Cerpen ini pertama kali dimuat di koran Radar Mojokerto grup Jawa Pos. Edisi Minggu, 21-Januari-2018.
Bimsalabim, Abrakadavrah kalimat ajaib itu diucapkan ketika seorang Pesulap menunjukkan keajaibannya. Setiap kali siaran tivi swasta menayangkan acara sulap, gadis kecil itu mengerjap kegirangan. Bertepuk tangan sendirian, berjingkrak-jingkrak di sofa sampai tubuhnya bergoyang.
Di mata gadis kecil itu, sulap bentuk keajaiban terindah yang pernah dia lihat. Itu karena dia sering melihat ibunya menggerutu dan cemberut hingga dia merasa kasihan. Apa sih sebenarnya yang diinginkan orang dewasa itu? Pikir gadis kecil saat mendapati ayah dan ibunya bertengkar. Kalimat yang keluar dari bibir mereka bagai lebah terbang bergerombol mencari sarang. Atau gerombolan lebah itu keluar dari sarang masing-masing untuk berperang, yakni dari mulut ayah dan ibunya.
Dapur akan gaduh dengan suara dentuman pintu kayu, lalu piring, gelas, panci, bertabrakan di lantai keramik. Gadis kecil akan bersembunyi dalam kamarnya di balik selimut tebal. Seolah dia ingin menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa dengan apa yang terjadi dalam rumahnya. Atau dia akan mengunci pintu kamar dari dalam dengan bantuan bangku karena tubuhnya belum bisa meraih kunci selop.
Ibu sering mendiamkan dia sendirian di kamar atau di ruang tamu dengan televisi. Berteman dengan televisi juga Miu—kucing kampung yang suka wara-wiri di rumahnya. Karena Ibu terlalu banyak urusan dan pekerjaan rumah. Gadis itu akan memencet remot, menonton acara apa saja yang dia sukai. Hingga sampai dia bertemu dengan acara tivi yang buat dia terpana. Acara Sulap!
Mula-mula dia diperlihatkan seorang pemain sulap berwajah tampan, memakai topi panjang warna hitam berbintang-bintang kuning, pakaiannya kerlap-kerlip, begitu juga jubah tebalnya. Tongkat ajaib sang pesulap itu begitu hebat, pikirnya. Bisa melakukan apa pun yang dipinta si pesulap. Mulai dari menghilangkan kakak cantik berbaju mini, lalu seekor kelinci putih, seorang penonton, sebuket bunga. Juga bisa mendatangkan gajah dari topinya, kelinci, kakak cantik, sebuket bunga, penonton dan uang kertas berlembar-lembar! Diiringi musik-musik riang gembira.
“Apakah Ibu mau jadi Pesulap?” tanya gadis kecil itu suatu waktu saat makan bersama dengan ibunya. Ayahnya tidak pernah ada ketika mereka makan bersama.
“Kamu ngomong apa, sih? Habiskan saja makanan kamu. Jangan bicara dulu sebelum makananmu habis,” jawab ibunya. Dia langsung diam dan menuruti perintah Ibu.
Dia selalu diam ketika Ibu selalu memerintah dan membuat dia tidak bisa melakukan apa pun termasuk memikirkan bagaimana ibunya jadi Pesulap. Padahal dia sangat menyayangi ibunya dan ingin agar perempuan itu bahagia, sebahagia dia ketika menonton acara sulap. Acara sulap itu menjadi acara favoritnya setelah film-film kartun animasi di tivi swasta. Anehnya, acara sulap di tivi ditayangkan setiap hari selepas dia pulang sekolah.
Gadis kecil itu tidak akan pernah bisa menjadi Pesulap. Dia ingin ibunya bisa jadi Pesulap. Agar Ayah bisa menjadi orang baik. Orang dewasa yang baik dan jadi suka bermain dengannya. Ayah memang jarang pulang ke rumah. Sekali dia pulang, rumah akan menjadi tempat bertengkar, juga berantakan. Seperti anjing dan kucing yang tidak bisa diam bila bertemu. Dia ingin memperbaiki sesuatu dalam rumah itu. Termasuk Ibu dan Ayah. Mereka berdua sangat berarti, seberarti acara film kartun animasi dan acara sulap itu.
