Langsung ke konten utama

CINTA TIDAK SALAH ( Eps.I )




Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan.



Kutukan Hujan

“Hujan kembali membasahi tanah kita. Kau tahu kenapa aku merasa hari ini sedih sekali.”
“Kenapa bersedih? Aku masih ada di sini menemanimu yang duduk sendirian.”
“Aku sedih karena hujan telah membuat kamu tidak berdaya. Bahkan disaat kamu tidak langsung terkena hujan itu.”
“Maafkan aku, Mona. Maafkan dengan segala ketidakberdayaan tubuh ini. Hingga aku tidak bisa merasakan sentuhan keajaiban dari Tuhan itu.”

            Aku menatap dia lekat-lekat dari ujung rambut hingga jatuh ke wajahnya yang sendu. Di sana meski aku yang merasakan sedih, tetapi sebenar-benarnya dialah yang sedang menahan kepedihan. Masa lalu membuat tubuhnya tidak berdaya. Gigil itu melingkar di sekujur tubuh dewasanya dan semua orang tidak percaya, bahwa laki-laki di hadapanku ini seorang yang takut kena hujan.
            Kuresapi aroma hujan itu dari jendela ruang tamu. Sengaja aku membuka jendela itu di malam hari agar bisa mendengar langsung suara hujan dan merasakan dinginnya. Malam pekat tidak aku hiraukan lagi meski kantuk merenda di pelupuk mata berkali-kali. Suasana ruang hati ini sedang beradu ke masa lalu. Masa kecil bahagia penuh tawa bersama dua sahabat, kawan-kawan kecil lain yang masih terekam hingga saat ini. Bagaimanakah rupa mereka sekarang? Dua puluh tahun lalu selepas satu per satu mereka kemudian berjalan pada jalan masing-masing mengekor pada keputusan orangtua.
            Dingin itu tidak membuat aku ingin beranjak dari tempat duduk. Secangkir teh manis hangat dan sepiring singkong goreng renyah teman malam ini. Dan selalu jadi teman dalam kesendirian. Biasanya aku bisa berjam-jam bercengkrama dengan buku-buku cerita. Tapi malam ini tidak, karena hujan telah memaksaku untuk menikmatinya. Meski kian pekat malam, kian tercipta kengerian di luar kamar kost akan hal-hal yang tidak diinginkan. Aku tidak menghiraukannya.
            Kureguk perlahan kesenyapan dengan nikmatnya sesapan teh manis hangat. Biasanya Ibu melakukan hal ini. Persis sama seperti yang aku lakukan ketika hujan mendera tanah kami. Lalu Bapak akan menemaninya dan bercakap-cakap apa saja meski suara mereka terlelap oleh deru hujan.
            Windu dan Koko, akan memanggil-manggil dari luar dalam keadaaan basah kuyup. Memaksa aku untuk bermain hujan dengan mereka. Tawa dan sikap tengil itu yang membuat aku merasa bersemangat untuk bermain, meski sebenarnya Ibu tidak akan memberi izin namun luluh juga karena rayuanku.
            Entah kenapa sejak dulu teman dekatku selalu anak laki-laki. Bukan anak perempuan. Ibu selalu menggerutu jika aku berteman dengan anak laki-laki. Diusia delapan tahun itu, Ibu selalu memperingatkan agar aku tidak berteman karib dengan anak laki-laki. Rupanya aku keras kepala, selama menurutku berteman dengan mereka asyik dan tidak membuat susah, aku senang. Terlebih Windu dan Koko itu anak yang tidak rewel, tidak cerewet, tidak lemah dan tidak cengeng seperti Desy, Lina juga Alin.
            Lina sempat bertanya kepadaku, kenapa jika kamu senang bermain dengan anak laki-laki lantas kamu tidak mau berteman dengan Antok, kakakku? Lalu aku jawab, Antok itu adalah anak yang paling nakal sekompleks. Bukan hanya nakal, dia jahil, mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata kotor dan umpatan kasar, terlebih lagi dia kejam pada teman-teman. Antok juga sering memalak aku dan Desy, juga Koko, Windu dan yang lainnya. Dia akan meminta uang jajan pada kami. Bukan hanya seratus rupiah, tapi bisa sampai seribu rupiah yang berupa uang kertas. Uang seribu rupiah sangat berharga bagi kami diwaktu itu dan bisa bersisa separuhnya untuk ditabung ke celengan babi juga celengan ayam.
            Saat bermain hujan dulu, Windu selalu menarik tanganku dan mengajak aku berlari-lari di tengah hujan. Tubuh kami semua basah kuyup dan udara di antara hujan deras itu seperti ruang dingin yang senyap, tapi tidak kami pedulikan. Yang penting kami bertiga senang. Berlari-lari melewati gang-gang rumah kemudian talang-talang air pancuran yang mengucur deras, kami jadikan arena bermain. Koko bermain sepeda di tengah hujan dan menawarkan aku untuk dibonceng di belakang, tapi aku tidak berani karena saat itu pasti pandangan Koko akan buram. Kami nanti bisa jatuh bersama. Terlebih aku pernah jatuh di got besar, dan rasanya bukan saja sakit tetapi menanggung malu karena tubuhku basah oleh air comberan yang bau dan hitam dari got besar pembuangan.
            “Mona, takut jatuh? Mona payah, ah!” gerutunya dengan berteriak dan tergelak.
