Langsung ke konten utama

Cerpen Judul : MANTRA KAKI UBAK (Oleh : Rosi Ochiemuh)


Kaki Ubak di atas lumpur pematang sawah begitu gesit berjingkat, menginjit bahkan melompat. Tak peduli bajunya bernoda lumpur, tak perduli lintah dan parasit lainnya menempel di kaki hingga ke lutut. Hanya satu yang ada dipikirannya; sawahnya bisa ditanam padi dengan baik, meski kemarau panjang di tahun dua ribu lima belas.
            Bahkan Ubak lupa pemberitaan kebakaran lahan gambut yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Udara pagi berkabut asap yang tidak sejuk bisa tumbuh bibit penyakit asma, sakit tenggorokan dan sesak napas. Tapi Ubak selalu bersemangat untuk menanam bibit padinya hanya demi menikmati beras tanaman sendiri. Menjual beras dari hasil panen sendiri pun tak lantas menjadikan Ubak—petani kaya. Hanya mendapat harga yang minim. Hingga Umak sering mengeluh bagai kaleng yang tertabuh.
            “Lebih baik Ubak ikut Bang Juroh kerja di pabrik karet atau sawit. Jual sawah kita! Daripada menyawah, hanya cukup untuk makan saja,” keluh Umak.
            Anehnya, Ubak sama sekali tak berpengaruh dari keluhan Umak yang menurutku sedikit takabur. Seharusnya Umak bersyukur punya suami yang penyabar, penyayang dan bersemangat menggarap lahan warisan orangtuanya ketimbang mengeluh. Walau kenyataan kami masih menempati rumah panggung yang sudah ditelan zaman. Sejak Umak masih bayi sampai usiaku tujuh belas tahun, rumah itu masih ditempati. Bukti kasih Akas pada Umak sejak dulu dengan memberikan rumah kepada puteri satu-satunya.
            Ama-Ama—kakak Umak, telah hidup sukses dengan warisan Akas yang lain. Mereka sukses dari hasil lahan karetnya yang berhektar-hektar. Suksesnya mereka hingga membuat mereka bingung membelanjakan uangnya. Bukan cuma itu saja, mereka pun tidak sempat lagi menoleh pada kami barang sehari pun. Harta dan wanita sudah melupakan rasa persaudaraan. Yang ada ketika waktu yang diidamkan Umakku untuk bertemu dengan kakak-kakaknya ketika mereka membutuhkan tenaga untuk acara pesta kebahagiaan mereka saja.
            Umak akan berusaha mengunjungi mereka dengan angkutan umum yang berada di depan jalan raya daerah. Perjalanan dari rumah kami menuju ke jalan raya sungguh merana. Walau mengojek pada tetangga, tetap saja merana dan menyedihkan. Jalanan berkerikil tajam, kasar, berlubang-lubang dan berdebu. Di sampingnya semak belukar kering juga pohon-pohon tinggi besar. Duduk berloncat-loncatan di jok motor tukang ojek. Sesampai di depan jalan raya, belum sampai menaiki angkutan umum, badan kehabisan tenaga, pantat dan perut merasakan sakit.
            Jarak yang ditempuh ke rumah Amaku itu tidak begitu jauh. Hanya dari dusun ke dusun, tetap saja melewati jalan raya umum. Setelah sampai di rumah Ama, apa yang terjadi? Umak disambut seperti tukang yang sedari tadi diharapkan kedatangannya karena tenaganya. Begitulah Umak, melakukannya hanya karena ingin melihat pesta besar yang diadakan Ama-Amaku. Betapa gemilang, mewah dan gemerlapnya, hingga membuat nurani Umak tertutup. Apakah Umak masih merasakan rasa persaudaraan itu dari kakak-kakak kandungnya juga iparnya? Mereka petantang-petenteng seperti raja dan ratu sebagai tuan rumah, sedangkan Umak akan mengintip dari balik dapur masak acara itu, seperti bukan tamu atau pun sanak dari yang punya hajat.
