Langsung ke konten utama

[Cerpen] Hanya Sebongkah Batu

Sebongkah patung batu itu tiba-tiba berkedip matanya. Dia terkejut. Sekali lagi matanya mengerjap-ngerjap. Seolah dia merasa ada yang salah dengan pandangan matanya. 

Bukan cuma mata yang berkedip, kali ini bibirnya bergerak-gerak. Dia terbelalak. Entah mimpi atau bukan. Dicubitnya lengan sendiri. Tidak! Dia tidak bermimpi. Ini nyata. Patung batu itu mata dan bibirnya berkedutan. 

"Hei! Lihat apa, Kamu?!"

Patung itu bersuara. Bicara padanya. Kakinya serasa ingin mengeluarkan jurus langkah seribu. Tapi dia terkejut lagi saat akan menggerakkan kedua kaki. Kakinya membeku, kaku. Tak bisa bergerak, dan serasa ada yang menahan.

"Apa Kamu tuli?!" seru patung batu di hadapannya lagi. 

Matanya terbelalak kacau. Pikirannya kacau, hatinya lebih kacau.Dia tak bisa bergerak. Tiba-tiba sepatunya mengeras. Persis seperti batu. Warna abu-abu hitam. Patung batu berwujud seorang kakek tua berjenggot, berjubah dengan tangan bersedekap itu semakin mirip manusia. Matanya berkedip dan bola mata batu bergerak naik turun memandangi lelaki yang kelimpungan itu.

"Kamu tahu kenapa tiba-tiba bisa begini?"

"Si-siapa? Hantu, Siluman, a-a-atau J-Jjin!" tanyanya gelagapan.

Patung itu tersenyum, bibirnya bergerak membentuk lengkungan sabit. 

"Kamu yang siapa? Manusia atau batu! Belum pernah kulihat kamu berdoa pada Tuhanmu," ujar patung itu ketus.

"Aku sudah hidup berabad-abad di sini. Wujudku tetap seperti ini. Tapi aku takut pada Tuhanku. Aku tak pernah berdoa, tapi aku selalu memuji-Nya, mengagungkan asma-Nya."

Dia terdiam mendengar celotehan patung itu. Tiba-tiba di kepalanya banyak berputar memori silam. Kehidupan yang dijalani. Ibu dan ayahnya menangis. Meratapi kesakitannya. Melihatnya sedang terbaring tak berdaya. Ibu dan ayahnya tak pernah lengah menjaga. Bergantian ketika dia sakit parah di rumah sakit.
Terlihat ibunya yang sujud dan mendoakan dia sembuh pada Tuhannya. Juga ayahnya yang tak berhenti berdoa dengan air mata yang dibiarkan membasahi seluruh wajah. Dia, yang saat itu masih kecil. Belum tahu arti benar dan salah. Terbaring di ICU. 

Dia ingat saat itu, ibunya pernah bercerita bahwa dia waktu kecil ditabrak motor. Jatuh terpental. Kaki, tangan dan kepala terluka. Dia ingat itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Sementara tak dirasakan kedua betisnya telah membatu. 

"Kamu pasti ingat itu, Anak Muda!"

Suara itu membangunkannya dari lamunan. Patung itu wajahnya tetap bergerak. Dia terkejut melihat ke bawah. Kedua kakinya setengah sudah membantu. 

"Ke-kenapa kakiku?!" teriaknya panik. Patung itu malah melebarkan lengkung bibirnya. Mengernyitkan dahi pula.

"Kini, aku bisa bergerak. Sepertinya Tuhan sebentar lagi ingin menukarkan keadaan kita. Kamu jadi batu, aku akan hidup," ucap patung itu yang menambah resah lelaki di hadapannya.

"Ti-tidak mungkin! Apa salahku? Aku tidak pernah mengusikmu!" teriaknya lagi menghujat.

"Hohoho. Hitunglah kesalahanmu mulai dari sekarang! Ini bukan kemauanku, Anak Muda. Tuhan ingin kita bertukar tempat. Karena tidak ada guna kamu hidup. Jika tidak pernah mentaati-Nya."

Semakin patung itu bersuara, semakin lama tubuh pemuda itu terus mengeras dari anggota tubuh kakinya. Dilihatnya lagi. Kedua kakinya sudah membatu. Kini sepinggang tubuhnya masih bisa digerakkan. 

"Tolonglah aku, Tuan. Apa yang bisa kulakukan agar aku kembali seperti semula," ucapnya memelas. Wajahnya sudah pias dan pasi. 

"Kau pikirkan lagi, apa-apa yang sudah kamu lakukan, kamu tinggalkan semua kebaikan! Aku hanyalah hamba-Nya. Bukan Tuhan! Bukan siapa-siapa!" Suara patung itu saat ini semakin jelas menggema.Wajahnya sebatas leher sudah berubah menjadi manusia. Dia bisa menggerak-gerakkan wajahnya.

Lelaki itu diam. Wajahnya sudah basah karena keringat dan air mata. Dia menunduk. Mengusap wajahnya berkali-kali sambil merenung. Dia ingat-ingat lagi. 

