Sesekali menggerutu itu boleh, kan? Matahari pagi ini sangat tidak hangat. Sinarnya menyentak dan ada aura buru-buru di setiap ruas jalan raya yang kurasakan. Bermimpi bisa jadi karyawan teladan dengan gaji utuh tanpa potongan. Selain itu bonus akhir tahun menantikan untuk diterima. Itu semua hanyalah mimpi seorang karyawan kesiangan serupa aku.
Betapa buruknya jika gerutu ini sampai ke telinga orang-orang yang sudah menganggapku orang baik. Sekali lagi, sesekali boleh menggerutu, kan? Agar dunia yang ada di hadapanku saat ini terasa berbeda. Maka setiap kali kupandangi kota yang kutinggali dengan segudang kesemrawutan infrastruktur beserta orang-orangnya, setiap itu pula rasanya ingin melalang ke kota yang lebih sejuk.
Tidak ada kota yang lebih sejuk di negara ini. Semua telah terkontiminasi hal-hal yang berbau kemajuan teknologi dan pola pikir orang-orang moderen. Jangankan di kota, di pedesaan pun telah tercicipi aura itu. Aura kemajuan yang menyentak dan menghanyutkan para penduduknya hingga lupa pada identitas desanya sendiri.
"Sampai kapan kau akan bekerja di kota?" tanya Pamanku di kampung suatu waktu saat dia menelepon.
"Sampai apa yang kuinginkan terkabul, Paman."
"Kalau kau bekerja untuk jadi kaya di sana. Kau tidak akan kaya-kaya. Kecuali menua dan kemudian tak sadar kematian telah dekat."
Omongannya tidak pernah buat hati orang tenang. Dia selalu membuat khawatir hati setiap orang saat melontarkan ucapan dan nasihat. Aku tahu ucapan Paman itu memang nasihat tersembunyi dari kalimat-kalimat menyakitkannya. Dia pernah kerja di Ibu Kota. Bahkan sejak aku kecil. Dia merantau sendiri dengan modal sendiri. Kerja di Ibu Kota bermodalkan selembar ijazah STM Tehnik. Lalu apa yang dia harapkan saat mendapatkan pekerjaan jika berakhir jadi kuli bangunan proyek-proyek pembangunan tol dan beberapa hotel. Gaji yang tak seberapa dengan biaya hidup saat itu lumayan mencekik jika hanya tinggal sendiri dan mengontrak. Belasan tahun dia bertahan. Dari usia sembilan belas hingga hampir memasuki kepala tiga. Tak ada yang didapat kecuali modal kembali untuk pulang ke kampung halaman.
Banyak orang di kampung bilang, pamanku boros. Tapi mereka tidak tahu yang sebenarnya mencari kerjaan mapan di Jakarta tak segampang membalikkan telapak tangan. Jangankan Ibu Kota, kota kecil seJabodetabek ini saja masih susah untuk langsung dapat kerjaan. Semua perlu orang dalam dan sogokan. Atau masuk melalui yayasan terpadu dengan syarat kita wajib memberikan mahar yang telah mereka tentukan. Kecuali jika kau mau bekerja serupa pamanku jadi kuli bangunan, proyek atau bisa kenek supir antarkota, dan lainnya. Tidak perlu bayar. Cukup modal mental dan pengalaman saja.
Aku sendiri masih beruntung dibanding pamanku. Kerja di perusahaan kecil yang mengandalkan penjualan. Mengantar barang adalah tugasku. Meski namanya sama-sama kuli. Tapi aku kuli pengantar barang yang kerjanya pakai kendaraan roda dua dan berjibaku di jalan raya.
"Kapan kau pulang kampung, Dan?" tanya Ibu saat menelepon.
"Dani usahakan, Bu. Tapi tidak di hari lebaran idul fitri. Mungkin akhir tahun. Soalnya lebaran idul fitri itu semua harga tiket naik dua kali lipat."
Dari ujung telepon suara ibuku belum terdengar lagi. Tapi masih ada hembusan napasnya yang serasa panjang.
"Oh ... Ya sudah. Kamu jaga dirimu baik-baik di sana, kalau ada waktu luang lagi, Ibu telepon."
Aku mengangguk pelan. Kurasa Ibu lebih mengkhawatirkanku daripada berharap lebih untuk aku pulang ketika waktu lebaran.
Kalimat Paman dan ucapan Ibu selalu teringat manakala tanggal tua. Ya, entah kenapa setiap orang akan mengingat orang-orang yang menasihatinya disaat sedang terpuruk. Kalau tanggal tua datang, aku akan ingat segala yang pernah kurasakan di rumah kelahiranku. Di sana. Dari hal kecil hingga hal-hal besar. Tapi bila aku mendapatkan kesenangan, aku lupa tentang rumah di kampung dan hanya ingat diri sendiri.
Matahari setiap pagi kami kejar-kejar. Sampai dia akan tenggelam pun kami masih kejar-kejar agar tidak terlalu larut pada kegelapan. Menembus jalanan untuk segera sampai di tempat dan agar bisa istirahat. Hingga dari Senin sampai Jumat itu, malam terasa pendek sekali bagiku. Karena waktu tidur begitu singkat daripada istirahat yang sebenarnya. Mungkin hanya di hari Minggu saja, aku bisa tidur seperti orang mati. Dari malam sampai siang baru bangun. Lalu sore tidur lagi hingga subuh.
Hari yang melelahkan sepanjang pagi hingga sore ini rasanya harus kuakhiri dengan tidur. Tanpa ada televisi, hanya tipe recorder untuk menyalakan radio dan musik. Lalu terlelap di antara selepas azan Maghrib dan Isya. Sampai lupa mandi dan ganti pakaian. Lalu aku terlelap dan bermimpi lagi. Mimpi yang sama di mana aku berada di suatu tempat yang sejuk dan nyaman. Di sampingku ada perempuan cantik menemani dan melayani dengan cinta. Berulang setiap malamnya.(*)
Kota Khayalan, 28 Maret 2019.
Komentar
Posting Komentar