            Aku memaku dan memandanginya kesal. Lantas menyipratkan air ke wajahnya berkali-kali. Windu ikut melakukan hal sama hingga Koko kesal dan mengejar kami berdua. Berlari lagi sembari mengecipakkan genangan air hujan itu ke mereka. Koko dan Windu menadahkan kepala mereka pada kucuran air hujan dari talang pancuran. Serasa sedang berkhayal berada di air terjun, menjadi seorang pendekar yang sedang bertapa. Aku terbahak sambil menahan perut karena tertawa keras mendapati kekonyolan mereka.
            Sesaat kenangan manis itu teringat kembali tentang kedua sahabat kecilku. Juga teman-teman sepermainanku di masa kecil dulu. Aku mengingat mereka lagi karena di masa itu aku begitu bahagia, lepas tanpa beban pikiran. Tidak ada hal-hal yang ditakutkan selain tidak bisa bermain. Apa yang ditakutkan anak seusiaku itu dulu, hanya dua hal. Tidak bisa bermain dan tidak bisa jajan.
            Maafkan aku, Sany. Jika sampai saat ini aku merahasiakan semua masa lalu itu dari kamu. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa jatuh cinta dan menerima Sany. Padahal aku tahu bahwa Sany sosok yang tidak sekuat sahabat dan teman-temanku di masa kecil. Pria itu tidak bisa terkena hujan meski sedikit saja. Dia akan sakit dan berceracau ketakutan seolah sedang merasakan siksan-siksaan kecil. Aku bingung apakah itu adalah sebuah penyakit biasa atau penyakit mental yang seharusnya bisa disembuhkan dengan pergi ke psikiater. Jika aku singgungkan hal itu, dia tersudut dan timbul frustasi.
            Syukurlah tadi dia pulang ke rumahnya. Aku meminta tolong pada teman kostku yang punya mobil untuk mengantarkan Sany sampai rumahnya karena kebetulan teman kostku itu searah jalan ke rumah Sany. Kuberikan Sany payung agar tidak kehujanan dan kupakaikan jaket tebal parasit agar dia tidak kedinginan.
            Entah kenapa Sani berbeda dari semua temanku di masa kecil dulu. Semua teman kecilku punya kekuatan dan keunikan yang beragam. Hingga aku merasa sedang berada dalam dunia fantasi yang takjub dan membuat imajenasiku mengalir apa adanya. Imajenasi bermain dan belajar tentang sesuatu dari mereka. Ibu dan Bapak tidak akan melarang aku jika bermain dengan teman-temanku itu karena mereka tetangga kami.
            Aku pernah dapat kabar dari adikku beberapa teman mas kecilku dulu. Lina, adalah salah satu anak perempuan yang paling kebal. Meski dia terbilang kuat, tapi dia juga rapuh jika menyinggung tentang bapaknya. Kudengar dia sekarang sudah menikah dengan laki-laki yang dulu kami panggil Om Nino. Laki-laki yang dulu sering disebut bujang tua setelah aku dan Lina bersekolah SMP. Kisah cinta Lina dan Om Nino sangat menyedihkan. Keluarga Om Nino tidak setuju jika mereka berbesanan dengan keluarga Lina karena status ibunya Lina yang kawin-cerai itu juga telah menjadi janda dari istri ke empat seorang preman kampung seberang.
            Om Nino nekad menikahi Lina dan membawanya pergi jauh dari keluarganya dengan restu ibu dan kakak tertua Lina. Kata Adikku, sempat terjadi perkelahian hebat antara kakak Om Nino dan ibu Lina. Hampir saja ibu Lina dikeroyok keluarga Om Nino. Cinta tidak pernah memandang apakah dia seorang miskin atau kaya, Om Nino mengancam keluarganya untuk tidak melukai sedikitpun Lina dan keluarganya.
            Di antara ketidakharmonisan masa kecil Lina, ada nasib baik yang diperoleh teman kecilku itu. Dia mendapatkan apa yang selama ini dia impikan. Sosok pangeran impian yang mencintainya dengan tulus dan membawanya pergi ke istana kecil bahagia. Lina telah mendapatkan semua itu dari Om Nino.
Sejak dulu Om Nino bekerja sebagai masinis, karyawan tetap di Perusahaan Jasa Kereta Api. Perempuan mana pun akan tergoda dengan ketampanan dan kemapanannya. Diusia yang sangat muda, Om Nino telah bekerja jadi pegawai negeri dengan gaji yang pada saat itu sangat lumayan. Sayangnya, Om Nino sering patah hati karena perempuan yang dekat dengannya sering menyakiti dan mempermainkan dia. Hanya ingin uangnya saja. Sejak itulah Om Nino berkata tidak ingin menikah. Hingga ketika Lina beranjak remaja, Om Nino jatuh hati padanya karena Lina sangat polos, rajin dan perempuan penurut. Usia Om Nino dan Lina saat itu terpaut jauh, enam belas tahun. Lina menikah dengan Om Nino diusia delapan belas tahun. Saat itu, aku sudah berada di kota B di Pulau jawa merantau, tinggal di rumah Bibi Mirna.
Cinta selalu menjadi misteri. Terkadang datang di tempat yang tidak terduga. Seperti yang dialami Lina dan Om Nino.

Cikarang, Barat. 19-November-2017.

Cerita sederhana kumulai dari sini, untuk seseorang di sana yang tak pernah bisa kuceritakan. Kini ingin kumasukkan dia dan yang lain dalam cerita-ceritaku bersama hujan.
Rosi Ochiemuh.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.