Langsung ke konten utama

Kau yang Mencoba Berdamai dengan Dirimu Sendiri. ( Fiksi_Rosi )


KAU YANG MENCOBA BERDAMAI DENGAN DIRIMU SENDIRI.

Waktu sudah membawamu terlalu jauh. Ketika kau mendapati karyawatimu, pekerja yang sudah bekerja selama belasan tahun di kantor ini. Adminitrasi itu sekarang sudah berkacamata minus, dan sudah memiliki anak. Yang kaulihat keadaan kemarin dia seperti anakmu sendiri. Itu berarti kau sudah berada pada level kewaspadaan usia dan mungkin sebentar lagi menuju alam keabadian.

            Sudah hampir selama itu, sikap dan caramu arogan terhadap mereka. Orang-orang yang telah mengabdikan diri bekerja di kantormu itu. Bukan hanya itu saja, kausadari anak gadismu telah berusia dewasa, dia bukan remaja lagi, juga bukan kanak-kanak yang dulu dalam gendonganmu. Tapi, setiap pengalaman hidup tidak juga membuatmu sadar. Sikap arogansi, perfeksionis, dan merasa selalu benar masih bercokol dan menebarkan bibit kebencian baru.

            Kata maaf seakan tidak ada gunanya dan itu tidaklah cocok untuk kauucapkan apalagi pada bawahan-bawahan. Mungkin akan jadi semacam sesuatu yang akan menurunkan kewibawaan sebagai seorang pemimpin perusahaan. Padahal kata maaf bukan merendahkan diri, melainkan Tuhan akan menaikkan posisimu sebagai hamba-Nya yang penuh kebaikan.

            Kau sering melamun, memikirkan omset perusahan yang selalu menurun tiap tahun. Meeting yang selalu diadakan dengan teman-teman pemegang saham di perusahaanmu itu tidak pernah puas dengan apa yang kaujelaskan. Mereka hanya bisa mengandalkan kemampuanmu, bukan memberikan gagasan terbaik demi kebaikan perusahaan yang dijalankan. Semua karena hati dan pikiran itu hanya sering difokuskan pada usaha sendiri, bukan dari tangan Tuhan. Sehingga meski kau penganut ajaran agama Tuhan Yang Maha Esa, kau jarang sekali melaksanakan perintah-Nya. Masih melanggar larangan-Nya. Padahal para pegawaimu yang kaupandang sebelah mata itu selalu menyempatkan diri menjalankan ibadah di kantormu. Kau tidak akan pernah tahu doa apa yang mereka panjatkan kepada Tuhannya? Mungkin saja mereka juga mendoakan kebaikanmu dan perusahaanmu agar berjalan dengan baik, agar mereka bisa  terus bekerja dan mendapatkan matapencarian setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Apa kau tahu itu?

            Mulailah kau termenung sendiri akan perjalanan yang kau lalui selama ini. Tanpa mereka, perusahaanmu tidak akan pernah berjalan sejauh ini. Tidak akan mungkin. Tanpa loyalitas dan kesabaran mereka dalam melakukan tugas di perusahaanmu, kau tidak bisa menikmati hasilnya seperti membuat anak-anakmu menjadi sarjana, sekolah elite, menyenangkan istri dengan tempat tinggal yang nyaman dan segala kemudahaannya. Tidak mungkin kau bisa merasakan semua itu jika tidak dari kerjasama para pegawaimu.

            Kau memang menggaji mereka, seperti membayarkan hak dari kewajiban yang mereka berikan. Tetapi, itu semua berjalan baik bukan dari tanganmu sendiri. Tuhan punya andil itu semua, Dia menggerakkan hati dan pikiran ciptaan-Nya dengan cara-Nya. Jika suatu waktu Tuhan tidak menghendaki dan menahan itu semua, apa yang mesti kauperbuat? Uang bukanlah segalanya di dunia ini. Bahkan jika kau mati dan sudah menempati alam kuburmu, malaikat akan menanyakan; “Siapa Tuhanmu?” Dan jika kau ingin membayar malaikat-malaikat itu dengan uangmu, apakah ketika kau mati membawa uang selembar rupiah atau dollar pun?

            Bukannya bawahanmu itu tidak tahu berterima kasih. Justru mereka adalah orang-orang yang sangat tahu rasa berterimakasih. Terbukti, mereka tidak berani melakukan tipu daya terhadapmu di belakang atau di depan. Tapi kau terlalu naïf, terlalu berprasangka dan terlalu possesif.