            Aku terkadang sedih dengan Umak yang tidak mengerti dengan perlakukan Ama-Ama. Meski dia anak perempuan satu-satunya—dan bungsu, tetapi Ama-Amaku itu seperti tidak peduli lagi dengan kehidupan adik perempuan mereka. Beruntunglah jika Umak bertemu Ubak, beruntunglah jika Ubak menjadi suaminya. Ubak dengan segala kebijakan, keemasan dan kebagusan hati yang murni, selalu memahami Umak dengan kasih sayang juga pada kami. Ubak memang seorang lelaki yang hebat. Bukan karena dia bapak kandungku. Tetapi karena selama aku lahir hingga saat ini, belum pernah kumendapati Ubak mengeluh dengan pekerjaannya sebagai seorang petani. Hanya Umak yang selalu mengeluh dengan nasibnya yang tak bisa seberuntung kakak-kakaknya.
            Aku pernah mendengar cerita dari tetangga dan lelaki tua yang mengaku teman Akas. Bahwa Akasku itu seorang yang sangat terpandang. Begitu terpandangnya, hingga dia menjadi seorang tokoh masyarakat di dusun ini. Meski pada masa itu listrik belum menjamahi dusun, tetapi surau tempat akas sering berceramah dan salat berjamaah selalu ramai di datangi warga. Akasku sering berceramah tentang kisah para nabi dan rasul. Mulai dari Nabi Adam AS, sampai Nabi Muhammad. Saw. Betapa luasnya ilmu agama Akas pikirku saat itu.
            Hingga suatu hari, Ubak mengagumi Akas, sehingga hampir setiap Akas punya jadwal menjadi imam dan penceramah, Ubak selalu datang lebih awal dari warga penduduk aslinya. Tergugahlah Akas pada Ubakku itu. Wajahnya tidak tampan saat masih muda, tapi berpostur tinggi besar, berkulit kecokelatan dan ternyata Ubakku seorang anak petani dari dusun seberang. Lalu terjadilah perjodohan yang sakral. Umak dijodohkan pada Ubak sebelum Akas sakit parah. Akas meminta Ubak untuk menjaga Umak dengan baik-baik. Sementara surat warisan sudah dibagikan. Tiga orang Amaku itu mendapatkan tanah di dusun lain, masing-masing beserta rumahnya. Sedangkan Umak hanya mendapatkan sehektar sawah milik Ombay, dan rumah lama beserta isinya.
            Cerita yang sebenarnya tidak ingin didengar tentang asal-usul rumah tangga kedua orang tuaku. Tapi, kakek tua—teman Akas dulu di surau, selalu memintaku untuk menemaninya memancing sambil bercerita. Saat itu usiaku baru dua belas tahun. “Ubakmu pandai betul mengaji, salatnya rajin,” ucap lelaki tua itu. “Bukan itu saja, dia itu pandai menarik hati kami. Menghormati kami lebih dari anak-anak kami sendiri. Kerja kerasnya membuat akasmu itu terpesona dan simpati,” lanjutnya lagi. Hal yang mungkin dipikiranku sesuatu yang masih belum dimengerti oleh anak berusia dua belas tahun untuk mendengarkan cerita itu. Tetapi setelah aku duduk di bangku Tsanawiyah, barulah mengerti dan paham cerita kakek tua itu. Masa terjadinya rumah tangga orang tuaku sangat manis.
            Ubak selalu ceria saat pergi ke sawahnya pada pagi buta. Umak seperti biasa akan memasak di pagi buta untuk sarapan Ubak dan kami. Wajahnya selalu kudapati tiada senyum dan selalu ditekuk. Entah apa yang ada dalam hati Umak. Kenapa dia tidak segembira Ubak untuk menghadapi pagi? Aku hanyalah seorang anak yang harus patuh pada orangtua. Bahkan mungkin harus mengesampingkan isi hati mereka masing-masing berupa keluhan, walau hanya tergambar dari raut wajah mereka.