Memorinya berputar lagi. Ya, dia adalah seorang yang tak pernah sujud, berzikir, apalagi berdoa. Dia tidak pernah sedikit pun berdoa. Semua yang didapatkannya adalah hasil kerja kerasnya, itulah argumen yang bercokol di hati.

"Kamu tidak pernah mendoakan orangtuamu. Ibumu, ayahmu, bahkan dirimu sendiri. Kamu pembohong, munafik! Kamu tidak sayang pada dirimu sendiri, apalagi orangtuamu! Itu sebagian alasan kenapa Tuhan menyuruh kita bertukar tempat!"

Lelaki itu gemetar. Hatinya bagaikan ditembus oleh panah api yang menyala-nyala. Terasa perih, panas dan menyakitkan. Kata-kata patung itu memang benar adanya. Benaknya mengakui bahwa dia seorang yang tak pernah meminta pada Tuhan-Nya. Makhluk yang sombong.

"Kamu pantas jadi batu! Karena batu tak pernah berdoa, Anak Muda. Tapi kami selalu berzikir. Kami lebih baik darimu."

Sekarang patung itu terlihat semakin sempurna. Tubuhnya sebagian dan sedikit lagi menjadi manusia. Sedang pemuda itu tubuhnya hampir membatu. Hanya kepala dan lehernya yang masih manusia.Lelaki itu tidak sepanik tadi. Kali ini dia tak bisa bergerak. Dia sadar tubuhnya telah membatu. Tubuh yang masih berguna hanya wajah, kedua mata, bibir dan kedua telinga saja. 

"Aku mohon, Tuan. Kembalikan wujudku. Aku akan lakukan apa saja untuk dapat mengembalikan tubuhku jadi manusia. Tolonglah, Tuan!" Air matanya mengalir deras. Membasahi wajah yang semakin pias.

"Minta saja pada Tuhan. Kamu coba meminta pada-Nya! Aku ini hanya hamba. Mana bisa mengubahmu. Lakukan saja, berdoalah sungguh-sungguh pada-Nya. Dia Maha Mendengar!"

"Sungguhkah, Tuan?" 

Patung itu mengangguk. Dia lalu menengadahkan kedua tangannya ke atas langit. Menundukkan wajahnya ke bumi. "Ikutilah aku. Menunduklah. Mulailah sungguh-sungguh berdoa. Berjanjilah, kamu hamba-Nya yang paling bodoh. Dan hanya bergantung pada Tuhanmu."

Lelaki itu menunduk. Lehernya mulai mengeras, dagunya, bibirnya. Wajahnya matanya, dahinya, rambutnya. Air mata masih mengalir deras dalam balutan tubuh menjadi patung batu.Lelaki itu menjadi batu!

Patung batu itu menjadi manusia utuh dengan keadaan tangan yang menengadah ke atas langit, pandangan tertunduk ke bawah bumi. "Ya Tuhan, apalah artinya aku menjadi manusia. Aku hanyalah sebongkah batu yang terukir menyerupai manusia. Aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang sombong."

Lamat-lamat patung batu itu bersinar dari balik tubuhnya. Cahaya terang keluar dari kisi-kisi kulitnya. "Aku lebih baik menjadi sebongkah batu!" teriaknya menggema. Dan seketika cahaya itu menghilang. Sosok tubuh di hadapan patung batu itu jatuh tersungkur dalam posisi keadaan sujud. Sosok tubuh lelaki tadi!

"Ya Tuhan! Ya Illahi! Aku kembali. Terima kasih Tuhan!" teriaknya histeris. Dia merabai seluruh tubuhnya. Semua lengkap, tidak ada yang hilang dan cacat.

Lelaki itu menangis keras. Tangis bahagia atau kesedihan. Dilihat di depannya sebongkah batu besar setinggi dirinya. Dirabainya patah-patah. Tubuhnya gemetar. "Kau hanyalah sebongkah batu. Tapi bisa mengingatkanku satu hal. Tentang kehambaanku pada Tuhan." Dia pergi berlari untuk segera pulang, dan melaksanakan itu semua sebelum terlambat.(*)

Cikarang, 20-Agustus-2016. ( Oleh : Rosi Ochiemuh )

Komentar

  1. http://nalurerenewws.blogspot.com/2018/07/taipanqq-manfaat-air-kelapa-untuk.html

    Taipanbiru
    TAIPANBIRU . COM | QQTAIPAN .NET | ASIATAIPAN . COM |
    -KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
    Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID terbaik nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
    Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
    1 user ID sudah bisa bermain 8 Permainan.
    • BandarQ
    • AduQ
    • Capsasusun
    • Domino99
    • Poker
    • BandarPoker
    • Sakong
    • Bandar66

    Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
    Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
    customer service kami yang profesional dan ramah.
    NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
    • WA: +62 813 8217 0873
    • BB : E314EED5

    Daftar taipanqq

    Taipanqq

    taipanqq.com

    Agen BandarQ

    Kartu Online

    Taipan1945

    Judi Online

    AgenSakong

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...