Kaki Ubak di atas lumpur pematang sawah begitu gesit berjingkat, menginjit bahkan melompat. Tak peduli bajunya bernoda lumpur, tak perduli lintah dan parasit lainnya menempel di kaki hingga ke lutut. Hanya satu yang ada dipikirannya; sawahnya bisa ditanam padi dengan baik, meski kemarau panjang di tahun dua ribu lima belas.
Bahkan Ubak lupa pemberitaan
kebakaran lahan gambut yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Udara pagi berkabut
asap yang tidak sejuk bisa tumbuh bibit penyakit asma, sakit tenggorokan dan
sesak napas. Tapi Ubak selalu bersemangat untuk menanam bibit padinya hanya demi
menikmati beras tanaman sendiri. Menjual beras dari hasil panen sendiri pun tak
lantas menjadikan Ubak—petani kaya. Hanya mendapat harga yang minim. Hingga Umak sering mengeluh bagai kaleng yang tertabuh.
“Lebih baik Ubak ikut Bang Juroh kerja
di pabrik karet atau sawit. Jual sawah kita! Daripada menyawah, hanya cukup untuk
makan saja,” keluh Umak.
Anehnya, Ubak sama sekali tak
berpengaruh dari keluhan Umak yang menurutku sedikit takabur. Seharusnya Umak bersyukur punya suami yang penyabar,
penyayang dan bersemangat menggarap lahan warisan orangtuanya ketimbang
mengeluh. Walau kenyataan kami masih menempati rumah panggung yang sudah ditelan
zaman. Sejak Umak masih bayi sampai usiaku tujuh belas tahun, rumah itu masih ditempati.
Bukti kasih Akas pada Umak sejak dulu
dengan memberikan rumah kepada puteri satu-satunya.
Ama-Ama—kakak
Umak, telah hidup sukses dengan warisan Akas yang lain. Mereka sukses dari hasil
lahan karetnya yang berhektar-hektar. Suksesnya mereka hingga membuat mereka
bingung membelanjakan uangnya. Bukan cuma itu saja, mereka pun tidak sempat
lagi menoleh pada kami barang sehari pun. Harta dan wanita sudah melupakan rasa
persaudaraan. Yang ada ketika waktu yang diidamkan Umakku untuk bertemu dengan kakak-kakaknya
ketika mereka membutuhkan tenaga untuk acara pesta kebahagiaan mereka saja.
Umak akan berusaha mengunjungi mereka
dengan angkutan umum yang berada di depan jalan raya daerah. Perjalanan dari rumah
kami menuju ke jalan raya sungguh merana. Walau mengojek pada tetangga, tetap
saja merana dan menyedihkan. Jalanan berkerikil tajam, kasar,
berlubang-lubang dan berdebu. Di sampingnya semak belukar kering juga
pohon-pohon tinggi besar. Duduk berloncat-loncatan di jok motor tukang ojek.
Sesampai di depan jalan raya, belum sampai menaiki angkutan umum, badan kehabisan
tenaga, pantat dan perut merasakan sakit.
Jarak yang ditempuh ke rumah Amaku
itu tidak begitu jauh. Hanya dari dusun ke dusun, tetap saja melewati jalan
raya umum. Setelah sampai di rumah Ama, apa yang terjadi? Umak disambut seperti
tukang yang sedari tadi diharapkan kedatangannya karena tenaganya. Begitulah Umak,
melakukannya hanya karena ingin melihat pesta besar yang diadakan Ama-Amaku.
Betapa gemilang, mewah dan gemerlapnya, hingga membuat nurani Umak tertutup.
Apakah Umak masih merasakan rasa persaudaraan itu dari kakak-kakak kandungnya
juga iparnya? Mereka petantang-petenteng
seperti raja dan ratu sebagai tuan rumah, sedangkan Umak akan mengintip dari
balik dapur masak acara itu, seperti bukan tamu atau pun sanak dari yang punya
hajat.
