Langsung ke konten utama

Oase Mudik Lebaran …


"Exchange, Publisihing Your Idea"


Tahun 2015 lebaran Idul fitri ini begitu berbeda. Karena sejak kemarin ingin sekali rasanya mudik lebaran bersama suami dan anak pertama kami. Tahun 2014 kemarin saya tidak pulang ke kampung halaman mak dan bapak. Karena yang punya kampung itu cuma saya. Suami, dia lahir di kota Bekasi ini meski masih keturunan Solo dan Cianjur.


Perkiraan liburan dari jauh hari diperkirakan. Apakah liburan lebaran itu panjang atau seperti tahun kemarin, sedikit sekali. Ternyata perkiraan liburan itu telah ditentukan oleh bos kami tiga bulan sebelumnya. Libur dari tanggal 16 Juli sampai 26 Juli. Kalau dihitung-hitung banyak sekali liburan itu, 11 hari. Ditambah saya masih punya cadangan hari cuti yang masih beberapa hari. Setelah berembuk dengan suami, akhirnya tahun ini kami akan lebaran di kota kelahiranku, Palembang.


Transportasi untuk menuju kota Palembang sejak dulu menggunakan Bis antarkota. Bis Laju Prima namanya. Kalau pesawat, jujur saya belum pernah menaikinya. Padahal harga tiket pesawat dari Jakarta ke Palembang itu hampir sama dengan harga Bis antarkota saat menjelang lebaran Id, apalagi dipesan dua bulan atau sebulan sebelum lebaran tiba. Nah, itulah kelemahan saya. Malasnya untuk mencari informasi tentang tiket pesawat dari Jakarta ke Palembang. Belum lagi yang saya dengar dari saudara yang pernah naik pesawat karena keperluan darurat, harga tiketnya lumayan mahal dari harga Bis antarkota. Dan tidak boleh membawa barang bawaan melebihi kapasitas lima kilogram. Terbayang, ketika ingin membawakan oleh-oleh untuk keluarga dari Bekasi, pastinya tidak bisa bawa banyak. Apalagi saya bawa anak kecil yang masih balita, masih menyusu di botol. Jarak dari Cibitung tempat tinggal ke Bandara Soekarno Hatta, lumayan jauhnya, dan harus tepat waktu sampai ke Bandaranya. Jadilah kami memilih mudik lebaran menggunakan angkutan
Bis antarkota AC Laju Prima yang sudah biasa kami naiki.


Tiket telah dipesan seminggu sebelum puasa dengan DP terlebih dahulu. Saya pun belum tahu berapa harga tiket per-orangnya, karena adminitrasi loket Bi situ belum dapat harga terbaru tiket lebaran tahun 2015 ini. Pelunasan dibayar hari keberangkatan, dan ternyata harga tiket dua kali lipat dari normal perorangnya.  Ketika waktu menjelang berangkat Bisnya agak terlambat dari jadwal pemberangkatan. Di tiket jadwal pemberangkatannya jam 12.00 WIB, tetapi datang Bisnya jam 15.00 WIB. Lumayan lama menunggu. Dan akhirnya saya, suami dan anak berangkat juga ke Palembang.


Perjalanan yang ini akan sangat panjang. Bis antarkota dengan facilitas AC, toilet dan room smooking, ditambah dengan music dan dua PC layar datar menambah kenikmatan penumpang yang duduk di dalam. Lalu Bis berhenti di Grogol, mengambil penumpang terakhir, kemudian berjalan lagi melewati tol Jakarta. Bis antarkota kemudian menuju ke Pelabuhan Merak, di Banten. Saya pikir, saat itu akan macet ketika mengantri naik ke kapal lautnya. Ternyata tidak, Bis langsung masuk ke dalam kapal bersama dengan kendaraan berat lainnya. Kapal laut yang bermuatan besar dan terlihat gagah itu. Di sana kami naik ke lantai atas dalam kapal, karena memang sudah tidak boleh lagi berdiam di dalam Bis ketika masuk ke kapal. Seperti biasa menaiki anak tangga ke lantai atas harus hati-hati dikarenakan tangga yang dinaiki itu berukuran satu orang saja, dan harus bergantian, tidak saling mendorong. Suami saya menggendong Salsabila, sedang saya membawa dua tas kecil. Tas bekal makanan dan susu anak saya.


