KAU YANG MENCOBA BERDAMAI DENGAN DIRIMU SENDIRI.
Waktu
sudah membawamu terlalu jauh. Ketika kau mendapati karyawatimu, pekerja yang
sudah bekerja selama belasan tahun di kantor ini. Adminitrasi itu sekarang
sudah berkacamata minus, dan sudah memiliki anak. Yang kaulihat keadaan kemarin
dia seperti anakmu sendiri. Itu berarti kau sudah berada pada level kewaspadaan
usia dan mungkin sebentar lagi menuju alam keabadian.
Sudah hampir selama itu, sikap dan
caramu arogan terhadap mereka. Orang-orang yang telah mengabdikan diri bekerja
di kantormu itu. Bukan hanya itu saja, kausadari anak gadismu telah berusia
dewasa, dia bukan remaja lagi, juga bukan kanak-kanak yang dulu dalam
gendonganmu. Tapi, setiap pengalaman hidup tidak juga membuatmu sadar. Sikap
arogansi, perfeksionis, dan merasa selalu benar masih bercokol dan menebarkan
bibit kebencian baru.
Kata maaf seakan tidak ada gunanya
dan itu tidaklah cocok untuk kauucapkan apalagi pada bawahan-bawahan. Mungkin
akan jadi semacam sesuatu yang akan menurunkan kewibawaan sebagai seorang
pemimpin perusahaan. Padahal kata maaf bukan merendahkan diri, melainkan Tuhan
akan menaikkan posisimu sebagai hamba-Nya yang penuh kebaikan.
Kau sering melamun, memikirkan omset
perusahan yang selalu menurun tiap tahun. Meeting yang selalu diadakan dengan
teman-teman pemegang saham di perusahaanmu itu tidak pernah puas dengan apa
yang kaujelaskan. Mereka hanya bisa mengandalkan kemampuanmu, bukan memberikan
gagasan terbaik demi kebaikan perusahaan yang dijalankan. Semua karena hati dan
pikiran itu hanya sering difokuskan pada usaha sendiri, bukan dari tangan
Tuhan. Sehingga meski kau penganut ajaran agama Tuhan Yang Maha Esa, kau jarang
sekali melaksanakan perintah-Nya. Masih melanggar larangan-Nya. Padahal para pegawaimu
yang kaupandang sebelah mata itu selalu menyempatkan diri menjalankan ibadah di
kantormu. Kau tidak akan pernah tahu doa apa yang mereka panjatkan kepada
Tuhannya? Mungkin saja mereka juga mendoakan kebaikanmu dan perusahaanmu agar
berjalan dengan baik, agar mereka bisa
terus bekerja dan mendapatkan matapencarian setiap bulannya untuk
memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Apa kau tahu itu?
Mulailah kau termenung sendiri akan
perjalanan yang kau lalui selama ini. Tanpa mereka, perusahaanmu tidak akan pernah
berjalan sejauh ini. Tidak akan mungkin. Tanpa loyalitas dan kesabaran mereka
dalam melakukan tugas di perusahaanmu, kau tidak bisa menikmati hasilnya
seperti membuat anak-anakmu menjadi sarjana, sekolah elite, menyenangkan istri
dengan tempat tinggal yang nyaman dan segala kemudahaannya. Tidak mungkin kau
bisa merasakan semua itu jika tidak dari kerjasama para pegawaimu.
Kau memang menggaji mereka, seperti
membayarkan hak dari kewajiban yang mereka berikan. Tetapi, itu semua berjalan
baik bukan dari tanganmu sendiri. Tuhan punya andil itu semua, Dia menggerakkan
hati dan pikiran ciptaan-Nya dengan cara-Nya. Jika suatu waktu Tuhan tidak
menghendaki dan menahan itu semua, apa yang mesti kauperbuat? Uang bukanlah
segalanya di dunia ini. Bahkan jika kau mati dan sudah menempati alam kuburmu,
malaikat akan menanyakan; “Siapa Tuhanmu?” Dan jika kau ingin membayar
malaikat-malaikat itu dengan uangmu, apakah ketika kau mati membawa uang
selembar rupiah atau dollar pun?
Bukannya bawahanmu itu tidak tahu
berterima kasih. Justru mereka adalah orang-orang yang sangat tahu rasa
berterimakasih. Terbukti, mereka tidak berani melakukan tipu daya terhadapmu di
belakang atau di depan. Tapi kau terlalu naïf, terlalu berprasangka dan terlalu
possesif.
