Langsung ke konten utama

Hujan dalam Catatan Kenangan

Tak ada yang menggembirakan kami ketik masa kecil dan remaja dulu selain turunnya Rahmat Alloh itu. Hujan deras dan suara khasnya turun menyebarkan virus kantuk dan virus kebahagiaan tersendiri.

Hujan mampu ciptakan hari-hari kosong kami di sekolah. Sekolah di siang hari menguntungkan kami karena di musim hujan, tiap jam dua hingga setengah tiga langit di sekolah akan menggelap. Tanda hujan akan segera turun, saat itu tanda seperti yang selalu digambarkan dalam buku cerita, dongeng maupun berita cuaca selalu akurat. Cuaca tak pernah bohong. Hingga hujan deras benar-benar turun dengan awetnya. Guru matematika dan fisika tidak datang. Itulah hari-hari kosong yang hujan ciptakan di sekolah waktu itu. Meski ada guru pengganti yang tidak masuk, waktu sang guru itu tak pernah lama. Sebentar, karena dia lebih memerhatikan kelas asuhannya saja.

Waktu kecil, kebahagiaan kami ada di musim hujan. Ketika hujan turun derasnya, kami akan berteriak "Horee!!" lantas tanpa izin Mak dan Bapak masing-masing, kami keluar rumah bertelanjang kaki, masih pakai pakaian santai. Berlari berteriak-teriak memanggil kawan-kawan sepermainan yang sama bahagianya jika hujan deras turun. Kami akan berlarian seperti sedang merasakan kebebasan di tengah hujan yang menguyur. Kadang air hujan yang jatuh itu jika dirasakan benar akan terasa nyeri ketika tumpahan air menghantam kepala dan badan. Tapi bagi kami sensasi itu begitu menyenangkan.

Air hujan yang deras itu jatuh dari talang-talang air rumah tetangga, dan rumah warga lainnya. Kepala-kepala dan wajah kami akan ditadahkan ke sana. Aroma air hujan dingin seperti air es yang ada dalam kulkas. Segar, seperti aromaterapi jiwa. Berteriak, bernyanyi di tengah hujan deras merupakan sensasi bermain paling gembira.

"Ayo ke sana!" teriak kawan-kawan menunjuk lapangan sekolah.

Lapangan sekolah adalah tempat paling menyenangkan bermain hujan. Bersepeda, berlari, hingga kejar-kejaran seolah tempat itu wahana paling asyik dari tempat apa pun bagi kami. Pemuasan batin yang tak pernah terpikirkan orang dewasa.

Mereka orang dewasa akan selalu melarang, karena jika terlalu lama hujan-hujanan akan gampang sakit. Sakit flu, batuk, demam. Dan mereka tidak mau disusahkan.

Kami bermain hujan-hujanan sampai tubuh dingin, kulit jadi memucat, bibir membiru. Di saat itulah teriakan kakak, ibu dan ayah kami akan bersahutan

"Sudah mandinya!! Ayo naik!"

Maksudnya naik itu, ya kembali ke rumah. Seperti itulah teriakan orang-orang kami menyuruh kami segera berhenti mandi hujan.

Suara gledek dan petir hanya dirasakan takut sebentar, setelah suara-suara itu hilang dan suara kami dan hujan melebur jadi satu.

Selepas kami berada pada tubuh orang dewasa. Hujan seakan menjadi momok paling menyebalkan dan menakutkan di kota besar. Hujan turun dari langit dan menggenang jalan-jalan raya dengan infrastruktur yang jelek. Saluran air yang mampet karena sampah masuk ke sana dan menumpuk. Banjir dan genangan di mana-mana karena tak mengalir pada tempatnya. Hingga buat jalanan macet selepas hujan.

Adalagi, jalanan di Ibu Kota banjir hingga macet parah. Membuat orang-orang dewasa menjadi pusing, lelah dan terus mengeluarkan umpatan ketimbang dzikir atau doa. Wajah-wajah cepat menua karena kutukan berada di jalan raya selepas hujan.

Hujan kata orang-orang dewasa bisa buat banjir perumahan di kota besar. Hingga sebelum musim hujan mereka meninggikan teras dan bagian dalam rumah. Mirip seperti rumah panggung di Sumatera Selatan, hanya saja pakai cor semen dan bukan dari kayu.