Suasana lantai tiga dalam kapal sangat ramai. Ada empat lantai dengan setiap lantainya ada fasilitas untuk para penumpang. Mulai dari toilet wanita dan pria, warung kecil dengan berbagai bangku dan kursi berjejer rapi seperti kafe, ada juga kelas VIP dengan full musik dan penyanyi karaoke. Tetapi semua fasilitas itu harus membayar. Kebanyakan penumpang yang menyeberang menuju ke kota Palembang dan Jambi. Angin laut yang begitu kencang membuat hampir semua penumpang tertidur, tetapi kami tidak. Hanya anak kami saja yang tertidur pulas. Kalau masalah jajanan di dalam kapal, jangan kaget jika Anda ingin membeli makanan apapun di sana. Harganya bisa dua sampai tiga kali lipat dari harga normal. Yah! Karena mereka pun kena pajak sewa, dan juga pembelian barang-barang yang dikonsumsi langka. Maka, jika pulang ke Sumatera naik Bis antarkota, perlu bawa bekal makanan instan, air mineral dan makanan ringan agar tidak banyak membeli jajanan di dalam kapal, karena di sana harganya dua sampai tiga kali lipat.


Setelah hampir dua jam setengah, akhirnya kapal sudah menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni-Lampung. Dan perjalanan Bis antarkota berlanjut lagi. Agak repot memang naik Bis AC antarkota saat pulang ke Sumatera. Melewati jalan lintas timur Sumatera yang sudah biasa dilewati, yang dikenal. Tetapi ketika melewati jalanan itu, kami dihamparkan berbagai pemandangan unik, khas Lampung dan perbatasan Sumatera Selatan. Jalanannya yang sangat mendebarkan (masih ada jalanan yang belum dibenahi, berlubang dan terjal dengan kanan kiri perkebunan kelapa sawit, pepohonan karet, dan kebun-kebun tidak bertuan). Disaat itulah Anda bisa menikmati makanan atau minuman ringan, atau juga menikmati pemandangan di jendela kaca, jika punya kamera yang digital bisa mengabadikannya. Kami duduk di bangku depan, jadi pemandangan luas itu bisa terlihat jelas. Sayangnya kamera dari handpone kami tidak canggih, jadinya belum bisa mengambil gambar yang menarik. Jika Anda bosan, lebih baik tidur saja. Tetapi bagi saya dan suami, sangat sayang dilewati meski hari saat menyeberang itu sudah akan gelap. Namun saat menjelang subuh, kami sudah hampir berada di perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan, di sana pemandangan pinggir jalan dengan khas rumah-rumah penduduknya begitu menarik dan unik.


Bis antarkota yang kami naiki mengalami pemberhentian selama tiga kali selama perjalanan, dari pelabuhan Bakauheni hingga menuju kota Palembang. Pemberhentian selama tiga puluh menit bahkan bisa satu jam untuk istirahat. Seringnya di rumah makan atau restoran yang besar. Dan untuk Bis antarkota Laju Prima sendiri, sudah ada rumah makan dan restoran langganan mereka. Gunanya untuk menghemat pengeluaran supir dan kernet Bis. Di rumah-rumah makan, restoran dan pemberhentian Bis, terdapat berbagai fasilitas di dalamnya yang sudah tersedia. Mulai dari warung bakso, warung jajanan makanan dan minuman ringan, rumah makan padang, musola, toilet pria dan wanita. Lalu setelah diberikan waktu Bis untuk istirahat selama setengah sampai satu jam, lalu panggilan pemberitahuan pada penumpang jurusan Bis tersebut untuk melanjutkan kembali perjalanan, sesuai dengan masing-masing Bis yang dinaiki.


