fasilitas kesenangan yang disukai lelaki. Mulai dari permainan lotre, domino, catur, hiburan televisi dan panti pijat murah. Dimana dalam rumahnya dijadikan untuk tempat pijat dadakan. Pelayan pijat, aku dan Nano—anak lelaki--Pak De. Pak De seorang duda beranak satu, istrinya dulu menceraikannya karena takut miskin.

           Warung seberang Pak De, milik seorang janda bertubuh montok bernama Bu Jila. Berdiri dua tahun yang lalu. Dia punya tiga pelayan yang semuanya wanita seksi. Ketiganya pandai memijat juga. Warung itu melayani makanan, minuman, permainan domino, gaplek, lotre dan pijat plus-plus. Warung Bu Jila tak pernah sepi, selalu ramai pengunjung oleh lelaki hidung belang dan lelaki kurang kasih sayang. Kabarnya, pelayan wanita di warung Bu Jila itu sering juga melayani permintaan pijat plus hubungan intim. Tarifnya satu sampai dua juta semalam.

           Sejak muncul warung Bu Jila, muncul juga di warung Pak De, pelanggan yang aneh meminta dilayani pijat plus-plus. Pelanggan itu biasanya begitu di warung Bu Jila kemudian dia ingin mencoba sesuatu yang aneh. Pak De memandangiku dengan wajah aneh. Kok bisa ada jeruk makan jeruk, batin kami. Pelanggan malah bilang kalau dia sudah bosan main dengan perempuan. Dia juga bilang, kalau aku buat mereka menggairahkan. Sejak itulah Pak De menyanggupi untuk memberikan pelayanan dariku untuk pelanggannya. Tapi aku memegang prinsip, keperkasaan ini kupersembahkan hanya untuk perempuan yang kucintai. Sejak itu pula aku merasa jijik dengan pelanggan-pelanggan Pak De.

            “Do! Mbok ya kamu itu jangan sentimen gitu, biar rame iki warung. Lumayan duitnya buat jajan kamu juga,” ujar Pak De setelah mendapati wajah ketusku memijat pelanggan seorang preman dari luar desa.

            “Pak De. Aku takut desa akan dihantam bencana karena perilaku aneh warganya. Apa kelakuan mereka itu di luar logika dan ajaran agama?” ucapku ceplas-ceplos.

            Pak De terdiam. Namun dia tak peduli. Lalu melengos ke dapur. Di hati yang paling dalam Pak De, kutahu dia sangat merasa berdosa dengan keadaan yang dijalani saat ini. Dahulu Pak De seorang muslim yang taat, rajin ke masjid sewaktu mendiang bapak masih hidup. Kakekku seorang guru mengaji di masjid kemudian menurun ke bapakku, dan Pak De. Kemiskinan membuat bapak dan ibu tak bisa tertolong karena sakit malaria. Warung Pak De yang saat ini berdiri dulunya adalah warung milik kakek yang hanya kedai kopi biasa, tempat berkumpulnya para sesepuh. Sejak bapak dan ibuku meninggal karena sakit malaria, sejak itulah Pak De memutuskan untuk membuat warungnya ramai dengan cara apapun. Setelah umurku lima belas tahun, warung Pak De tersohor kemana-mana sampai ke warga kota. Warung serbaneka dengan kelezatan makanan, minumannya dan pelayanan pijat.

            Kebencian tertanam di hati setelah warung berubah menjadi sesuatu yang memuakkan bagiku. Jeruk makan jeruk mulai jadi kebiasaan warga. Mereka tidak lagi menyukai kemolekan tubuh wanita. Mereka sekarang lebih terhibur dengan tubuh maskulin para pemuda tampan yang baru beranjak dan lelaki jadi-jadian. Mereka sudah gila! Awal mula itu terjadi sejak kedatangan seorang saudagar kaya raya yang rumahnya dekat kantor kepala desa tiga tahun yang lalu. Dia seolah menyebarkan virus itu kepada setiap lelaki di desa ini. Virus penyimpangan. Setiap pemuda nakal di sana diperbolehkan bermain di rumahnya dan mencoba satu persatu waria mereka dengan biaya murah, selepas dari sana pemuda di desa kami seperti dicekoki sesuatu yang aneh.

