Kau tahu bagaimana
menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa
adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang
menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan.
Kutukan
Hujan
“Hujan kembali membasahi tanah kita. Kau tahu kenapa aku
merasa hari ini sedih sekali.”
“Kenapa bersedih? Aku masih ada di sini menemanimu yang
duduk sendirian.”
“Aku sedih karena hujan telah membuat kamu tidak berdaya. Bahkan disaat kamu tidak langsung terkena hujan itu.”
“Maafkan aku, Mona. Maafkan dengan segala ketidakberdayaan
tubuh ini. Hingga aku tidak bisa merasakan sentuhan keajaiban dari Tuhan itu.”
Aku menatap dia lekat-lekat dari
ujung rambut hingga jatuh ke wajahnya yang sendu. Di sana meski aku yang
merasakan sedih, tetapi sebenar-benarnya dialah yang sedang menahan kepedihan.
Masa lalu membuat tubuhnya tidak berdaya. Gigil itu melingkar di sekujur tubuh
dewasanya dan semua orang tidak percaya, bahwa laki-laki di hadapanku ini
seorang yang takut kena hujan.
Kuresapi aroma hujan itu dari
jendela ruang tamu. Sengaja aku membuka jendela itu di malam hari agar bisa
mendengar langsung suara hujan dan merasakan dinginnya. Malam pekat tidak aku hiraukan lagi meski kantuk merenda di pelupuk mata berkali-kali. Suasana
ruang hati ini sedang beradu ke masa lalu. Masa kecil bahagia penuh tawa
bersama dua sahabat, kawan-kawan kecil lain yang masih terekam hingga saat ini.
Bagaimanakah rupa mereka sekarang? Dua puluh tahun lalu selepas satu per satu
mereka kemudian berjalan pada jalan masing-masing mengekor pada keputusan orangtua.
Dingin itu tidak membuat aku ingin
beranjak dari tempat duduk. Secangkir teh manis hangat dan sepiring singkong
goreng renyah teman malam ini. Dan selalu jadi teman dalam kesendirian.
Biasanya aku bisa berjam-jam bercengkrama dengan buku-buku cerita. Tapi malam
ini tidak, karena hujan telah memaksaku untuk menikmatinya. Meski kian pekat
malam, kian tercipta kengerian di luar kamar kost akan hal-hal yang tidak
diinginkan. Aku tidak menghiraukannya.
Kureguk perlahan kesenyapan dengan
nikmatnya sesapan teh manis hangat. Biasanya Ibu melakukan hal ini. Persis sama
seperti yang aku lakukan ketika hujan mendera tanah kami. Lalu Bapak akan
menemaninya dan bercakap-cakap apa saja meski suara mereka terlelap oleh deru
hujan.
Windu dan Koko, akan
memanggil-manggil dari luar dalam keadaaan basah kuyup. Memaksa aku untuk
bermain hujan dengan mereka. Tawa dan sikap tengil itu yang membuat aku merasa
bersemangat untuk bermain, meski sebenarnya Ibu tidak akan memberi izin namun
luluh juga karena rayuanku.
Entah kenapa sejak dulu teman
dekatku selalu anak laki-laki. Bukan anak perempuan. Ibu selalu menggerutu jika
aku berteman dengan anak laki-laki. Diusia delapan tahun itu, Ibu selalu
memperingatkan agar aku tidak berteman karib dengan anak laki-laki. Rupanya aku
keras kepala, selama menurutku berteman dengan mereka asyik dan tidak membuat
susah, aku senang. Terlebih Windu dan Koko itu anak yang tidak rewel, tidak
cerewet, tidak lemah dan tidak cengeng seperti Desy, Lina juga Alin.
Lina sempat bertanya kepadaku,
kenapa jika kamu senang bermain dengan anak laki-laki lantas kamu tidak mau
berteman dengan Antok, kakakku? Lalu aku jawab, Antok itu adalah anak yang
paling nakal sekompleks. Bukan hanya nakal, dia jahil, mulutnya selalu
mengeluarkan kata-kata kotor dan umpatan kasar, terlebih lagi dia kejam pada
teman-teman. Antok juga sering memalak aku dan Desy, juga Koko, Windu dan
yang lainnya. Dia akan meminta uang jajan pada kami. Bukan hanya seratus
rupiah, tapi bisa sampai seribu rupiah yang berupa uang kertas. Uang seribu
rupiah sangat berharga bagi kami diwaktu itu dan bisa bersisa separuhnya untuk
ditabung ke celengan babi juga celengan ayam.
Saat bermain hujan dulu, Windu
selalu menarik tanganku dan mengajak aku berlari-lari di tengah hujan. Tubuh
kami semua basah kuyup dan udara di antara hujan deras itu seperti ruang dingin
yang senyap, tapi tidak kami pedulikan. Yang penting kami bertiga senang.
Berlari-lari melewati gang-gang rumah kemudian talang-talang air pancuran yang
mengucur deras, kami jadikan arena bermain. Koko bermain sepeda di tengah hujan
dan menawarkan aku untuk dibonceng di belakang, tapi aku tidak berani karena
saat itu pasti pandangan Koko akan buram. Kami nanti bisa jatuh bersama.
Terlebih aku pernah jatuh di got besar, dan rasanya bukan saja sakit tetapi
menanggung malu karena tubuhku basah oleh air comberan yang bau dan hitam dari
got besar pembuangan.
“Mona, takut jatuh? Mona payah, ah!”
gerutunya dengan berteriak dan tergelak.
Aku memaku dan memandanginya kesal.