Menjelang pagi, bis masih berjalan dengan lancar setelah satu kali istirtahat di rumah makan. Pemandangan pinggir jalan memasuki perbatasan Lampung-Sumatera, dihamparkan dengan perkebunan sawit yang luas, lalu persawahan, perkebunan karet dan pepohonan liar. Bis akhirnya memasuki daerah Sumatera Selatan di pinggiran itu terdapat banyak rumah-rumah penduduknya yang khas Sumatera bagian Selatan. Yakni, rumah panggung yang terbuat dari kayu, dengan eksyen menarik dan unik. Unik, karena dimodifikasi oleh penghuni rumah dengan ciri khas masing-masing.


Saya dan suami akhirnya mengantuk juga, dan tertidur. Saat terbangun dari tidur, rupanya Bis sudah masuk ke kota Palembang. Tertulis di sebuah tugu pinggir jalan diatasnya, “Selamat datang di kotamadya Palembang”. Sebentar lagi kami pun akan sampai, tidak terlalu jauh dari kediaman rumah saya yang bertempat tinggal di Kelurahan Kertapati, berhadapan dengan Stasiun Kereta Api Kertapati-Palembang. Dimana banyak juga orang-orang Palembang yang transit ke Lampung menggunakan kereta api jurusan Palembang-Lampung, dan menyambung ke Pelabuhan Bakauheni jika ingin ke Jakarta.


Sampailah di kediaman saya, Kertapati-Palembang. Kawasan yang juga padat penduduknya. Di Kertapati. Di wilayah saya ini sangat strategis. Rumah saya berdampingan dengan pasar Kertapati dan Suanga Musi. Pasar itu sudah sangat lama ada dan mendekati hulu sungai Musi. Sekarang pasar itu sangat bersih dan rapi, tidak becek jika hujan turun, tidak banjir dan pasar itu pusat perekonomian warga Kertapati.

Lalu menuju rumah saya, yang sangat unik. Unik karena rapat-rapat dan semua rumah menggunakan atap seng. Rumah PJKA atau dibilang rumah Bedeng. Sekarang rumah saya yang kecil dan imut itu sudah ditingkat. Kami menyebutnya loteng, karena rumah di bedeng miskin tanah/lahan kosong apalagi halaman rumah. Jadilah rumah itu dibuat dua tingkat. Alhamdulillah air bersih di sana lancar, dan tidak kekurangan air karena telah memakai PAM dari tirta Musi. PAM Tirta Musi itu tempatnya pun tidak jauh dari rumah saya. 

Saat menyapa kedua orang tua saya, rasa bahagia terpancar dari wajah mak dan bapak. Raut wajah yang mulai termakan senja dan penuh pengharapan. Begitu gembiranya saat saya sampai bersama suami dan anak. Cucu pertama mereka yang sudah lama dinantikan hadir di rumah mereka. Kami menginap agak lama, selama lebih dari sepuluh hari. Rasanya sudah cukup puas untuk bercengkrama dengan keluarga saya. Walaupun saya merasa waktu yang diberikan seperti itu kurang, sangat kurang.


Hari Raya Idul Fitri pun telah datang, gema takbir begitu terdengar keras dari speker dua tempat ibadah yang mengapit rumah kami. Masjid dan Musola. Keduanya mengapit rumah warga, hingga setiap azan lima kali sehari pun terdengar jelas. Hari Raya Idul Fitri 1436 H, tahun 2015 kami merayakan kemanangannya di Kertapati Palembang. Tempat kelahiran saya, tempat berbagai kenangan. Salsabila anak saya selalu bercengkrama dengan mak dan bapak saya yang di panggil Ombay dan Abah. Solat Id dilakukan di lapangan sekolah, tempat saya menimba Ilmu sewaktu SMP dan SMU. Gedungnya sudah lebih mewah dan lapangan yang semakin luas. Banyak kenangan di sekolah itu. Solat Id dilakukan dengan khidmat. Alhamdulillah lebaran tahun ini bisa solat Id dengan keluarga kecil dan keluarga besar saya.