            Kedua adikku sudah siap untuk ke sekolah pagi ini. Mereka disekolahkan di Sekolah Dasar dekat surau karena sekolahnya gratis. Kerjaanku hanyalah mengurus keperluan adik-adik dan membantu pekerjaan Umak. Nasib memang tidak selalu baik. Usiaku yang ke tujuh belas ini masih belum bisa melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), masih menunggu dan mencari sekolah gratis di dusun ini. Biaya hidup yang semakin tinggi, pekerjaan Ubak yang hanya seorang petani, dan Umak—ibu rumah tangga biasa, sulit rasanya untuk bisa sekolah lagi.
            Matahari sedikit meninggi di bagian timur, burung-burung kecil berterbangan lalu hinggap di pepohonan randu, sukun, rambutan, dan bambu. Saat itu aku selesai membantu Umak mengurus keperluan kami dan rumah. Bermain ke rawa sebentar untuk memancing ikan-ikan kecil dan jika beruntung mendapatkan gabus kecil. Hanya dua puluh menit, akhirnya bosan. Pancingan terlihat kosong dengan umpan cacing yang masih menempel, tanda tak dapat ikan. Akhirnya aku meninggalkan rawa.
            Kebosanan itu memang seperti petualang. Setelah bosan memancing, lalu pergi ke sawah Ubak. Di sana mungkin tenagaku dibutuhkan olehnya. Bekal makanan dan minuman yang dibawa Ubak pagi buta, siapa tahu sekarang sudah habis. Aku bisa kembali ke rumah untuk mengambilnya dan bermain-main lagi. Sesampai di pematang sawah yang cokelat hitam dengan khas bau lumpur. Ubak ternyata sudah membajak sawahnya. Seperti biasa, aku selalu melihat Ubak seperti menari sambil mengucapkan mantra nyanyian untuk alam. Ubak membiarkan kakinya berlumpur, baju dan topi kerucutnya terciprat lumpur, dan tangannya berlumuran lumpur. Pemandangan yang eksotik.
            Ubak bilang alam itu bagian dari kita. Jangan memperlakukannya dengan semena-mena. Terpana aku dengan apa yang dilakukannya. Selesai dengan semua itu, Ubak mulai menanam bibit padi satu persatu dengan irama dan jarak yang sangat serasi, dari satu bibit ke bibit lain. Hingga setelah satu baris selesai, akan terlihat sesuatu yang indah dari petakan sawah yang berwarna cokelat hitam itu. Ubak melihatku dari kejauhan. Tak sadar bahwa sejak tadi aku diam memerhatikan.
            “Melan! Kemari!” teriak Ubak melambaikan tangannya.
            “Iya, Ubak! Melan akan ke situ membantu,” jawabku berteriak pula.
            Bergegas menuju padanya yang sedang menikmati ritual menanam bibit padi. Kulihat di gubuk, makanannya masih bersisa singkong rebus dan air dalam teko. Aku sedikit lega, karena bisa banyak waktu membantu Ubak.
            “Kau mau membantu Ubak lagi?” tanyanya dan aku mengangguk.“Tak takut kulit kuningmu menghitam?”
            “Tidak, Melan senang di sawah ini. Dari sinilah kita bisa makan dengan kenyang,” ucapku bersemangat.
            Bukan hanya Ubak yang bergumul di pematang sawah. Diri ini ikut bercengkrama pada benih padi, terik mentari dan burung-burung di atas yang terbang bebas. Andai saja Umak ikut ke sawah, pasti muncul rasa syukurnya pada Tuhan. Nasi yang dimakan berasal dari beras, beras sebutir berasal dari padi yang menguning dan kehidupan adalah proses. Mantra Ubak ketika menanam benih padi, adalah kesabaran, keuletan dan rasa syukurnya pada nikmat Tuhan. Kaki-kakinya yang berlumpur itu suatu hari akan menghantarkannya ke surga yang indah.
SEKIAN.
Cikarang, 05-April-2016. Penulis Oleh : Rosi Ochiemuh  
Catatan kaki :
Ubak = panggilan bapak dari Ogan Komering Ulu-Sumsel. Umak = panggilan ibu Ogan Komering Ulu-Sumsel. Akas = panggilan kakek Ogan Komering Ulu-Sumsel. Ombay = panggilan nenek Ogan Komering Ulu-Sumsel. Ama = panggilan paman/uwak laki-laki Ogan Komering Ulu-Sumsel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...