Pada suatu waktu, saat rintik-rintik gerimis itu aku berada di bawah kontruksi jembatan layang kalimalang yang belum rampung. Menunggu angkutan umum 61 memilih jalan alternativ. Aku jadi ingat sesuatu pada film-film sedih yang kutonton waktu masih sekolah. Lupa judulnya, tapi ingat ceritanya. Mirip ratapan ibu tiri.
Dua orang anak kecil yang dipaksa ibu tirinya menggelandang di jalan raya. Tepatnya Ibu Kota. Dalam hal ini, ayah kandung mereka sudah tiada karena sakit dan sebetulnya diracun juga oleh ibu tiri yang kelewat kejam. Si ibu tiri ini tidak sabar mengurus ayah mereka yang sakit-sakitan. Sampai nekad untuk menghabisi nyawa ayah mereka dengan diberi racun tikus pada makanannya.
Kedua anak kecil itu kakak beradik yang berusia sembilan dan tujuh tahun. Seharusnya diusia itu mereka merasakan indahnya belajar di sekolah, tapi yang terjadi justru mereka berada pada kekejaman ibu tiri dan jalanan Ibu Kota.
Mereka berdua dipaksa ibu tirinya untuk mencari uang di jalanan. Entah itu jadi pengamen sampai pengemis pun, ibu tirinya tidak mau tahu. Yang penting pulang bawa uang untuk beli makanan dan kebutuhan dia.
Sang ibu tiri kembali pada kebiasaan sebelumnya, sebagai pelacur. Menawarkan diri nyanyi di kafe-kafe plus-plus. Semua itu dia lakukan untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan anak-anaknya yang kelaparan.
Dua anak kecil itu setiap pagi pergi ke jalan raya kota. Mengamen di lampu merah, kemudian berteduh di bawah jembatan layang jika hujan. Hasil mengamen belum tentu bisa membeli makan dan minuman, apalagi untuk diberi pada ibu tiri mereka yang jahat. Mereka berdua tidak pulang ke rumah jika dapat uang sedikit. Malangnya uang yang sudah didapat pun raib karena preman-preman di bawah jembatan layang.
Sepenggalan cerita film itu juga mirip dengan cerita film "Surat Kecil untuk Tuhan"
Aku menonton film SKUT itu tidak bisa menahan air mata untuk jatuh. Alhasih anakku yang masih balita ikut nonton pun bilang bahwa dia juga sedih.
Bagaimana rasanya hidup di jalanan? Jalanan meski bukan buat orang gelandangan saja begitu kejam apalagi buat mereka. Aku katakan kenapa kejam juga pada yang bukan gelandangan. Karena para pemakai jalan raya tidak akan pernah menoleransi jika sedang berada pada kemacetan dan keadaan genting. Semua butuh jalan. Semua butuh sampai ke tujuan masing-masing.
Aku sudah hampir belasan tahun bekerja di tempat yang jauh dari rumah. Lewat jalan raya dan kadang lewat jalan alternatip. Menggunakan jasa kendaraan pun berbagai macam. Lebih banyak menaiki transportasi angkutan umum. Lebih murah dan bisa hemat pengeluaran. Meski banyak juga yang menyarankan untuk berkendara motor sendiri. Tapi sayangnya sejak pertama bekerja aku belum bisa mengendarai kendaraan roda dua. Ada sebab yang tidak bisa dituliskan disini dan pernah juga aku ditabrak motor dari belakang saat berada di pasar oleh pengendara ibu-ibu yang telat ngerem.
Di kota industri tempat aku tinggal, ada banyak situasi yang kutangkap saat berangkat dan pulang kerja di jalan raya setiap hari selama hari kerja itu.
Seringnya kendaraan motor yang tidak akan memberimu ruang lega untuk menyeberang jalan. Sering juga kecelakaan kecil terjadi hanya karena motor yang melaju tidak melihat kaca spion ketika berbelok. Bahkan ketika berada di trotoar!! Trotoar tempat pejalan kaki yang harusnya aman sentosa berjalan, tetap tidak bisa merasa aman karena para pengendara motor ingin menggunakan dengan cara meneriaki pengguna jalan. Betapa "kamvretonya" mereka.
Jika kita ingin menggunakan jasa ojek online, terlebih dahulu harus hafal tempat-tempat biasa menjemput agar tidak terjadi pembulian ojek pangkalan dan sopir angkutan umum. Demi kemananan dua kubu antara si pengojek online dan si pelanggan.
Ojek online sering juga aku gunakan saat ini karena memang kebutuhan. Bukan sekadar gaya. Ketika sebuah insting kita saat waktu tidak bisa ditempuh lagi dengan menggunakan angkutan umum, ojek online pilihan kedua. Karena harganya tidak terlalu mahal semahal ojek pangkalan yang ketika mengantar dengan jarak cukup jauh itu, dipatok sesuka hati mereka. Makin kemari aku memang merasakan kekejaman di jalan raya.