“Ibu tidak ingin jadi Pesulap?” tanyanya kembali ketika ibunya sedang memasak di dapur.
Tapi ibunya pura-pura tidak dengar karena sibuk dengan masakannya. Ibu memang sedang mencetak uang di dapur, untuk membuat dapurnya selalu ngebul. Juga untuk membuat dia menjadi anak yang pintar dengan bersekolah. Ibu bilang, Ayah tidak pernah lagi memberikan uang. Bahkan Ayah hanya bisa menghabiskan uang. Kesibukan Ibu lah yang membuat dia menghabiskan waktu di depan tivi, bermain bersama Miu, tidak boleh keluar rumah. Karena kata ibunya, jika dia main di luar akan menyulitkan Ibu mencarinya. Banyak anak-anak nakal di luar sana, termasuk Ayah. Jadi dia tidak diperbolehkan main di luar rumah.
Gadis kecil itu menurut, sejak dulu dia menurut pada Ibu. Sampai teman-teman di sekolahnya heran kenapa dia begitu menurut pada ibunya. Rupanya gadis kecil itu menurut, lantaran hanya Ibu yang mengurusi keperluannya. Hanya Ibu yang memperbolehkan dia menonton televisi seharian. Hanya Ibu yang memasak makanan kesukaannya. Meski dia tidak pernah main di luar rumah.
Dia percaya bahwa ibunya seorang pelindung. Meski Ibu tidak pernah bermain bersamanya, atau menanggapi perkataannya tentang “Apakah Ibu ingin jadi Pesulap?” dia masih sabar menunggu jawaban ibunya.
Dia tidak pernah menangis karena ibunya, dan tidak pernah menangisi apa pun. Karena kata ibunya, menangis adalah bodoh. Maka jika tidak mau menjadi orang bodoh, jangan menangis. Cukup teriak, tertawa, dan bernyanyi saja.
Tapi, Ibu adalah pembohong yang ulung. Karena Ibu pernah menangis selepas bertengkar dengan Ayah. Gadis kecil itu mendapatinya ketika dia tidak sengaja ke kamar ibunya untuk minta tolong diantarkan ke kamar mandi. Dia melihat kedua mata ibunya basah dan merah, ketika ditanya apakah Ibu menangis? Ibu berbohong, bahwa matanya berair karena mengiris bawang merah di dapur tadi. Meski begitu, gadis kecil itu tetap tidak bisa dibohongi dan dia tahu bahwa ibunya menangis karena ayahnya.
Andai saja, Pesulap itu benar-benar keluar dari dalam televisi, pikirnya. Pasti dia akan menolong Ibu dan Ayah. Bagaimana membuat Ibu dan Ayah damai selalu dan setiap hari bisa makan bersama, nonton tivi bersama, jalan-jalan bersama seperti yang dilakukan oleh teman-teman di sekolahnya ketika mereka bersama ayah dan ibu mereka.
“Bimsalabim Abrakadavrah! Bimsalabim Abrakadavrah!” kalimat itu dia ulang berkali-kali ketika melihat dua ekor kucing bertengkar di depan rumah. Tetapi kedua kucing itu semakin menjadi-jadi betengkar. Gadis kecil itu langsung masuk menutup pintu dengan keras.
“Iya, nanti Ibu siram mereka dengan air,” jawab ibunya dari dapur.
“Suaranya makin berisik, Ibu!”
“Iya, nanti Ibu bereskan!”
“Ibu, Aku takut!”
“Kamu masuk ke kamar saja!”
Gadis kecil itu melangkah ke kamarnya, dengan rasa penasaran terhadap kalimat Pesulap dan dua kucing yang bertengkar.