            Mereka bilang, sah-sah saja jika kita ingin melakukan hal yang di luar kebiasaan. Bercinta dengan bentuk yang sama, dan ternyata nikmatnya lebih dari itu, ujar mereka. Ya Allah, menurutku mereka sudah gila. Setiap melewati rumah-rumah tetangga, mereka sudah tak tabu lagi untuk menceritakan kegilaan penyimpangan mereka. Sambil tertawa terbahak-bahak menertawai waria yang mereka kerjai. Gila! Saudagar kaya itu konon meninggal di kamar mandi membusuk dengan tubuh telanjang bulat. Dan rumahnya dijual oleh pendatang kota yang menurutku sama juga kegilaannya. Rumah itu jadi gudang penyimpanan bahan jamu ilegal dan akhirnya digebrek, sekarang rumahnya menjadi angker.     

            Jika kekesalan dan kebencian ini memuncak, bergegas aku lari ke danau dekat padang ilalang. Danau itu selalu dijadikan tempat para pemancing ikan. Mulai dari bapak-bapak hingga anak-anak. Dulu aku sering mandi di danau itu, ada gubuk dan jamban di pinggirnya agak jauh dari tempat memancing. Kata Pak De, danau itu dahulu bening airnya. Sekarang semakin keruh menguning dan hampir menghitam. Mungkin terkotori oleh dosa-dosa penduduk desa, pikirku.

            Tak kupedulikan dua insan remaja asyik mesum, berciuman di tempat seperti ini. Danau ini selalu dijadikan tempat berkumpulnya para pecinta liar di malam Minggu, dan orang tua mereka tidak pernah menyeret mereka pulang ataupun marah dan memberikan hukuman. Muda-mudi itu akan hanyut dan tenggelam dalam keasyikan dosa. Pasangan remaja desa ini banyak yang mengatasnamakan pengorbanan cinta dengan saling menyerahkan pembuktian. Terutama pembuktian fisik yang terunggah di danau ini. Hingga batinku mengutuk mereka agar tenggelam bersama dalam danau, hidup-hidup dimakan para buaya.

            Azan berkumandang lima kali sehari hanya lewat telinga saja oleh mereka. Termasuk aku yang selalu merasa jijik dengan tubuh sendiri. Betapa tidak, setiap malam ada saja yang ingin dipijat. Sesekali mendatangi masjid besar desa yang dibangun bersama warga desa. Sepi dari salat berjamaah, sepi dari pengajian majelis taklim, sepi dari pengajian anak-anak, dan sepi dari keramaian beribadah. Kupandangi danau ini hingga ke relung hati. Apakah desa kami sewaktu-waktu akan diazab-Nya? Seperti kaum Soddom dalam ceramah guru agamaku yang kuingat, dia mengutipnya dari kitab Al-Quran. Kaum Soddom dibinasakan karena perilaku mereka yang menyimpang dan semakin liar.

            Hatiku merasakan kengerian cerita itu. Akankah sejarah akan berulang, dan desa ini dihancurkan dalam sekejab saja? Ya Allah. Apa aku masih pantas menyebut nama-Nya? Masih pantaskah aku sujud dihadapan-Nya. Air mata ini kadang terjatuh sendiri karena tidak sadar memikirkan itu semua. Padahal diri ini lelaki sejati. Apakah aku ini cengeng? Aku lelaki yang selalu diajarkan bapak untuk selalu kuat. Pada kasus saat ini, aku sangat lemah dan hina.

            “Rido! Nanti malam pelanggan kita dari kota datang. Ingin dipijat lagi seperti biasa,” ujar Pak De.

            “Rido mau pergi sebentar, Pak De. Setelah Maghrib. Ada urusan sedikit. Rido masih ingin cari kerja lain,” jawabku.

            Wajah Pak De seketika murung. Aku tahu apa yang ada dipikirannya, yakni dia tidak mau melepaskanku untuk bekerja di tempat lain. Tapi dia pun tidak mau memaksakan, karena aku bukanlah anak kandungnya.

            “Pak De …, jangan kuatir jika Rido nanti dapat pekerjaan lebih baik, Rido akan bawa Pak De pergi dari desa ini,” tegasku padanya yang masih meragukan tekadku.

            Pak De menatap wajahku dengan lekat, dari matanya tersirat bahwa dia pun lelaki rapuh yang ingin segera terlepas dari kungkungan kehidupan tak jelas ini.

            “Aamiin, semoga saja Do. Pak De tidak akan membatasi langkah dan tekadmu. Tetapi kamu masih bisa bantu Pak De jagain warung. Nano marah sama Pak De karena pelanggan kemarin,” ucapnya lirih.