Kita harus siap uang ketika bekerja di tempat yang jauh dan juga bepergian jauh. Harus siap siaga dengan segala risiko karena di jalan itu tidak senyaman di rumah atau depan rumah kita sendiri. Di jalan raya harus ekstra waspada, sigap dan jangan pernah melamun. Salah-salah kita akan jadi korban dari kekejaman itu. Seperti pencopet, penghipnotis, pengendara edan, orang gila dan preman yang mengaku calo menaiki penumpang. Parahnya lagi kalau ketemu sama begal saat di malam hari yang sepi. Naudzubillah. Ya Alloh lindungilah kami dari semua keburukan itu. Aamiin.
Maka apa yang mesti disiapkan saat akan keluar rumah dan berhubungan sama jalan raya?
1. Pastinya tidak lupa bawa uang lebih dan dompet dengan kelengkapan KTP dan surat-surat seperti SIM juga STNK jika mengendara motor.
2. Berdoa sebelum keluar rumah.
3. Jangan pernah memikirkan hal-hal negatif apalagi sampai melamun.
4. Sedia selalu payung, minyak wangi semprot, minyak angin dalam tas apalagi untuk perempuan. (Minyak wangi, minyak angin dan payung bisa digunakan senjata jika terjadi hal-hal tidak diinginkan)
5. Untuk perempuan, jangan memakai sesuatu yang memancing bahaya pada diri sendiri. Seperti memakai perhiasan berlebihan. Tas dan sepatu yang mahal, atau memakai make up yang mengundang. Semua bisa jadi perhatian orang berniat jahat. Apalagi jika kita sedang bekerja. Pakailah sesuatu yang biasa, sederhana, tidak bau dan bersih.
6. Jika memiliki smartphone yang harganya mahal, jangan pernah diperlihatkan di muka umum seperti di dalam angkutan umum dan tempat-tempat umum lainnya. Pakailah handphone yang biasa saja ketika berada di tempat umum. Untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan.
7. Jika mengendarai motor, sebisa mungkin tidak memakai handphone selama berkendara, termasuk yang dibonceng. Dan saat darurat berhentilah menepi ke tempat yang ramai.
8. Jika tubuh kurang vit saat terpaksa harus keluar rumah bekerja dan berada di perjalanan, sediakan dalam tas botol isi air putih, obat yang diperlukan, minyak angin/balsem/minyak kayu putih. Fokus selama berada dalam kendaraan. Jangan lupa bawa cemilan ringan agar membuat kita selalu sigap dengan cara mengunyah makanan.
9. Pastikan setiap selama menaiki kendaraan sebelum dan saat berada, jangan lupa berdoa, selalu mengingat Alloh di manapun dengan dzikrullah. Bisa baca ayat kursi, dzikir apa pun, surah pendek yang dihafal. Fungsinya bisa jadikan kita sigap dan waspada juga berpasrah meminta perlindungan seutuhnya hanya pada-Nya.
10. Terkadang saat berada dalam keramaian pun kejahatan bisa terjadi. Seperti saat melewati pasar, terminal, stasiun, persimpangan atau pertigaan jalan, juga mal-mal, supermarket, hendaknya selalu waspada. Jangan lengah dengan bawaan berupa tas atau lainnya apalagi saat bawa anak balita. Jangan lupa fokus terus pada tujuan ketika di jalanan, bisa jadi ketika kita sedang tidak fokus, maka penghipnotis bisa mengendalikan kita tanpa disadari.
11. Hindari jalanan dan tempat yang dilewati sepi dan rawan. Apalagi saat pulang kerja sudah malam. Jika pun merasa terancam bahaya, lekaslah telepon orang-orang dekat untuk minta dijemput. Bisa juga gunakan jasa online agar lebih cepat.
12. Saat musim hujan, kewaspadaan lebih ditingkatkan. Apalagi selepas hujan deras sering banjir, bergenang dan macet. Maka persiapkan diri untuk rileks sebelum semua terjadi dengan waspada dan siap.
13. Hati-hati dan selalu waspada pada orang yang tidak dikenal yang sok akrab. Bisa jadi dan banyak kejadian tak terduga setelahnya. Seperti kehilangan barang berharga, terpedaya hipnotis, dan memecah kefokusan untuk seharusnya niat pulang, tapi ke tempat lain. ( ini mungkin jika jomblo ketemu jomblo 😂😂 )
14. Selama di jalanan ke mana pun kaki melangkah ingatlah sesuatu. "Hati-hati di perjalanan. Patuhi peraturan lalu lintas. Sayangi nyawa Anda. Ingat, Keluarga menunggu di rumah" 😂😂 ini kutipan kalimat yang kuambil dari poster-poster di kantor polisi. Setiap bertemu kantor polisi selalu ada spanduk bacaan itu untuk mengingatkan kita yang berada di jalan raya.
Sampai di sini kutuliskan uneg-uneg tentang jalan raya yang juga hampir sekejam ibu tiri dalam film yang pernah kutonton waktu sekolah dulu. Untuk semua jalanan kota besar. Sebagai warga negara yang baik dan benar. Hendaknya menggunakan jalan raya sebagai tempat berkendara berlalu lintas penghubung jalan dengan baik, dan bukan ajang adu mental juga hebat-hebatan.(*)
04'Maret 2018.
My Home Sweet Home.
Catatan Rosi Ochiemuh. 😊
Komentar
Posting Komentar