Langsung ke konten utama

KUINGIN DIA KOMA SATU PEKAN__CERPEN Karya : Rosi Ochiemuh.



KUINGIN DIA KOMA SATU PEKAN

Oleh : Rosi Ochiemuh.

            Kekeringan di tahun dua ribu lima belas kemarin. Tahun akut menurutku. Akut bukan berarti untuk negara ini. Akut itu bahasa nuraniku yang sudah hampir sekarat dan berkarat. Ingin didiagnosakan ke psikiater atau dokter kejiwaan. Tapi aku takut benar-benar jadi orang gila. Bukan sekedar halusinasi, namun sebuah tekanan batin yang rumit dan pelik hingga mengakar setiap tahunnya.

Bisa kalian bayangkan, aku ini adalah seorang istri. Hidup bersama dengan pecandu alkohol, perokok dan gila judi. Belum lagi sesuatu yang berbau mesum dan menjijikkan lekat jadi satu. Lelaki yang dulu mati-matian dibela karena cinta buta. Yang diagungkan karena cinta buta. Kini lerai sudah rasanya untuk mencintai apalagi memandang hormat. Aku memang gila. Gila karena perbuatan keji dan murkanya setiap hari.

Roni seseorang yang menjadi impian cintaku. Setelah melabuh kepadanya dan punya anak satu, cinta itu terbang dari hatinya. Mungkin aku ini satu-satunya atau kesekian wanita yang dibohongi dan digombali hingga hamil dan beranak. Aku selalu mengungkit kata-kata cinta Roni. Tentang rayuan dan kebaikan bak orang alim. Dan dia ternyata serigala berbulu landak. Landak pun tak mau melukai, tapi lelakiku ini hampir hilang hatinya. Tapi bodohnya aku tidak meminta talak sekalipun.

"Mana kopiku, Desi!" teriakan keras saat dia baru pulang selama seminggu menghilang.

"Mengapa tak ada makanan! Kemana uang yang kukirim?" gertaknya lagi.

"Abang seminggu tak pulang, Abang hanya beri uang selembar. Mana cukuplah buat aku dan anak-anak kita. Aku ikut cari uang jadi kuli mencuci," ucapku menelan kelam perih di dada.

"Jadi! Kau mau mempermalukan suamimu dengan menjadi tukang cuci baju?!" teriaknya.

Entahlah, dia hanya bisa berteriak. Dia hanya bisa menuding. Dia hanya bisa menuntut haknya. Tanpa tahu apa kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah. Mata ini memerah berair. Kelima anak-anak itu akan selalu jadi korban ketidakharmonisan kami.

Setelah perbincangan tak menyenangkan, dengan dalih aku tidak becus jadi seorang istri yang baik untuknya, dia pergi dengan membanting pintu. Tanpa tahu anak pertamanya mendengus kesal, tanpa tahu anak-anaknya semakin membenci ayah kandung mereka. Kupikir itu bukan salahku, tapi kegilaan jiwanya yang semakin meninggi.

"Mak! Jangan menangis. Eka akan selalu menjaga dan membantu, Mak. Eka sayang Mak. Dia bukan bapaknya Eka."

Aku terduduk lemas, rasanya letihku bertambah banyak seperti jutaan batu-batu yang besar menindih dada ini. Sesak menyeruak hingga ke kepala dan menjadi pusing melingkari kanan-kiri pelipis. Tidak kusangka, anak pertamaku berkata seperti itu. Usianya baru sepuluh tahun, tetapi sudah mengerti dengan perasaanku dan sikap ayahnya.

Setelah kepergian Bang Roni yang kesekian kali dan entah berapa puluh kali berulang. Datang dan pergi seperti jelangkung saja. Aku berharap dia benar-benar jadi jelangkung dan bukan manusia, biar tidak ada wanita manapun yang mencintainya apalagi mengasihani. Aku ingin dia menjadi orang yang sangat dipandang jijik oleh para wanita dan sekitarnya hingga tidak ada lagi tempat nyaman baginya kecuali aku.

Rasa benci itu terkadang menyeruak makin bergeligis sendiri jika teringat akan sikap dan ucapan yang menyakitkan darinya. Namun bagaimana pun, dia adalah bapak dari kelima anak-anakku. Begitu mudah dia mencetak anak dari rahimku. Mendatangi, menikmatiku kemudian memandangku jijik saat aku mengandung dan melahirkan. Larilah dia ke pelabuhan wanita lain.

Terkadang alkohol, rokok dan judi jadi satu kegilaan yang menyiksaku dan anak-anak. Datang dengan mulut berbau minuman haram itu, kemudian uang gajinya sepertiga disisakan untukku, selebihnya digadaikan di meja judi. Jika kekalahan menderanya, dia melampiaskannya di rumah. Dimana anak-anak merasa takut dan tersiksa dengan ucapan kotor dan sikap kasarnya. Ah, rasanya aku berpikir untuk menggorok tangan dan kakinya dengan parang panjang. Kemudian kurebahkan dia di ranjang tempat kami selalu bercinta dan kubiarkan dia mati perlahan.

"Mak! Kenapa tak pergi saja dari Bapak?" tanya Eka.

"Mak bingung pindah kemana, Eka. Sedang Mak tidak punya uang untuk pergi kemana-mana," jawabku lirih.

Eka menggepalkan tangannya sambil berdengus. Anak berumur sepuluh tahun itu bisa merasakan kekesalan panjang dan hebat seperti orang dewasa. Mungkin jika dia seorang anak laki-laki, kepalan tangannya itu akan dilayangkan ke muka bapaknya. Aku sempat merasakan kekesalan Eka begitu panjang dan tertahan, hingga semakin lama akan memuncak menjadi pemberontakan yang tak terkendali.