Saat akan memasuki pintu kamarnya, dia melihat ibunya membawa satu gayung air kemudian membuka pintu dan menyiramkan kedua kucing yang bertengkar. Keduanya masih belum pergi. Ibu mengambil satu gayung air lagi dan kedua kucing itu pergi jauh. Melihat itu, dia bertepuk tangan, seolah Ibu membuat sebuah keajaiban.
Esok harinya di hari Sabtu. Sekolah libur, dan dia bebas untuk menonton tivi sejak pagi. Pagi-pagi sekali dia mandi dan ibunya memasak banyak di dapur. Masakan lauk-pauk dan sayuran matang untuk dijual. Sedang asyik dia menonton tivi, Ayah datang mengucap salam sapa. Gadis kecil itu menyambut ayahnya. Hari itu dia merasa Ayahnya sedang bersahabat.
Dia membayangkan Ibu berubah jadi Pesulap seperti di tivi. Bisa menghilangkan suara Ayah, dan membuat ayahnya menunduk patuh. Lalu Ibu menyulap ayahnya jadi seperti dirinya yang diam, dan asyik menonton televisi bersamanya. Tertawa geli menyaksikan adegan badut jatuh dari bola di arena sirkus dalam televisi. Dan Ibu menyulap kembali sesuatu untuk dimakan oleh mereka berdua. Kue donat dilumuri cokelat dan kue pie yang berlumuran cokelat stroberi, makan bersama sambil tertawa.
Tiba-tiba panci menggelinding dari dapur jatuh ke kakinya. Dia terkejut, ternyata dia tadi hanya berkhayal. Suara gaduh di dapur makin berisik. Membuat telinganya sakit. Bagaimana caranya agar Ayah dan Ibu bisa diam? Sedangkan selama ini dia selalu bersembunyi ketika mereka bertengkar. Gadis kecil itu diam-diam masuk ke kamar mandi membawa panci yang dia isi dengan air, dia bawa ke dapur dimana Ibu dan Ayah masih bertengkar.
Dia mengingat kejadian kemarin tentang dua ekor kucing yang bertengkar. Dia ambil satu gayung air dengan cepat disiramkan pada ibu dan ayahnya berkali-kali sampai basah kuyup. Hingga keduanya terdiam sejenak. Pandangan mereka tertumbuk pada gadis kecil mereka yang sedang memegang gayung dan panci berisi air.
“Aku sedang mengusir kucing-kucing yang bertengkar!”
Ibu terkejut dan Ayah melotot kesal karena tubuhnya basah kuyup lalu melangkah menghampiri gadis kecil itu. Belum sampai melangkah, Ayah terpeleset jatuh dan menabrak tubuh Ibu hingga mereka jatuh bersama. Kepala mereka berbenturan dan membuat gadis kecil histeris.
“Ibu! Ayah! Jangan mati!” teriak gadis kecil itu. Ayah dan ibunya bangun dan berangkulan.
“Bimsalabim Abrakdavrah! Ibu tidak usah jadi pesulap karena akulah pesulapnya,” ucapnya senang.(*)
Cikarang Barat, 02-Januari-2018.
Bimsalabim, Abrakadavrah kalimat ajaib itu diucapkan ketika seorang Pesulap menunjukkan keajaibannya. Setiap kali siaran tivi swasta menayangkan acara sulap, gadis kecil itu mengerjap kegirangan. Bertepuk tangan sendirian, berjingkrak-jingkrak di sofa sampai tubuhnya bergoyang.
Di mata gadis kecil itu, sulap bentuk keajaiban terindah yang pernah dia lihat. Itu karena dia sering melihat ibunya menggerutu dan cemberut hingga dia merasa kasihan. Apa sih sebenarnya yang diinginkan orang dewasa itu? Pikir gadis kecil saat mendapati ayah dan ibunya bertengkar. Kalimat yang keluar dari bibir mereka bagai lebah terbang bergerombol mencari sarang. Atau gerombolan lebah itu keluar dari sarang masing-masing untuk berperang, yakni dari mulut ayah dan ibunya.
