Langsung ke konten utama

Coretan Latihan_Rosi_1

Belajar menulis dengan memakai dialog bahasa daerah, tentang muatan lokal. Setiap latihan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi terasah.
 
Judul : Kelakar Oding

"Mak! masak ini teros yo? Kok dak katek yang laen?" tanya si Oding, sambil membuka tudung saji di meja makan.

"Alah, Kau ini. Nak cak mano masaknyo? Hah!" jawab maknya kesal.

"Yo itu, kalau dak telok ceplok, telok rebus. Dak beken sambel pulok, alangke dak lemaknyo makan ni!" ujar Oding komplen.

"Jingok bapak Kau tu kalo ngasih duet. Be be em naik! Ngapo duet belanjo dag naik?" tutur maknya menggerutu.

Oding memandangi maknya yang mukanya ditekuk dalam. Serasa ada kegundahan yang tersimpan dalam raut wajah mak.

"Cak itu yo, teros apo hubungannyo dengan makanan ni, Mak?" tanya Oding lagi, pura-pura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu.

"Budak ni, lamo-lamo kugetok palaknyo pake wajan ni. Kalau Be be em naek! Segalo bahan makanan itu jugo naek hargonya, Ding!" gertak mak.

"Berarti cabe, laok paok jugo naek, Mak?" tanya Oding lagi.

"Bener nian anakku! Makonyo, terimolah apo yang Mak masak. Jangan berutu'an ye!" tutur maknya dengan kesal.

"Kalau cak itu, Oding makan tempat Nyai be. Di sano lemak-lemak masakannyo, Mak jugo biso behematlah," tutur Oding lagi, sambil pergi meninggalkan
maknya yang terbengong mendengarkan kata-katanya.

"Hadehh! tambah pusing Aku samo budak ni," mak menggeleng-geleng, sambil pegang keningnya.
(Cikarang-Bekasi,02-Desember-2014. Rosi.Ochiemuh)

*catatan : Latihan muatan lokal, pakai bahasa daerahku. hihihi... moga yang bacanya ngerti. Tidak mengerti juga, ya tanya ama yang nulis :D




Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...