Suatu pagi yang tenang. Eka dan adik-adiknya menyibukkan diri untuk berangkat ke sekolah. Roni pulang ke rumah dengan seperti biasa, mulutnya berbau alkohol yang membuat perutku mual. Wajahnya terlihat penuh dengan sesuatu yang membuat hati ini mendidih, tanda merah di pipi, leher, kerah bajunya dan telinga kirinya. Kuamati, ternyata lipstik perempuan-perempuan bodoh telah menempel agung pada tubuh suamiku itu.

Roni langsung masuk ke kamar, entah sepertinya dia tidak melihatku atau memang matanya sudah buta dan telinganya sudah tuli. Dia masuk ke kamar sambil menahan dada kirinya dan mengerang setelah tubuhnya terebah di atas kasur.

"Bang! Kau pulang lagi dengan seperti ini?" tanyaku dengan teriakan kencang.

Aku sudah biasa melihatnya seperti itu, tapi kali ini sudah kelewatan, masuk tanpa mengucap salam, ditegur tak menjawab, dan matanya tak melihat wajahku sama sekali. Matanya mendelik ke bawah lantai. Apa lagi yang terjadi padanya, gumamku.

"Bang! Kamu ini kenapa?" kuulang lagi sambil mengikutinya.

Dia terbaring sambil memegang dada kirinya dan mengerang. Kutangkap bahasa tubuhnya dengan cepat memegang dada kirinya, kurasakan ternyata tubuh suamiku itu ada yang tidak beres. Dia sepertinya menahan sakit, Ya Allah! Dia ternyata ...

Aku bergegas menghambur keluar rumah menuju rumah tetangga siapa saja meminta bantuan mereka.

"Pak, Bu, Mang, Bi! Tolong suamiku! Dia sekarat!" teriakku ke kanan ke kiri, meminta bantuan.

Semua mata mereka tertuju pada teriakanku, kepanikanku dan langsung mendekati lalu memasuki rumah. Lima orang tetangga menghambur padaku berusaha menolong meski mereka dulu tidak pernah suka pada suamiku.

"Ada apa, Desi?" tanya ibu setengah tua tetangga dekat rumah, juga bapak-bapak tua yakni suaminya bersamaan.

"Suamiku sekarat di kamar, Bu, Pak, tolong bantu selamatkan," jawabku lirih.

Entah mengapa saat itu tiba-tiba air mata menetes di pipi dan aku sangat rapuh ketika kuberitahukan bahwa suamiku sekarat. Padahal selama ini selalu kuharapkan dia mati, dia susah, sakit dan menginginkan siksaan perih pada tubuhnya. Karena dendam, kesal pada semua perbuatan buruknya pada istrinya ini.

"Baiklah, Desi," ucap bapak dan ibu tadi segera menghambur ke kamar.

Mereka melihat suamiku makin mengerang sakit memegang dada kirinya. Lima orang tetangga yang kupanggil bergegas menolong. Ada yang mengurus tubuh suamiku, menekan dada kirinya, menusuk ujung jemari-jemari tangan, telinga dan jari kaki suamiku dengan jarum agar darah segar keluar. Tetangga ketiga memberitahukan bahwa suamiku kena serangan jantung, dan hanya dengan penanganan sementara seperti itu bisa membuat pembuluh darahnya berjalan lancar. Ada yang menelepon rumah sakit untuk memanggil dokter. Semua seperti keluarga yang siap memberikan bantuan apa saja padaku saat itu. Hingga saat suamiku berhenti mengerang, dia dilarikan ke rumah sakit dibantu oleh beberapa tetangga yang punya mobil pribadi.

Alhamdulillah, Roni langsung diperiksakan oleh dokter jantung. "Ini serangan jantung," kata Dokter itu. "Jika terlambat menanganinya dia akan meninggal dunia," lanjut Dokter itu, napasnya tersengal.

Setelah hampir tiga jam aku menunggu di rumah sakit, Roni masih dirawat. Ya Allah, cobaan apalagi ini? Aku tidak menginginkan ini. Rumah sakit di sini biayanya pasti mahal. Dan entah darimana aku bisa membayar pengobatan suamiku. Roni berada di ruang perawatan spesialis jantung koroner.

Aku duduk di ruang tunggu dengan termangu sendiri. Saat dia dibawa ke rumah sakit tadi, kutitipkan kelima anak-anakku pada tetangga. Meminta tolong menjaga mereka berlima di rumah selama aku di rumah sakit.

Ya Allah ..., aku hanya ingin dia koma sepekan saja, tetapi dengan syarat tidak merepotkan kami lagi. Ternyata kehendak-Mu berbeda, baru saja kudengar dokter itu memberitahukan bahwa suamiku baru saja koma, dan itu karena serangan stoke di saraf otaknya. Dokter bilang, tidak tahu sampai kapan komanya berakhir. Tetapi sementara pasien masih harus dirawat selama beberapa hari sampai dia sadar.

Aku terduduk lemas, kurasakan sumpah serapahku, cercaanku pada Roni, Allah kabulkan. Sakit hatiku pada suamiku terbalaskan di dunia ini, tetapi ..., kenapa harus meninggalkan beban lagi padaku Ya Allah! Darimana aku dapatkan biaya perawatannya di rumah sakit ini? Kepala seakan berputar hebat, kulihat kepala dokter itu berada di bawah setara dengan kakiku.

The End..

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.