Dapur akan gaduh dengan suara dentuman pintu kayu, lalu piring, gelas, panci, bertabrakan di lantai keramik. Gadis kecil akan bersembunyi dalam kamarnya di balik selimut tebal. Seolah dia ingin menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa dengan apa yang terjadi dalam rumahnya. Atau dia akan mengunci pintu kamar dari dalam dengan bantuan bangku karena tubuhnya belum bisa meraih kunci selop.
Ibu sering mendiamkan dia sendirian di kamar atau di ruang tamu dengan televisi. Berteman dengan televisi juga Miu—kucing kampung yang suka wara-wiri di rumahnya. Karena Ibu terlalu banyak urusan dan pekerjaan rumah. Gadis itu akan memencet remot, menonton acara apa saja yang dia sukai. Hingga sampai dia bertemu dengan acara tivi yang buat dia terpana. Acara Sulap!
Mula-mula dia diperlihatkan seorang pemain sulap berwajah tampan, memakai topi panjang warna hitam berbintang-bintang kuning, pakaiannya kerlap-kerlip, begitu juga jubah tebalnya. Tongkat ajaib sang pesulap itu begitu hebat, pikirnya. Bisa melakukan apa pun yang dipinta si pesulap. Mulai dari menghilangkan kakak cantik berbaju mini, lalu seekor kelinci putih, seorang penonton, sebuket bunga. Juga bisa mendatangkan gajah dari topinya, kelinci, kakak cantik, sebuket bunga, penonton dan uang kertas berlembar-lembar! Diiringi musik-musik riang gembira.
Gadis kecil itu terpana pada setiap adegan sulap yang dipertontonkan. Apakah Pesulap bisa membantu Ibu dan Ayah agar tidak bertengkar lagi? Pikirnya. Lalu siapa yang akan jadi pesulapnya? Sedangkan dirinya masih kecil, dan Pesulap yang ada di tivi itu orang dewasa dengan tubuh yang tinggi. Aku hanya setinggi pinggang Pesulap. Mungkinkah salah satu dari Ibu atau Ayah, bisa jadi pesulap? Pikirnya lagi. Jika Ayah yang jadi pesulap itu, maka dia akan menghilangkan apa pun di rumah. Ibu jadi tidak berdaya. Tapi jika Ibu yang jadi pesulapnya, pasti Ayah tidak akan lagi marah-marah dan akan menuruti kemauan Ibu. Karena selama ini Ayah sangat nakal. Dia seorang pemarah dan keras kepala.
Terkadang pikirannya tentang menjadikan ibunya Pesulap sampai di tempat dia bersekolah. Dia mengharapkan itu benar-benar terjadi pada ibunya. Hingga teman-teman di sekolah dibuat bingung pada kelakuannya yang sering bicara sendiri.
“Apakah Ibu mau jadi Pesulap?” tanya gadis kecil itu suatu waktu saat makan bersama dengan ibunya. Ayahnya tidak pernah ada ketika mereka makan bersama.
“Kamu ngomong apa, sih? Habiskan saja makanan kamu. Jangan bicara dulu sebelum makananmu habis,” jawab ibunya. Dia langsung diam dan menuruti perintah Ibu.
Dia selalu diam ketika Ibu selalu memerintah dan membuat dia tidak bisa melakukan apa pun termasuk memikirkan bagaimana ibunya jadi Pesulap. Padahal dia sangat menyayangi ibunya dan ingin agar perempuan itu bahagia, sebahagia dia ketika menonton acara sulap. Acara sulap itu menjadi acara favoritnya setelah film-film kartun animasi di tivi swasta. Anehnya, acara sulap di tivi ditayangkan setiap hari selepas dia pulang sekolah.