Pertama kali halal bi halal pada mak, bapak, adik-adik dan suami di rumah. Kemudian halal bi halal di lingkungan tempat tinggal kami. Meski permukiman tempat tinggal kami kecil dan terlihat sempit, tetapi silaturahminya jangan ditanya, begitu antusiasnya saat halal bi halal di tiap rumah. Ramai, menyenangkan dan ceria. Tidak ada satupun yang terlewat setiap rumah. Saat halal bi halal itu, anak saya pun dapat salam tempel (angpao/uang THR), Alhamdulillah ada para tetangga mak dan bapak yang memberinya. Lalu pergi ke rumah saudara-saudara mak dan bapak. Ada saudara dari bapak yang tinggal di  10 ulu, tepatnya di bawah samping Jembatan Ampera. Seharian itu digunakan untuk silaturahmi, dan setiap rumah yang kamu datangi selalu ada makanan favorit lebaran; pempek, tekwan, rendang, opor ayam, lontong kuah kari, burgo, laksan, kue maksuba, kue lapis, dan kue lapan jam. Makanan-makanan itu jarang kami temukan di Bekasi atau Jakarta. Karena Khas Palembang. Meriahnya lebaran dengan silaturahmi dan kuliner yang menggoda khas Pelambang yang tiada duanya. Hingga bisa membuat berat badan naik drastis.


Hari kedua, dan ketiga, masih ramai silaturahmi. Tamu-tamu datang tiada henti ke rumah orangtu saya. Mulai dari tamunya bapak, mak dan dua adik-adik saya. Jadilah hari itu semua makanan dikeluarkan termasuk minuman ringan. Hari keempat, kami pergi ke International Plaza Palembang. Saat menuju ke sana, kami mengendarai sepeda motor melewati jalanan ke ulu dan melewati jambatan Ampera. Karena Jarak antara Kertapati dan Jembatan Ampera itu tidak terlalu jauh, dan memang akses ke kota Palembang semua harus melewati Jembatan Ampera. Dari kediaman rumah saya itu bisa menuju ke daerah Jakabaring, Plaju dengan satu arah saja. Jakabaring, dimana pernah menjadi tempat pelaksanaan Sea Games di Palembang. Stadion olahraganya dan sekarang tempat yang dulu kosong penuh rawa dan seram itu kini banyak juga berdiri perumahan milik pemerintah.


Di International Plaza (IP), mall tua. Mall pertama yang ada di kota Palembang. Di sana juga tempat kerja bapak saya dibagian bioskop. Bapak saya sudah bekerja saat International Plaza (IP) itu dibangun tahun 1991, dan diresmikan tahun 1992, lalu bapak dipercayakan untuk bekerja menjadi teknisi AC, layar bioskop dan bagian listrik di lantai paling atas bagian gedung bioskop, dan masih bekerja sampai saat ini. Kami mengajak keluarga ke International Plaza untuk menonton film di bioskop. Pergi ke permainan anak-anak untuk menyenangakan anak saya dan sepupunya, lalu menonton film di bioskopnya. Di Bekasi dan Jakarta, nonton ke bioskop tidak gratis. Tetapi di tempat kerja bapak saya hari itu digratiskan khusus untuk keluarga dengan persetujuan bosnya, karena masih masa halal bi halal lebaran.


Setelah pulang dari menunton bioskop di IP, kami pulang setelah magrib selesai. Lalu adik saya mengajak untuk jalan-jalan lagi melihat BKB (Benteng Kuto Besak) yang terletak di bawah Jembatan Ampera, pinggiran sungai Musi. Kami tiba saat cahaya di langit telah hilang. Dan rupanya di sana bukan BKB nya yang ramai. Tetapi depan BKB, persis di bawah hamparan Jembatan Ampera yang indah dengan hiasan warna-warni lampunya. Keren, menurut saya. Pemprov Palembang sudah memoles Jembatan Ampera dan di bawah jembatannya dengan elok, indah, layak untuk jadi pariwisata.