Lantas menyipratkan air ke wajahnya berkali-kali. Windu ikut melakukan hal sama
hingga Koko kesal dan mengejar kami berdua. Berlari lagi sembari mengecipakkan
genangan air hujan itu ke mereka. Koko dan Windu menadahkan kepala mereka pada
kucuran air hujan dari talang pancuran. Serasa sedang berkhayal berada di air
terjun, menjadi seorang pendekar yang sedang bertapa. Aku terbahak sambil
menahan perut karena tertawa keras mendapati kekonyolan mereka.
Sesaat kenangan manis itu teringat
kembali tentang kedua sahabat kecilku. Juga teman-teman sepermainanku di masa
kecil dulu. Aku mengingat mereka lagi karena di masa itu aku begitu bahagia,
lepas tanpa beban pikiran. Tidak ada hal-hal yang ditakutkan selain tidak bisa
bermain. Apa yang ditakutkan anak seusiaku itu dulu, hanya dua hal. Tidak bisa
bermain dan tidak bisa jajan.
Maafkan aku, Sany. Jika sampai saat
ini aku merahasiakan semua masa lalu itu dari kamu. Aku tidak mengerti kenapa aku
bisa jatuh cinta dan menerima Sany. Padahal aku tahu bahwa Sany sosok yang
tidak sekuat sahabat dan teman-temanku di masa kecil. Pria itu tidak bisa
terkena hujan meski sedikit saja. Dia akan sakit dan berceracau ketakutan
seolah sedang merasakan siksan-siksaan kecil. Aku bingung apakah itu adalah
sebuah penyakit biasa atau penyakit mental yang seharusnya bisa disembuhkan
dengan pergi ke psikiater. Jika aku singgungkan hal itu, dia tersudut dan
timbul frustasi.
Syukurlah tadi dia pulang ke
rumahnya. Aku meminta tolong pada teman kostku yang punya mobil untuk
mengantarkan Sany sampai rumahnya karena kebetulan teman kostku itu searah
jalan ke rumah Sany. Kuberikan Sany payung agar tidak kehujanan dan kupakaikan
jaket tebal parasit agar dia tidak kedinginan.
Entah kenapa Sani berbeda dari semua
temanku di masa kecil dulu. Semua teman kecilku punya kekuatan dan keunikan
yang beragam. Hingga aku merasa sedang berada dalam dunia fantasi yang takjub dan membuat imajenasiku mengalir apa adanya. Imajenasi bermain dan belajar
tentang sesuatu dari mereka. Ibu dan Bapak tidak akan melarang aku jika bermain
dengan teman-temanku itu karena mereka tetangga kami.
Aku pernah dapat kabar dari adikku
beberapa teman mas kecilku dulu. Lina, adalah salah satu anak perempuan yang
paling kebal. Meski dia terbilang kuat, tapi dia juga rapuh jika menyinggung
tentang bapaknya. Kudengar dia sekarang sudah menikah dengan laki-laki yang
dulu kami panggil Om Nino. Laki-laki yang dulu sering disebut bujang tua
setelah aku dan Lina bersekolah SMP. Kisah cinta Lina dan Om Nino sangat
menyedihkan. Keluarga Om Nino tidak setuju jika mereka berbesanan dengan
keluarga Lina karena status ibunya Lina yang kawin-cerai itu juga telah menjadi
janda dari istri ke empat seorang preman kampung seberang.
Om Nino nekad menikahi Lina dan
membawanya pergi jauh dari keluarganya dengan restu ibu dan kakak tertua Lina.
Kata Adikku, sempat terjadi perkelahian hebat antara kakak Om Nino dan ibu
Lina. Hampir saja ibu Lina dikeroyok keluarga Om Nino. Cinta tidak pernah
memandang apakah dia seorang miskin atau kaya, Om Nino mengancam keluarganya
untuk tidak melukai sedikitpun Lina dan keluarganya.
Di antara ketidakharmonisan masa
kecil Lina, ada nasib baik yang diperoleh teman kecilku itu. Dia mendapatkan
apa yang selama ini dia impikan. Sosok pangeran impian yang mencintainya dengan
tulus dan membawanya pergi ke istana kecil bahagia. Lina telah mendapatkan
semua itu dari Om Nino.
Sejak dulu Om Nino bekerja sebagai masinis, karyawan tetap
di Perusahaan Jasa Kereta Api. Perempuan mana pun akan tergoda dengan
ketampanan dan kemapanannya. Diusia yang sangat muda, Om Nino telah bekerja
jadi pegawai negeri dengan gaji yang pada saat itu sangat lumayan. Sayangnya,
Om Nino sering patah hati karena perempuan yang dekat dengannya sering
menyakiti dan mempermainkan dia. Hanya ingin uangnya saja. Sejak itulah Om Nino
berkata tidak ingin menikah. Hingga ketika Lina beranjak remaja, Om Nino jatuh
hati padanya karena Lina sangat polos, rajin dan perempuan penurut. Usia Om
Nino dan Lina saat itu terpaut jauh, enam belas tahun. Lina menikah dengan Om
Nino diusia delapan belas tahun. Saat itu, aku sudah berada di kota B di Pulau
jawa merantau, tinggal di rumah Bibi Mirna.
Cinta selalu menjadi misteri. Terkadang datang di tempat
yang tidak terduga. Seperti yang dialami Lina dan Om Nino.
Cikarang, Barat. 19-November-2017.
Cerita sederhana kumulai dari sini, untuk seseorang di sana yang tak pernah bisa kuceritakan. Kini ingin kumasukkan dia dan yang lain dalam cerita-ceritaku bersama hujan.
Rosi Ochiemuh.
Komentar
Posting Komentar