Padahal sebetulnya hujan tidak menciptakan keburukan apa-apa. Hanya saja perumahan di kota besar itu kebanyakan di bangun dari tanah area persawahan, rawa-rawa yang jauh dari tanah resapan dan rawan tergenang. 

Bagaimana mungkin air yang jatuh mau meresap di jalan raya yang terbuat dari campuran beton dan aspal? Pastinya harus ada aliran pembuangan, dan itu diciptakan lagi oleh orang-orang yang ahli. Selain pembuatan jalan raya, penata kota harus membuat saluran air pembuangan, dan memikirkan pula jatuhnya ke mana. Karena air mengalir pasti akan bermuara ke tempat akhir.

Kembali ke cerita hujan.
Hujan seringkali buat kita orang dewasa panik ketika tiba-tiba turun. Mulai dari rintik hingga banyak. Ditambah ketika itu petir dan gluduk bersahutan, sedang berada di jalan raya mengendarai kendaraan roda dua dan lupa bawa jas hujan. Disitu rasanya ingin ke tepi berteduh tapi apadaya posisi tidak memungkinkan untuk mencari tempat berteduh. Hingga jalan terus, hujan mengguyur dan akhirnya kebasahan juga.

Adalagi, sewaktu kecil dulu kami adalah pemain hujan-hujanan yang tangguh. Tangguhnya itu saat hujan deras disertai angin dan petir bersahutan, kami tak gentar berhenti bermain hujan hingga hampir satu jam setengah. Atau sampai hujan deras itu mengecil dan habis. Dan anehnya kami tidak pernah sakit selepas hujan-hujanan lama.

Tapi lihatlah selepas dewasa. Saat pulang kerja, kehujanan karena lupa bawa payung dan jas hujan. Kebasahan sebentar saja sesampai di rumah esoknya langsung kena flu dan batuk. Pernah juga demam. Rasanya kalau ingat masa kecil yang tangguh itu dengan setelah dewasa, tubuh setelah dewasa ini manja sekali. Tidak tangguh lagi seperti saat masa kecil dulu.

Waktu kecil dulu, hujan-hujanan seakan tempat uji nyali kami untuk mengetahui seberapa kebal tubuh kami diterpa hujan besar. Hingga orangtua zaman kami dulu beranggapan jika anaknya sering mandi hujan besar, lebat, bukan gerimis. Maka anaknya tidak akan gampang sakit-sakitan. Memang, saat itu yang terjadi waktu kami kecil juga pemikiran kolot orangtua kami. Hujan seperti uji nyali dan mental untuk kekebalan tubuh.

Yang lucu lagi, waktu kami remaja saat itu. Hujan adalah anugerah terindah untuk alasan bolos sekolah, nongkrong di warung pempek dan warung telepon (sekarang sudah tidak ada lagi) sambil bercerita apa saja. Anehnya, kami tidak risih saat suara kami lebur bersama suara hujan.

Hujan waktu kecil itu, bisa menyatukan kakak dan adik yang selalu bertengkar kecil hanya karena hal-hal sepele. Kakak dan adik yang tadinya terkadang bagai tikus dan kucing jadi akur, bahu-membahu dalam hal meminta izin untuk hujan-hujanan. Selepas hujanan, Kakak dan Adik kemudian menyantap ubi goreng, pisang goreng dan pempek buatan ibu mereka tanpa bertengkar.

Terkadang hujan pun bisa menciptakan rindu dalam tidur. Aku pernah saat tinggal sendiri di kontrakan kecil, jauh dari orangtua dan tanah kelahiran. Saat itu hujan turun deras siang hari, aku tertidur dan bermimpi menjadi anak-anak lagi sedang hujan-hujanan bersama adik-adikku di depan rumah. Mak dan Bapak ada di dalam rumah mengamati kami dari dalam. Selepas hujan berhenti, aku dan adik-adik mengeringkan badan dengan handuk lantas masuk ke kamar mandi membilas tubuh sambil disabuni dan mandi dengan air dalam bak. Lalu berganti pakaian. Kemudian menyantap gorengan hangat buatan Mak. Kemudian aku terbangun dan mendapati diriku berada di kontrakan sendirian. Disitulah rasa rindu menyelimuti dan buat menggigil.(*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.