Tidak ada cermin di ruanganmu,
karena setiap saat kausibuk mengoreksi kerjaan orang lain dan kerjaanmu
sendiri. Mencoba bekerja keras untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya
demi perusahaan dan para pegawai, itu visi-misimu. Walau tanpa disadari
kausudah merenggut sebagian kecil hak-hak seorang manusia dan hamba dari para
pegawaimu. Sedikit-sedikit, tanpa disadari. Kemudian jika itu terjadi pada diri
sendiri, kau mengambil posisi itu. Merasa dirugikan, meski sebenarnya kau selalu
mendapatkan keuntungan perusahaan yang tidak diketahui oleh para pegawaimu. Hak
seorang pemilik perusahaan. Asuransi kesehatan, tunjangan, bonus, waktu-waktu
longgar bisa absen tanpa potongan kapan saja, terlambat datang tanpa potongan,
atau pulang cepat dari biasanya seperti dadakan tanpa izin terlebih dahulu.
Apakah para pegawaimu itu bisa melakukan itu? Jikalau ada pun, mereka tidak
akan lama bekerja di tempatmu.
Kurang bersyukurpun sering
dikeluhkan. Padahal kau sendiri sudah mampu membayar orang lain dengan uangmu.
Apakah kau tidak melihat ke bawah sana, ada beberapa kepala keluarga yang masih
hidup mengontrak, dengan anak banyak dan hidup pas-pasan. Ada juga kepala
keluarga yang tinggal di kontrakan dengan pekerjaan tidak tetap, seperti
menjadi pemulung barang rongsokan, barang-barang bekas tak terpakai. Juga, ada
kepala keluarga yang pincang. Seperti dia seorang duda punya anak-anak masih
kecil, atau janda yang punya anak banyak masih kecil-kecil mencari nafkah
dengan menjadi buruh pabrik harian. Tempat tinggal mereka tidak layak huni, dan
anak-anak mereka ada yang bersekolah dan ada yang tidak. Apakah kau tidak
pernah melihat pemandangan itu?
Sebagai seorang yang berpendidikan
tinggi, pandangan dan wawasanmu lebih luas dari mereka. Bukan zahirnya saja,
tapi dari segi batin. Seharusnya kau lebih baik dari mereka dalam hal itu.
Namun, kesibukan mengurus perusahaan dan berkolega dengan orang-orang yang
slaing menguntungkan menjadikanmu lupa dan alpa pada banyaknya pelajaran hidup
di dunia ini.
Saat berada di rumah sakit, ketika
istrimu mendapatkan penyakit yang berat. Hatimu bertanya-tanya kenapa? Padahal
selama ini kau sudah merasa bahwa anak dan istrimu diberikan kecukupan hidup
yang lebih. Tapi masih bisa merasakan sakit yang berat. Sampai mengeluarkan
biaya dan tenaga banyak untuk mewujudkan kesembuhannya. Karena Tuhan itu Maha
Adil. Dia memberikan penyakit kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Mau dia kaya
atau miskin, semua mendapatkan penyakit sesuai sebab musababnya. Untuk apa kau
berpikir banyak ke sana? Kalau sudah berpikir pun, kenapa kau masih diam di
tempat, tidak berbuat hal yang merubah sikap dan caramu hidup terhadap diri
sendiri dan orang lain?
Sekarang kau mencoba untuk berubah
selepas menyadari bahwa kau semakin tua. Tubuhmu tidak lebih mesin yang sudah
seharusnya diistirahatkan Karena terlalu banyak dipakai sewaktu muda. Kau mulai
belajar untuk menghadapi pegawaimu dengan sikap yang ramah, mencoba terbuka
dalam masukan-masukan dari mereka. Kau mulai belajar memahami diri mereka. Dan
menjaga diri agar tidak terlalu berlebihan dalam bersikap ketika ada masalah di
kantormu. Bukan itu saja, kau mulai melakukan ibadah tepat waktu ketika di
rumah dan di kantor. Sampai bisikan seorang pegawai yang menganggapmu mungkin
akan pergi umroh atau pergi haji saat melihatmu sedang mendirikan salat. Karena
memang mereka tidak pernah melihatmu begitu.
Itulah hidup. Kau mulai terusik
dengan bisikan-bisikan ornag lain yang mulai melihat perubahan ke arah yang
baik. Ada semacam perang di hatimu. Malaikat dan Setan saling beradu pendapat
dan memberikans nasehat kecil. Beradu argument hingga membuat kekacauan di
kepala dan akhirnya kau pusing. Rupanya malaikat telah memenangkan debat kusir
itu, kau pun terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Berubah kepada yang lebih
baik, karena akhir adalah segalanya meski awalnya buruk. Berproses, katamu
dalam hati. Mulai berdamai dengan diri sendiri lantaran sebuah mimpi yang
mengusikmu sebelum ini. Mimpi yang sangat menyeramkan.(*)
Cikarang, 04-Juni-2017. (Rosi
Ochiemuh)
Komentar
Posting Komentar