            Nano kemarin malam diumpat habis-habisan sama pelanggan pijat Pak De, karena menjaga apa yang mestinya dijaga Nano. Mungkin pikiran Nano sama sepertiku, meski dia baru tamat sekolah dengan beasiswa gratis, bukan berarti pola pikirnya sama dengan warga sini. Kolot dan keras kepala. Nano pernah ingin merantau ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Meskipun uang hasil warung Pak De terbilang lebih besar pendapatannya dari warung biasa, toh Nano tetap terbuka untuk menatap masa depan dunia akherat.

            “Rido akan bicara sama Nano, Pak. Nano sekarang dimana?”

            “Katanya dipanggil Bu RT untuk mengurus acara rapat warga besok.” Aku mengangguk.

            Kodir teman sekolahku sering mengajak berbincang-bincang. Aku pikir hanya dialah lelaki yang lebih baik dari warga desaku. Dia sering terlihat di masjid untuk salat. Terkadang dia juga sering pergi mengajarkan mengaji anak-anak. Dia sering bercerita masa depan, dimana aku sering berbunga-bunga memimpikan masa depan yang lebih baik.

            “Sudah bilang sama Pak De kamu mau ketemu aku?” tanya Kodir. Kami bertemu janjian di masjid.

            “Sudah. Kamu mau berikan kabar apa padaku? Ada lowongan pekerjaan, ya?” ucapku dengan antusiasnya.

            “Aku ingin ngobrol-ngobrol lagi sama kamu, Do. Tapi nggak disini. Boleh, kan?”

            Aku sempat berpikir dengan ucapannya itu, padahal Pak De bilang agar tidak berlama-lama. Aku janji sama Pak De untuk membantu menjaga warung. Nano masih belum bisa diharapkan Pak De karena masih kesal. Lama kuberpikir, dan akhirnya aku memutuskan untuk menuruti ajakan Kodir. Berharap ada lowongan kerja untukku.

            “Baiklah.” Kumenyanggupi.

            Lelaki berperawakan tinggi atletis, kulit putih, bermata sipit, berhidung mancung, berwajah tampan berjalan di depanku. Aku mengikutinya. Menurutku bentuk fisiknya itu begitu sempurna sebagai seorang lelaki.

            “Sudah sampai, Do. Ini markasku yang spesial. Agak dekat dengan arah danau. Disinilah aku menyendiri saat sedang ada masalah,” ucapnya sambil menunjukkan sebuah gubuk yang rapi dengan tanaman hias bunga-bunga di depan terasnya.

            Saat masuk ke dalam, aku sedikit merasakan di dalamnya begitu aneh. Wangi seperti kamar perempuan. Tak ada bau lelaki di sini, bau asem, keringat, atau bau apek. Dindingnya berwarna pink, ruangan itu ada satu ranjang besar dengan sprei merah jambu, bingkai foto Kodir, meja, bangku panjang, cermin dan vas bunga. Sedikit curiga dengan kamarnya. Tapi mungkin Kodir memang type seorang lelaki pembersih, sesuai dengan penampilannya setiap hari.

            “Kamu yang merapikan kamar ini?”

            “Iya. Silakan duduk Rido. Kita bisa ngobrol-ngobrol dengan leluasa,” ujarnya.

            Aku duduk dibangku panjang. Kodir menutup pintu kamar itu dengan rapat. Dia duduk di depanku dan melepaskan pecinya. Saat dia duduk, aku terkejut tangannya menggenggam jemariku. Apa ini? Tapi dia tersenyum ketika bersitatap penuh di hadapanku.

            “Kamu pasti terkejut dengan tempat ini, dan genggaman tanganku, Rido,” ucapnya membuatku menjadi horor.

            “Apa yang mau kamu obrolin, Kodir?”

            “Sebenarnya, sejak dulu. A-aku …”

            “Apa?” tanyaku tegas. Suasana makin sunyi di tempat ini.

            “Aku suka sama kamu Do. Malam ini maukan kamu menginap di kamarku?”

            Secepatnya kusentak genggaman tangan Kodir dan sikap kelelakianku yang garang keluar. Aku terkejut mendengar penuturannya yang jauh dari pemikiranku tentang dia yang alim, rajin salat dan bukan seperti mereka.

            “Kamu gila! Aku lelaki tulen, mana mungkin suka dengan kamu—lelaki!” Kodir terkejut, wajahnya pias seketika mendengar teriakanku.

            “Kamu tahu, Do. Aku menyukaimu. Aku berani berkorban apa saja demi kamu, Do,” ujar Kodir buka suara yang membuatku bertambah jijik padanya.