Aku terkadang sedih dengan Umak yang
tidak mengerti dengan perlakukan Ama-Ama. Meski dia anak perempuan
satu-satunya—dan bungsu, tetapi Ama-Amaku itu seperti tidak peduli lagi dengan
kehidupan adik perempuan mereka. Beruntunglah jika Umak bertemu Ubak,
beruntunglah jika Ubak menjadi suaminya. Ubak dengan segala kebijakan, keemasan
dan kebagusan hati yang murni, selalu memahami Umak dengan kasih sayang juga
pada kami. Ubak memang seorang lelaki yang hebat. Bukan karena dia bapak
kandungku. Tetapi karena selama aku lahir hingga saat ini, belum pernah
kumendapati Ubak mengeluh dengan pekerjaannya sebagai seorang petani. Hanya Umak
yang selalu mengeluh dengan nasibnya yang tak bisa seberuntung kakak-kakaknya.
Aku pernah mendengar cerita dari
tetangga dan lelaki tua yang mengaku teman Akas. Bahwa Akasku itu seorang yang
sangat terpandang. Begitu terpandangnya, hingga dia menjadi seorang tokoh
masyarakat di dusun ini. Meski pada masa itu listrik belum menjamahi dusun,
tetapi surau tempat akas sering
berceramah dan salat berjamaah selalu ramai di datangi warga. Akasku sering
berceramah tentang kisah para nabi dan rasul. Mulai dari Nabi Adam AS, sampai
Nabi Muhammad. Saw. Betapa luasnya ilmu agama Akas pikirku saat itu.
Hingga suatu hari, Ubak mengagumi
Akas, sehingga hampir setiap Akas punya jadwal menjadi imam dan penceramah, Ubak
selalu datang lebih awal dari warga penduduk aslinya. Tergugahlah Akas pada Ubakku
itu. Wajahnya tidak tampan saat masih muda, tapi berpostur tinggi besar,
berkulit kecokelatan dan ternyata Ubakku seorang anak petani dari dusun
seberang. Lalu terjadilah perjodohan yang sakral.
Umak dijodohkan pada Ubak sebelum Akas sakit parah. Akas meminta Ubak untuk
menjaga Umak dengan baik-baik. Sementara surat warisan sudah dibagikan. Tiga orang
Amaku itu mendapatkan tanah di dusun lain, masing-masing beserta rumahnya.
Sedangkan Umak hanya mendapatkan sehektar sawah milik Ombay, dan rumah lama beserta isinya.
Cerita yang sebenarnya tidak ingin
didengar tentang asal-usul rumah tangga kedua orang tuaku. Tapi, kakek
tua—teman Akas dulu di surau, selalu memintaku untuk menemaninya memancing sambil
bercerita. Saat itu usiaku baru dua belas tahun. “Ubakmu pandai betul mengaji,
salatnya rajin,” ucap lelaki tua itu. “Bukan itu saja, dia itu
pandai menarik hati kami. Menghormati kami lebih dari anak-anak kami sendiri.
Kerja kerasnya membuat akasmu itu terpesona dan simpati,” lanjutnya lagi. Hal
yang mungkin dipikiranku sesuatu yang masih belum dimengerti oleh anak berusia
dua belas tahun untuk mendengarkan cerita itu. Tetapi setelah aku duduk di
bangku Tsanawiyah, barulah mengerti
dan paham cerita kakek tua itu. Masa terjadinya rumah tangga orang tuaku sangat
manis.
Ubak selalu ceria saat pergi ke sawahnya
pada pagi buta. Umak seperti biasa akan memasak di pagi buta untuk sarapan Ubak
dan kami. Wajahnya selalu kudapati tiada senyum dan selalu ditekuk. Entah apa
yang ada dalam hati Umak. Kenapa dia tidak segembira Ubak untuk menghadapi
pagi? Aku hanyalah seorang anak yang harus patuh pada orangtua. Bahkan mungkin
harus mengesampingkan isi hati mereka masing-masing berupa keluhan, walau
hanya tergambar dari raut wajah mereka.
Kedua adikku sudah siap untuk ke
sekolah pagi ini. Mereka disekolahkan di Sekolah Dasar dekat surau karena sekolahnya
gratis. Kerjaanku hanyalah mengurus keperluan adik-adik dan membantu pekerjaan Umak.
