(Pertama kali dipublikasikan oleh Tabloid Minggu Pagi. Terbit setiap hari Jumat. Karena Jumat tanggal merah, jadi hari Kamis, 29 Maret 2018)
Sepulang sekolah, Roman kaget mendapati gang menuju rumahnya terpasang bendera kuning. Roman kebingungan. Siapa yang meninggal dunia? pikirnya. Setiba depan rumah yang terlihat, ia yakin ada yang meninggal dunia dalam rumahnya. Lekas ia memasuki rumah yang ramai didatangi orang-orang.
Benar saja, beberapa tetangga berbela sungkawa atas apa yang terjadi padanya. “Roman, kami turut berduka, atas kepergian nenekmu.” Terlihat ibunya duduk di depan jenazah tertutupi kain batik. Aroma gaharu dan wewangian kembang menguar. Nenek meninggal dunia? tanyanya dalam hati masih tidak percaya.
***
Kemarin Roman menggerutu karena Nenek selalu bawel padanya. Apa yang dilakukan Roman selalu salah. Hingga ia kesal dan mengumpat dalam hati tentang neneknya. Bahkan Roman berharap jika neneknya sakit, sampai tidak lagi bawel padanya. Apa sebenarnya yang Nenek inginkan jika semua yang dilakukannya salah.
“Rom, kalau pulang sekolah ganti baju, shalat, jangan lupa bereskan kamarmu yang mirip gudang itu.”
“Rom! Kecilkan suara tivi, jangan nonton tivi terus. Kamu belajar saja.”
Dan masih banyak lagi yang buat Roman tidak tahu kenapa neneknya sangat bawel dan cerewet tentang ini, itu. Lain jika sedang bersama ibunya, nenek tidak banyak bicara. Malah menurut dan terlihat baik-baik saja.
“Bu, kenapa sih Nenek itu bawel, terus cerewet nggak jelas?” tanya Roman menggerutu saat ibunya menyiapkan makan malam.
“Nenek itu sudah renta usianya. Satu per satu yang dimiliki diambil-Nya. Dari penglihatan, pendengaran, kesehatan, bahkan akalnya. Banyak orang tua renta semakin bertambah umur semakin ia akan kembali jadi anak kecil.”
“Tapi kan, Nenek itu sehat walafiat, Bu.”
“Kamu hanya melihat dia sehat raganya saja. Tapi sebetulnya nenekmu kembali jadi anak-anak lagi, Rom. Yang sabar, anggap saja kamu menghadapi adik kecilmu.”
“Tapi ribet sekali, Bu. Roman pusing kalau dengar Nenek ceramah.”
Ibunya tersenyum. Ia tidak mau membela Roman hanya karena kebawelan dan kecerewetan Nenek. Roman mungkin tidak menyadari jika neneknya merindukan ia kembali jadi anak-anak.
“Roman ... Kamu di mana?”
Suara Nenek terdengar dari kamar. Ia sebenarnya masih kesal, pura-pura tidak dengar neneknya memanggil.
“Roman. Nenek minta tolong,” suara neneknya kembali terdengar tepat depan pintu kamarnya.
Roman berdecak, ia sedang asyik main gadget, neneknya memanggil lagi. Ia jadi kesal bukan main. Hingga terpaksa bangun dan membuka pintu. Neneknya tepat di depan kamarnya berdiri.
“Apa sih Nek?!”
Neneknya kaget mendapati sikap Roman seperti itu.
“Maafin, Rom. Nenek minta tolong. Belikan gado-gado. Nenek lagi pingin banget.”
“Nenek nggak bisa beli sendiri?”
“Lumayan jauh. Dekat sekolahan itu kata ibumu gado-gado yang paling enak.”
“Kenapa jauh banget sih belinya? Kan di warung depan ada.”
“Nenek kepingin, Rom.”
“Minta dibeliin Ibu saja, Nek. Aku capek pulang sekolah, ada tugas yang harus dikerjakan. Besok sudah harus dikumpulkan!”
Mendengar kalimat terakhir Roman, neneknya murung dan tidak bisa lagi berkata-kata dan kembali ke kamarnya. Roman sedikit tidak enak hati karena menolak keinginan neneknya. Hanya sekadar membelikan gado-gado di sekolahan agak jauh, yang bisa ditempuh menggunakan sepeda dan motor. Andai saja nenek bisa mengendarai motor dan sepeda, mungkin ia tidak meminta tolong pada Roman. Tapi mana ada orang tua renta mengendarai sepeda atau pun motor.
***
Roman tidak sangka neneknya meninggal dunia secepat itu. Ia menyesal dengan apa yang telah terjadi kerena ia tak acuh, kesal berlebihan, dan tidak menuruti keinginan neneknya terakhir kali. Ada rasa takut jika neneknya yang sudah meninggal dunia itu datang dalam mimpi.
“Nenek meninggal kenapa, Bu?” tanya Roman sedih.
“Terjadi tiba-tiba. Yah, mungkin sudah waktunya Alloh panggil. Untungnya kemarin Ibu sudah turuti keinginan terkhirnya makan gado-gado yang di sekolahan itu.”
Pemuda itu tercenung sesaat, teringat kemarin ia tidak menuruti keinginan neneknya. Jika saja ia tahu itu adalah permintaan terakhir, mungkin ia akan melakukannya.
Malam selepas acara tahlilan di rumahnya, Roman tertidur di ruang tamu. Ia merasakan neneknya datang menghampiri dan mencium kepalanya dengan lembut. Neneknya saat itu berpakaian serba putih berseri-seri bahagia.
“Nenek!” teriak Roman terkejut.
“Roman ... Terima kasih sudah mengirim doa buatku. Jaga dirimu baik-baik. Jadilah anak yang baik.”
Selepas itu neneknya pergi meninggalkan ia yang antara tidur dan sadar merasakan neneknya hadir.(*)
Cikarang Barat, 11-Maret-2018.
Komentar
Posting Komentar