            Bergegas menjauh darinya dan mencari jalan keluar. Segera kumendorong dia yang menghalangi. Aku berlari meninggalkannya dan tempat gilanya itu. Gila, pengorbanan cinta apa yang dia mau berikan untukku? Mendengar dia menyukaiku saja rasanya sangat jijik. Tepat sampai di danau aku berhenti. Napasku tersengal-sengal dan segera berteriak.

            “Brengsekk!! Kalian brengsek!! Teriakku sambil melemparkan bebatuan apa saja ke danau. Ketika kaki melangkah untuk pulang, kumelihat sosok remaja yang kukenal rambut dan postur tubuhnya sedang beduaan dengan seorang perempuan gemuk. Kudekati dan menegaskan dengan saksama.  “Astaga! Nano! Kamu …,” ucapku spontan saat melihatnya sedang bercumbu dengan perempuan paruh baya, yang  tak lain Bu RT.

            “Maaf. Mas Rido. Na-Nano …,” belanya gugup.

            “Kamu sedang apa dengan Bu RT?!” teriakku, tanpa mau memandang lagi perempuan di sampingnya. Dia terkesiap dan langsung membenahi kancing bajunya yang terbuka. “Terserah kamu, No! Kalian Mesum!” Aku berlari kencang setelah mengumpat mereka. Mataku tidak siwer apalagi rabun. Jelas-jelas kupergoki mereka sedang berciuman, dada Bu RT yang menggumpal itu sedang dinikmati bibir Nano.

            Setelah pulang ke rumah. Kulihat warung depan rumah belum dibuka sudah jam sembilan malam. Kemana perginya Pak De? Pikirku. “Pak De!” teriakku. Aku mencarinya ke ruang tamu, dapur, kamar mandi, kamarnya, kamarku, kamar Nano. Pak De tidak ada. Kulihat ada amplop putih di meja ruang tamu. ‘Untuk Rido’ tertulis untukku. Lalu kubuka suratnya.

            “Rido, kamu pasti terkejut dengan surat ini. Juga dengan ketiadaan Pak De di rumah. Pak De pamit pergi ke rumah adik angkat kakekmu yang tinggal di desa seberang, agak jauh perjalanannya. Pak De dapat surat darinya, bahwa dia ingin bertemu Pak De. Dia seorang guru ngaji di sana sudah sepuh. Dia pesan, supaya Pak De pindah dari desa sebelum pagi tiba. Tapi Pak De tidak tahu kenapa. Akhirnya Pak De berniat untuk pergi sebentar ke desanya, hanya sekedar  rindu padanya. Titip Nano, ya. Kalau kamu penasaran, bisa menyusul Pak De ke alamat di bawah ini.” __Pak De.

            Aku bergegas mengemas pakaian ke dalam tas ransel dan menyimpan surat itu. Niatku malam ini ingin mengajak Nano untuk menyusul Pak De. Setelah aku keluar, Nano berdiri di depan pintu.

            “Mas Rido, mau kemana?”

            “Mau nyusul bapakmu. Pak De pergi ke rumah eyang, katanya kalau mau nyusul, nyusul aja. No, kamu ikut aku nyusul bapak,” ucapku sambil membujuknya.

            Nano geming. Lalu menggeleng, tanda dia tidak mau ikut denganku.

            “Yakin nggak mau ikut? Tanyaku lagi. Tapi dia menggeleng lagi dengan ketus.

          Kubergegas keluar meninggalkan Nano yang masih mematung mungkin dia masih memikirkan kejadian tadi. Dengan langkah cepat, menyusuri lereng bukit, lalu menaiki angkutan desa yang mengarah ke jalan raya Entahlah apa yang menggerakkan kakiku untuk segera pergi menyusul Pak De. Jam sebelas malam meski sudah hampir larut, masih ada tumpangan untuk ke jalan raya. Sampailah di depan jalan raya. Setelah aku turun dari angkutan desa. Terdengar suara keras gemuruh dari belakang lereng bukit. BRRRUGG!!! KRAKKK! Aku menoleh ke belakang, kakiku terperosok tanah yang bergeser turun. Mencoba untuk bergegas naik ke atas menuju jalan raya. Saat melihat ke belakang, kudapati tanah pebukitan longsor menutupi desa. Seketika kuteringat Nano dan warga desa.

TAMAT.

Cikarang, 25-November-2015.

           





           

           




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.