            Tidak ada cermin di ruanganmu, karena setiap saat kausibuk mengoreksi kerjaan orang lain dan kerjaanmu sendiri. Mencoba bekerja keras untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya demi perusahaan dan para pegawai, itu visi-misimu. Walau tanpa disadari kausudah merenggut sebagian kecil hak-hak seorang manusia dan hamba dari para pegawaimu. Sedikit-sedikit, tanpa disadari. Kemudian jika itu terjadi pada diri sendiri, kau mengambil posisi itu. Merasa dirugikan, meski sebenarnya kau selalu mendapatkan keuntungan perusahaan yang tidak diketahui oleh para pegawaimu. Hak seorang pemilik perusahaan. Asuransi kesehatan, tunjangan, bonus, waktu-waktu longgar bisa absen tanpa potongan kapan saja, terlambat datang tanpa potongan, atau pulang cepat dari biasanya seperti dadakan tanpa izin terlebih dahulu. Apakah para pegawaimu itu bisa melakukan itu? Jikalau ada pun, mereka tidak akan lama bekerja di tempatmu.

            Kurang bersyukurpun sering dikeluhkan. Padahal kau sendiri sudah mampu membayar orang lain dengan uangmu. Apakah kau tidak melihat ke bawah sana, ada beberapa kepala keluarga yang masih hidup mengontrak, dengan anak banyak dan hidup pas-pasan. Ada juga kepala keluarga yang tinggal di kontrakan dengan pekerjaan tidak tetap, seperti menjadi pemulung barang rongsokan, barang-barang bekas tak terpakai. Juga, ada kepala keluarga yang pincang. Seperti dia seorang duda punya anak-anak masih kecil, atau janda yang punya anak banyak masih kecil-kecil mencari nafkah dengan menjadi buruh pabrik harian. Tempat tinggal mereka tidak layak huni, dan anak-anak mereka ada yang bersekolah dan ada yang tidak. Apakah kau tidak pernah melihat pemandangan itu?

            Sebagai seorang yang berpendidikan tinggi, pandangan dan wawasanmu lebih luas dari mereka. Bukan zahirnya saja, tapi dari segi batin. Seharusnya kau lebih baik dari mereka dalam hal itu. Namun, kesibukan mengurus perusahaan dan berkolega dengan orang-orang yang slaing menguntungkan menjadikanmu lupa dan alpa pada banyaknya pelajaran hidup di dunia ini.

            Saat berada di rumah sakit, ketika istrimu mendapatkan penyakit yang berat. Hatimu bertanya-tanya kenapa? Padahal selama ini kau sudah merasa bahwa anak dan istrimu diberikan kecukupan hidup yang lebih. Tapi masih bisa merasakan sakit yang berat. Sampai mengeluarkan biaya dan tenaga banyak untuk mewujudkan kesembuhannya. Karena Tuhan itu Maha Adil. Dia memberikan penyakit kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Mau dia kaya atau miskin, semua mendapatkan penyakit sesuai sebab musababnya. Untuk apa kau berpikir banyak ke sana? Kalau sudah berpikir pun, kenapa kau masih diam di tempat, tidak berbuat hal yang merubah sikap dan caramu hidup terhadap diri sendiri dan orang lain?

            Sekarang kau mencoba untuk berubah selepas menyadari bahwa kau semakin tua. Tubuhmu tidak lebih mesin yang sudah seharusnya diistirahatkan Karena terlalu banyak dipakai sewaktu muda. Kau mulai belajar untuk menghadapi pegawaimu dengan sikap yang ramah, mencoba terbuka dalam masukan-masukan dari mereka. Kau mulai belajar memahami diri mereka. Dan menjaga diri agar tidak terlalu berlebihan dalam bersikap ketika ada masalah di kantormu. Bukan itu saja, kau mulai melakukan ibadah tepat waktu ketika di rumah dan di kantor. Sampai bisikan seorang pegawai yang menganggapmu mungkin akan pergi umroh atau pergi haji saat melihatmu sedang mendirikan salat. Karena memang mereka tidak pernah melihatmu begitu.

            Itulah hidup. Kau mulai terusik dengan bisikan-bisikan ornag lain yang mulai melihat perubahan ke arah yang baik. Ada semacam perang di hatimu. Malaikat dan Setan saling beradu pendapat dan memberikans nasehat kecil. Beradu argument hingga membuat kekacauan di kepala dan akhirnya kau pusing. Rupanya malaikat telah memenangkan debat kusir itu, kau pun terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Berubah kepada yang lebih baik, karena akhir adalah segalanya meski awalnya buruk. Berproses, katamu dalam hati. Mulai berdamai dengan diri sendiri lantaran sebuah mimpi yang mengusikmu sebelum ini. Mimpi yang sangat menyeramkan.(*)

            Cikarang, 04-Juni-2017. (Rosi Ochiemuh)


           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...