Sedari dulu sudah dikatakan oleh sahabatmu, hendaknya berpikir yang panjang untuk menikah dengan Ivan. Pria yang sebenarnya kurang pantas untuk jadi pendamping hidup. Tapi, perjodohan tidak dapat dielak lagi. Semua sudah terjadi dan diatur oleh bapakmu.
"Sri, Ivan pria yang pantas untuk jadi suamimu," ucap Bapak meyakinkan. Seolah-olah dia tahu segalanya tentang pria itu berikut keluarganya.
Sejak remaja sampai kini, hidupmu selalu berdasarkan keputusan Bapak. Mulai dari masuk sekolah sampai diputuskan untuk berhenti sekolah. Hanya karena rasa bakti yang terpatri sejak kepergian Ibu kehadirat Illahi. Sebagai anak pertama kamu harus manut, demi adik-adik. Semua pekerjaan telah dilakoni demi membantu ekonomi Bapak.
Usia remaja yang ceria tergerus oleh kerasnya hidup. Kamu rela melepaskan masa remaja dan masa muda tanpa kenangan manis. Tanpa sesuatu yang biasanya terjadi diwaktu muda. Lepas begitu saja. Beberapa teman lelakimu yang sangat sayang pun rela kamu lepaskan. Hanya karena tak ingin keluarga terbengkalai, pikirmu. Bapak bisa marah, bahkan kecewa berat jika diusia sangat muda itu kamu menikah dengan laki-laki yang bukan pilihan Bapak.
Diusia kepala tiga perjodohan terjadi. Lantaran adikmu pun ingin menikah dengan pilihan hatinya, Bapak setuju. Betapa jauhnya perbedaan kebebasanmu dengan adik-adik atas perlakuan Bapak. Bahkan pendamping hidup pun harus dipilihkan tanpa lebih dulu bertanya padamu, apakah kamu suka atau tidak.
Ivan, pria yang sudah pernah menikah. Duda tanpa anak. Yang usianya lebih muda tiga tahun darimu. Katanya, Ivan seorang yang sudah mapan, dan tinggal bersama ibunya. Kabar angin hinggap di telingamu tentang kenapa Ivan menduda? Lantaran ibunya yang super protektif, diktator, hingga membuat istri pertama Ivan meminta cerai. Padahal pernikahan baru berjalan dua bulan. Entahlah apakah kamu bisa menjalaninya nanti?
Baru satu hari jadi menantu di rumah itu. Malam pengantin yang seharusnya dinikmati setiap suami-istri belum tercicipi olehmu. Kamu baru mengenal Ivan satu hari! Sangat kikuk dan belum terbiasa menghadapinya. Apalagi untuk sampai masuk ke dalam hidupnya. Sebagai seorang menantu, ibunya Ivan lebih dulu memberikan sesuatu padamu. Bukan wejangan atau hadiah pengantin. Tapi pekerjaan baru. Malam pengantin yang seharusnya kamu bersama suami, malah berada di dapur dan kamar ibunya. Kamu disuruh membersihkan dapurnya, kemudian memijat ibunya yang berada dalam kamar. Tak ada basa-basi lagi dari sang ibu mertua. Tapi kamu jalani saja sampai selesai.
Tak cukup sampai disitu. Saat kamu memasuki kamar pengantin. Anehnya, kamar itu dikunci Ivan dari dalam. Sedikit kaget dengan keadaan pertama kali berada di rumah itu. Kamu bahkan belum mengganti pakaian pengantinmu. Dengan berbesar hati, kamu tidur di ruang tamu di atas sofa panjang.
"Sri, kenapa kamu tidurnya belum ganti pakaian? Kenapa tidak tidur di kamar?" tanya Ibu mertua.
"Anu, Bu. Semalam kamar itu dikunci. Jadi saya tidur di sofa ini saja."
Mendengar itu, Ibu Mertuamu langsung menuju kamar anak lelakinya. Dan mengetuk. Tapi ternyata kamarnya tidak dikunci. Ibu Mertua melotot padamu dan menyuruhmu lekas mandi dan ganti pakaian. Karena dia sudah memberi intrupsi pekerjaan-pekerjaan. Pergi ke pasar, memasak makanan pagi, membereskan rumah dan lainnya. Betapa anehnya, padahal semalam kamar itu benar-benar terkunci dari dalam.
Tidak ada suamimu dalam kamarnya. Padahal baru pukul lima subuh. Ke mana dia? Mungkin saja kamu berpikir bahwa semalam salah menuju kamar atau belum tahu cara membuka pintu kamar. Aroma kamar berbeda. Ranjang yang dihiasi seprei merah muda berkilau ditaburi bunga-bunga itu terasa hambar. Kamar yang besar, dengan karpet hijau berbulu lembut di bawahnya. Meja rias, lemari kayu jati empat pintu. Dan lampu kerlap-kerlip. Ada aroma lain lagi. Seperti alkohol. Apa mungkin Ivan peminum? pikirmu. Tetapi baru saja menepis semua itu. Terlihat botol Wiskhy yang tersisa sedikit cairannya teronggok di samping meja kecil.