Gadis kecil itu tidak akan pernah bisa menjadi Pesulap. Dia ingin ibunya bisa jadi Pesulap. Agar Ayah bisa menjadi orang baik. Orang dewasa yang baik dan jadi suka bermain dengannya. Ayah memang jarang pulang ke rumah. Sekali dia pulang, rumah akan menjadi tempat bertengkar, juga berantakan. Seperti anjing dan kucing yang tidak bisa diam bila bertemu. Dia ingin memperbaiki sesuatu dalam rumah itu. Termasuk Ibu dan Ayah. Mereka berdua sangat berarti, seberarti acara film kartun animasi dan acara sulap itu.
“Ibu tidak ingin jadi Pesulap?” tanyanya kembali ketika ibunya sedang memasak di dapur.
Tapi ibunya pura-pura tidak dengar karena sibuk dengan masakannya. Ibu memang sedang mencetak uang di dapur, untuk membuat dapurnya selalu ngebul. Juga untuk membuat dia menjadi anak yang pintar dengan bersekolah. Ibu bilang, Ayah tidak pernah lagi memberikan uang. Bahkan Ayah hanya bisa menghabiskan uang. Kesibukan Ibu lah yang membuat dia menghabiskan waktu di depan tivi, bermain bersama Miu, tidak boleh keluar rumah. Karena kata ibunya, jika dia main di luar akan menyulitkan Ibu mencarinya. Banyak anak-anak nakal di luar sana, termasuk Ayah. Jadi dia tidak diperbolehkan main di luar rumah.
Gadis kecil itu menurut, sejak dulu dia menurut pada Ibu. Sampai teman-teman di sekolahnya heran kenapa dia begitu menurut pada ibunya. Rupanya gadis kecil itu menurut, lantaran hanya Ibu yang mengurusi keperluannya. Hanya Ibu yang memperbolehkan dia menonton televisi seharian. Hanya Ibu yang memasak makanan kesukaannya. Meski dia tidak pernah main di luar rumah.
Dia percaya bahwa ibunya seorang pelindung. Meski Ibu tidak pernah bermain bersamanya, atau menanggapi perkataannya tentang “Apakah Ibu ingin jadi Pesulap?” dia masih sabar menunggu jawaban ibunya.
Dia tidak pernah menangis karena ibunya, dan tidak pernah menangisi apa pun. Karena kata ibunya, menangis adalah bodoh. Maka jika tidak mau menjadi orang bodoh, jangan menangis. Cukup teriak, tertawa, dan bernyanyi saja.
Tapi, Ibu adalah pembohong yang ulung. Karena Ibu pernah menangis selepas bertengkar dengan Ayah. Gadis kecil itu mendapatinya ketika dia tidak sengaja ke kamar ibunya untuk minta tolong diantarkan ke kamar mandi. Dia melihat kedua mata ibunya basah dan merah, ketika ditanya apakah Ibu menangis? Ibu berbohong, bahwa matanya berair karena mengiris bawang merah di dapur tadi. Meski begitu, gadis kecil itu tetap tidak bisa dibohongi dan dia tahu bahwa ibunya menangis karena ayahnya.
Andai saja, Pesulap itu benar-benar keluar dari dalam televisi, pikirnya. Pasti dia akan menolong Ibu dan Ayah. Bagaimana membuat Ibu dan Ayah damai selalu dan setiap hari bisa makan bersama, nonton tivi bersama, jalan-jalan bersama seperti yang dilakukan oleh teman-teman di sekolahnya ketika mereka bersama ayah dan ibu mereka.
“Bimsalabim Abrakadavrah! Bimsalabim Abrakadavrah!” kalimat itu dia ulang berkali-kali ketika melihat dua ekor kucing bertengkar di depan rumah. Tetapi kedua kucing itu semakin menjadi-jadi betengkar. Gadis kecil itu langsung masuk menutup pintu dengan keras.