Di pelataran depan BKB itu, seperti pasar malam yang ramai. Dengan banyaknya ornament lampu-lampu hias. Lalu para pedagang yang menghamparkan dagangannya. Sepeti pakaian, jajanan kuliner dan yang paling Salsabila suka, yakni; banyaknya wahana mainan anak-anak yang menarik. Mulai dari mobil-mobilan, becak lampu hias, motor hias, sepeda yang semua di jalankan dengan remot. Lalu ada odong-odong juga, berlampu warna-warni, juga mobil hias yang dikendarain sendiri tetapi memakai waktu. Karena masih pasca lebaran idul fitri, maka harga-harganya pun lumayan mahal menurut saya. Odong-odong yang biasa dinaiki anak saya setiap hari sekali main, dua ribu rupiah, di sana harganya tujuh ribu rupiah. Tetapi demi membuat si kecil senang, kami menuruti kemauannya dengan permainan-permainan yang mudah dimainkannya. Setelah puas selama satu jam di sana sambil foto-foto (sayangnya, tidak dapat gambar jelas Jembatan Ampera malam itu), barulah kami pulang. Lalu hari-hari berikutnya kami mulai berburu oleh-oleh untuk di bawa pulang ke Bekasi.


Berburu oleh-oleh di Palembang. Yakni empek-empek (pempek), Kemplang, Krupuk dan lainnya. Kalau ingin membeli buah tangan kuliner pempek dan kerupuk di Palembang, Anda bisa datang ke pasar Cinde, atau juga ke pasar 26 hilir. Di sana tersedia berbagai kios kuliner berbagai jenis pempek dan kerupuk yang asli terbuat dari ikan gabus dan tenggiri. Ada juga yang terbuat dari ikan laut, tinggal pilih saja yang mana kiosnya. Karena semuanya berjejer rapi dan menawarkan yang terbaik.


Menikmati lebaran di rumah sendiri itu memang menyenangkan. Apalagi bersama orangtua dan saudara-saudara, seperti oase yang sudah lama saya rindukan. Ada semangat baru lahir kembali dalam jiwa saya. Saat bercengkrama dengan mereka, orang-orang t erkasih, tercinta yang terpisah oleh jarak dan waktu. Saya perantau yang merantau ke luar kota meninggalkan kota kelahiran, meninggalkan rumah sebenarnya, meninggalkan kenangan, meninggalkan peraduan yang indah, meski orang bilang keadaan saya saat itu begitu sulit. Tetapi, itulah konsekuensinya ketika memilih untuk pergi merantau mencari penghidupan yang lain, jatidiri dan kemandirian.


Apalagi melihat wajah kedua orang tua saya yang begitu bahagia melihat cucu pertama mereka hadir. Mereka bisa bercengkrama, bersanda gurau dan melihat berbagai tingkah lucu dari Salsabila—cucu pertama mereka. Hari-hari sepi mereka terobati karena Salsabila. Hari-hari mereka yang selalu sibuk karena aktifitas yang rutin pun terobati karena gelak tawa, celoteh dan keceriaan Saalsabila. Adik perempuan saya yang dipanggil tante dan adik laki-laki saya yang dipanggil oom, begitu senangnya dengan kehadiran Salsabila. Hingga mereka ingin kami tinggal lebih lama lagi. Menikmati kebersamaan yang sangat erat, kebersamaan yang sejak dulu diidam-idamkan. Bahagia itu tidak mahal, tidak sulit dan mungkin berada di hari-hari  yang biasa kita lewati. Namun kita tidak pernah sadar akan itu. Dan itulah yang saya rasakan dari berlebaran Idul fitri di kota kelahiran saya.


Oh … Palembang, Kertapati, Sungai Musi. Itu semua berdekatan dengan kehidupan saya sejak kecil. Ingin tinggal berlama-lama di sana, tetapi tidaklah mungkin. Karena kami harus menghadapi aktifitas seperti biasa, di sana. Ya, di sanalah tempat tinggal saya bersama suami. Kesejukan telah mengalir di jiwa dan raga saya setelah mudik. Semangat baru lahir dari jiwa dan raga ini untuk menapaki hari-hari dan kehidupan baru setelah menengok orangtua dan saudara-saudara saya di Palembang. Suami pun merasakan kesenangan yang sama. Pada akhirnya kita akan kembali ke asal dimana kita dilahirkan dan diciptakan, dan itulah fitrahnya manusia.


The End. ( Bekasi, 30-Juli-2015), Rosi Ochiemuh


"Exchange, Publisihing Your Idea"















Komentar

Postingan populer dari blog ini

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...