Nasib memang tidak selalu baik. Usiaku yang ke tujuh belas ini masih belum bisa
melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), masih menunggu dan mencari
sekolah gratis di dusun ini. Biaya hidup yang semakin tinggi, pekerjaan Ubak
yang hanya seorang petani, dan Umak—ibu rumah tangga biasa, sulit rasanya untuk
bisa sekolah lagi.
Matahari sedikit meninggi di bagian
timur, burung-burung kecil berterbangan lalu hinggap di pepohonan randu, sukun,
rambutan, dan bambu. Saat itu aku selesai membantu Umak mengurus keperluan kami
dan rumah. Bermain ke rawa sebentar untuk memancing ikan-ikan kecil dan jika
beruntung mendapatkan gabus kecil. Hanya dua puluh menit, akhirnya bosan. Pancingan
terlihat kosong dengan umpan cacing yang masih menempel, tanda tak dapat ikan.
Akhirnya aku meninggalkan rawa.
Kebosanan itu memang seperti
petualang. Setelah bosan memancing, lalu pergi ke sawah Ubak. Di sana mungkin
tenagaku dibutuhkan olehnya. Bekal makanan dan minuman yang dibawa Ubak pagi
buta, siapa tahu sekarang sudah habis. Aku bisa kembali ke rumah untuk
mengambilnya dan bermain-main lagi. Sesampai di pematang sawah yang cokelat
hitam dengan khas bau lumpur. Ubak ternyata sudah membajak sawahnya. Seperti
biasa, aku selalu melihat Ubak seperti menari sambil mengucapkan mantra nyanyian
untuk alam. Ubak membiarkan kakinya berlumpur, baju dan topi kerucutnya
terciprat lumpur, dan tangannya berlumuran lumpur. Pemandangan yang eksotik.
Ubak bilang alam itu bagian dari
kita. Jangan memperlakukannya dengan semena-mena. Terpana aku dengan apa yang
dilakukannya. Selesai dengan semua itu, Ubak mulai menanam bibit padi satu
persatu dengan irama dan jarak yang sangat serasi, dari satu bibit ke bibit
lain. Hingga setelah satu baris selesai, akan terlihat sesuatu yang indah dari
petakan sawah yang berwarna cokelat hitam itu. Ubak melihatku dari kejauhan. Tak
sadar bahwa sejak tadi aku diam memerhatikan.
“Melan! Kemari!” teriak Ubak
melambaikan tangannya.
“Iya, Ubak! Melan akan ke situ
membantu,” jawabku berteriak pula.
Bergegas menuju padanya yang sedang
menikmati ritual menanam bibit padi. Kulihat di gubuk, makanannya masih bersisa
singkong rebus dan air dalam teko. Aku sedikit lega, karena bisa banyak waktu membantu
Ubak.
“Kau mau membantu Ubak lagi?”
tanyanya dan aku mengangguk.“Tak takut kulit kuningmu menghitam?”
“Tidak, Melan senang di sawah ini.
Dari sinilah kita bisa makan dengan kenyang,” ucapku bersemangat.
Bukan hanya Ubak yang bergumul di
pematang sawah. Diri ini ikut bercengkrama pada benih padi, terik mentari dan
burung-burung di atas yang terbang bebas. Andai saja Umak ikut ke sawah, pasti
muncul rasa syukurnya pada Tuhan. Nasi yang dimakan berasal dari beras, beras
sebutir berasal dari padi yang menguning dan kehidupan adalah proses. Mantra Ubak
ketika menanam benih padi, adalah kesabaran, keuletan dan rasa syukurnya pada nikmat
Tuhan. Kaki-kakinya yang berlumpur itu suatu hari akan menghantarkannya ke
surga yang indah.
SEKIAN.
Cikarang, 05-April-2016. Penulis Oleh : Rosi Ochiemuh
Catatan
kaki :
Ubak
= panggilan bapak dari Ogan Komering Ulu-Sumsel. Umak = panggilan ibu Ogan Komering Ulu-Sumsel. Akas = panggilan kakek Ogan Komering Ulu-Sumsel. Ombay = panggilan nenek Ogan Komering
Ulu-Sumsel. Ama = panggilan paman/uwak laki-laki Ogan Komering Ulu-Sumsel.

Komentar
Posting Komentar