“Ibu! Ada kucing bertengkar di depan rumah!” teriaknya.
“Iya, nanti Ibu siram mereka dengan air,” jawab ibunya dari dapur.
“Suaranya makin berisik, Ibu!”
“Iya, nanti Ibu bereskan!”
“Ibu, Aku takut!”
“Kamu masuk ke kamar saja!”
Gadis kecil itu melangkah ke kamarnya, dengan rasa penasaran terhadap kalimat Pesulap dan dua kucing yang bertengkar.
Saat akan memasuki pintu kamarnya, dia melihat ibunya membawa satu gayung air kemudian membuka pintu dan menyiramkan kedua kucing yang bertengkar. Keduanya masih belum pergi. Ibu mengambil satu gayung air lagi dan kedua kucing itu pergi jauh. Melihat itu, dia bertepuk tangan, seolah Ibu membuat sebuah keajaiban.
Esok harinya di hari Sabtu. Sekolah libur, dan dia bebas untuk menonton tivi sejak pagi. Pagi-pagi sekali dia mandi dan ibunya memasak banyak di dapur. Masakan lauk-pauk dan sayuran matang untuk dijual. Sedang asyik dia menonton tivi, Ayah datang mengucap salam sapa. Gadis kecil itu menyambut ayahnya. Hari itu dia merasa Ayahnya sedang bersahabat.
Beberapa menit berlalu, dari dapur suara ribut terdengar. Berisik sekali sampai gaduh, hingga suara tivi hampir tidak terdengar. Dia ingin mengintip apa yang sedang terjadi di sana. Tapi sepertinya suara gaduh Ayah dan Ibu semakin membesar.
Dia membayangkan Ibu berubah jadi Pesulap seperti di tivi. Bisa menghilangkan suara Ayah, dan membuat ayahnya menunduk patuh. Lalu Ibu menyulap ayahnya jadi seperti dirinya yang diam, dan asyik menonton televisi bersamanya. Tertawa geli menyaksikan adegan badut jatuh dari bola di arena sirkus dalam televisi. Dan Ibu menyulap kembali sesuatu untuk dimakan oleh mereka berdua. Kue donat dilumuri cokelat dan kue pie yang berlumuran cokelat stroberi, makan bersama sambil tertawa.
Tiba-tiba panci menggelinding dari dapur jatuh ke kakinya. Dia terkejut, ternyata dia tadi hanya berkhayal. Suara gaduh di dapur makin berisik. Membuat telinganya sakit. Bagaimana caranya agar Ayah dan Ibu bisa diam? Sedangkan selama ini dia selalu bersembunyi ketika mereka bertengkar. Gadis kecil itu diam-diam masuk ke kamar mandi membawa panci yang dia isi dengan air, dia bawa ke dapur dimana Ibu dan Ayah masih bertengkar.
Dia mengingat kejadian kemarin tentang dua ekor kucing yang bertengkar. Dia ambil satu gayung air dengan cepat disiramkan pada ibu dan ayahnya berkali-kali sampai basah kuyup. Hingga keduanya terdiam sejenak. Pandangan mereka tertumbuk pada gadis kecil mereka yang sedang memegang gayung dan panci berisi air.
“Aku sedang mengusir kucing-kucing yang bertengkar!”
Ibu terkejut dan Ayah melotot kesal karena tubuhnya basah kuyup lalu melangkah menghampiri gadis kecil itu. Belum sampai melangkah, Ayah terpeleset jatuh dan menabrak tubuh Ibu hingga mereka jatuh bersama. Kepala mereka berbenturan dan membuat gadis kecil histeris.
“Ibu! Ayah! Jangan mati!” teriak gadis kecil itu. Ayah dan ibunya bangun dan berangkulan.
“Bimsalabim Abrakdavrah! Ibu tidak usah jadi pesulap karena akulah pesulapnya,” ucapnya senang.(*)
Cikarang Barat, 02-Januari-2018.

Komentar
Posting Komentar