Jelang senja telah mengajakku untuk tuliskan sesuatu. Tentang senja lainnya selepas aku tersesat pada buku "Sepotong Senja untuk Pacarku" karya SGA.
Di sana aku terhanyut pada potongan senja yang komplit seukuran kartu pos. Untuk zaman now saat ini mungkin anak-anak remaja tidak familiar dengan kartu pos. Tapi di zaman sekolahku dulu kartu pos masih jadi primadona meski perlahan beralih rupa digunakan untuk mengisi undian berhadiah, bukan surat bersyarat.
Senja di tempatku berpijak saat ini tak seindah cerita di Sepotong Senja untuk Pacarku. Jauh sekali perbedaannya. Di tempatku ini tempat yang hiruk-pikuk jamahan polusi kendaraan berteknologi maju. Polusi bergulat dengan polusi. Maksudku, polusi kendaraan bergulat dengan polusi gedung pabrik-pabrik industri beragam. Hingga tak akan pernah bisa menemukan senja yang utuh dan indah.
Terkadang di tempatku, senja itu dimakan oleh gedung-gedung menjulang dan kabut asap polusi hingga warnanya tak sejingga pesona yang kubaca di buku cerita itu. Warnanya semburat merah kecil abu-abu dan cepat sekali menggelap tanpa kesan mendalam.
Orang-orang di tempatku tidak pernah memerhatikan senja. Mereka selalu melupakan senja karena berburu dengan waktu dan kehidupan yang nyaman bernama rumah. Bahkan penghuni rumah mereka pun tidak mahu tahu apakah senja di luar rumah bagus atau tidak? Ada atau tidak. Mereka sibuk memikirkan sesuatu yang bernama kebutuhan hidup hari ini, esok dan seterusnya.
Lalu bagaimana bisa pemuda bernama Sukab itu bisa memikirkan tentang senja yang sebegitu lengkap keindahaan alamnya dan berniat untuk diberikan pada pacarnya. Yang ternyata masih dalam tahap penjajakan dan belum jadi pacarnya? Aku menggeleng dalam tawa berderai selepas kubaca surat balasan dari Alina. Betapa bodohnya Sukab kata perempuan itu.
Padahal sebelum membaca surat Alina itu aku sangat takjub dan terharu bagaimana senja bisa ditaklukan oleh pemuda bernama Sukab dan dicurinya dengan dikerat pakai pisau swissnya pula. Selebar kartu pos.
Nah... senja. Aku melihat senja di dalam mobil. Aku duduk di depan samping Pak Supir. Di depan pula senja itu terlihat meski tak begitu jelas rupa senja. Namun saat ini senja yang kulihat warna jingga pucat abu-abu, dan bukan matahari yang tenggelam tapi hanya bias langitnya saja.
Bagaimama bisa dikatakan senja bagiku indah. Karena senja di tempat aku berpijak saat ini terasa hambar. Bagai buah pepaya yang belum matang warnanya. Bayangkan, pastilah tidak manis rasanya. Pasti rasa hambar. Anyep.
Apa memang aku telat menyaksikan senja. Namun di jam handphoneku ini pukul 18.00 seharusnya pukul itu sudah berada di titik senja terbenamnya matahari dari ufuk barat, bukan? Atau cuaca memang sedang murung hingga senja pun tidak akan dia biarkan tergambar jelas hingga semua warna senja harus ikutan murung.
Sudah kuberitahu senja di tempatku tidak pernah bagus. Kalau pun kedapatan indah dan jingganya terang, ada beberapa burung terbang mengepak di atasnya terbias, itu hanya bisa disaksikan sesekali saja. Kebetulan indah.
Sejak kecil aku dan kawan-kawan dulu tidak dibiarkan sempat melihat senja oleh orang tua kami. Bukan karena mereka marah, bukan. Kata mereka, waktu senja adalah waktu di mana setan-setan bertukar tempat. Setan siang kembali ke neraka dan setan malam datang untuk menggoda manusia karena memang tugasnya. Dan jika anak-anak, ibu hamil, gadis belia berada di antara senja, maka setan malam itu akan menyakiti mereka. Apalagi anak-anak dan ibu hamil rentan kena sakit tulah dan sakit ghaib dari kejahatan setan malam.
Maka sebelum senja datang, di antara azan magrib itu kami harus berada di dalam rumah yang tertutup pintu dan jendelanya rapat-rapat.
Tapi untuk di zaman ini di tempatku saat aku sudah punya anak, bekerja di luar rumah, tidak ada yang melarang kami ketika masih berada di jalan raya saat pulang dari bekerja. Aku dan orang-orang di tempat ini masih berada di jalanan sebelum senja datang dan selepasnya. Semua masih berjibaku di arus yang sama untuk kembali pulang. Merasakan kenyamanan rumah dan kasur yang empuk. Lelap dalam mimpi dan impian yang masih gantung.
Aku pernah melihat potongan senja yang berwarna abu-abu semburat merah. Kala itu bentuk matahari sedemikian bulat merah abu-abu dan bisa dilihat agak lama. Itu karena langit sejak pagi tidak cerah. Hingga menjelang senja pun warnanya aneh. Abu-abu kemerahan dengan awan yang serupa kapas kotor tersayat-sayat.
Senja bermacam-macam bentuk semburat dan warnanya saat akan membenamkan matahari, tapi bukan berarti senja di cerpen SGA itu paling indah. Memang indah sih saat kita membaca pemaparannya dan pikiran kita merangkai keadaan yang itu. Lalu, bagaimana senja di tempatmu? Apakah kamu paling tekun memandangi senjamu, atau sama seperti aku yang selalu lupa bahwa senja itu seharusnya dinikmati sesaat, bukan berjibaku dengan waktu hanya untuk sampai di rumah dengan tenang.(*)
Cikarang City Kalimalang, Senja di Kalimalang, 20-Maret-2018.
Komentar
Posting Komentar