Kamu merasa dirimu seperti patung pajangan di rumah itu. Bahkan saat berhadapan dengan Ivan, dia terlalu banyak diam. Saat di kamar pun dia tetap belum bertegur sapa. Sampai pada malam ketiga saat berusaha untuk tidur. Waktu itu kamu memakai gaun tidur selutut, berwarna ungu muda berkilau, dengan lengan yang sangat pendek dan kerah yang lebar hingga hampir terlihat belahan dada yang menyembul. Kamu tidur membelakangi tempat Ivan. Terdengar Ivan datang ke kamar dengan langkah dan suara napas yang familiar. Menaiki ranjang dan kamu pikir dia akan langsung tidur. Tapi malam itu dia mendekatimu. Napasnya berada sangat dekat di rambut dan telingamu.
Saat membalikkan tubuh, kamu terkejut. Saat itu wajahmu sudah berpapasan dengan wajahnya sangat dekat, hanya satu inci. Kamu tak bisa mengelak. Dia seolah-olah berkata ingin memilikimu seutuhnya. Sentuhan bibirnya menyapa tiba-tiba ke semua tubuhmu dalam diamnya tanpa basa-basi, kamu telah merasakan malam pengantin yang hangat membara. Malam itu juga telah sah jadi istrinya lahir batin.
"Maafkan aku, Sri, jika selama ini aku tidak pernah bicara padamu," ucap Ivan selepas bergelut denganmu. Dalam selimut tebal tubuhmu dan dia masih bersatu.
"Tidak apa-apa, Mas. Saya mengerti. Perlu waktu untuk saling memahami," sahutmu. Dan tatapan pria dihadapanmu itu begitu lembut. Hingga berulang lagi sesuatu yang telah terjadi malam itu. Sampai kokokan ayam jantan berbunyi.
Kamu baru merasakan malam pertama yang sering diceritakan sahabatmu. Atau yang pernah dibaca di buku novel. Kalian semakin dekat. Tapi Ivan seorang yang tak banyak bicara.
Ibu Mertua tak pernah berubah. Semakin hari dia mengandalkan tenagamu meski semua urusan rumah masih jadi hak patennya. Dapur dan masakan yang jadi kemauannya bukan kemauanmu. Ruang tamu, pakaian, bahkan pakaian dan makanan untuk suamimu pun masih jadi perhatiannya. Kamu tidak pernah memegang uang belanja. Semua pendapatan suamimu diberikan pada ibunya. Kamu diam, mungkin itu salah satu cara suamimu berbakti. Bahkan kamu tidak berani bertanya sedikit saja, tentang hal itu padanya.
Semua kebutuhanmu berusaha untuk dipenuhi sendiri. Tapi seminggu sekali Ivan selalu meletakkan kantong belanja di atas ranjang dan menuliskan untukmu. Ternyata dia membelikanmu pakaian beserta perlengkapan hari-hari dan termasuk pakaian dalam. Aneh, pikirmu. Bagaimana dia tahu ukuran pakaian dalam yang kamu pakai.
Hampir tiga bulan kamu berada di rumah itu. Tidak ada obrolan hangat yang terjadi antara mertua dan menantu. Terlalu riskankah jika harus keduanya saling berbincang hangat. Tapi ucapan sahabatmu yang sudh menikah lima tahun lalu itu terngiang. Ibu Mertua tak akan pernah bisa seramah yang kita inginkan, tuturnya. Manakala dia serupa musuh dan saingan berat untuk mendapatkan perhatian anaknya. Bahkan acapkali terjadi percekcokan mulut hanya karena sebagai menantu seharusnya manut akan perintah mereka. Mertua sebagai orangtua yang dituakan dan perintah juga ucapannya adalah kewajiban tanpa boleh membantah.
Sejauh ini kamu selalu diam. Menjawab seperlunya, berbicara seperlunya saat diminta. Menuruti apa yang mereka inginkan. Sama halnya ketika bersama suami. Mengikuti apa yang dia suruh dan diam saat tengah melakukan. Tanpa protes apalagi bertanya kenapa. Seolah memang rumah itu sudah buat suaramu menghilang sejak menginjakkan kaki pertama kali. Tak ada yang mengajarimu untuk belajar berbakti dan berumah tangga. Semua kamu lakukan atas dasar ikhlas. Demi sebuah kehormatan Bapak dan adik-adik.
****
"Malam, Mas Ivan. Saya sudah menyiapkan makan malam di ruang makan. Mas sudah makan?" tanyamu suatu malam yang dingin dan larut. Di mana hampir tiga jam menunggu kedatangannya untuk makan bersama. Kamu menahan lapar malam itu hanya karena suamimu belum pulang. Ibu Mertua menyuruhmu untuk menunggu suami pulang, baru makan malam.
"Maafkan aku. Tadi selepas Maghrib di kantor, aku sudah makan. Kalau Sri belum makan. Makan saja," jawabnya. Tanpa pernah melihat wajahmu yang sudah pasi dsn gemetar menahan lapar.
Kamu izin keluar untuk menuju dapur. Di sana nasi dan lauk pauk masih tersaji di meja dalam tudung saji. Kamu pun segera makan malam sendirian pada pukul sebelas malam. Makan malam yang terlewat. Begini perihnya perut dan rasa mual karena menahan lapar.
Komentar
Posting Komentar